Tampilkan postingan dengan label komentar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komentar. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Desember 2010

Dongeng dari Sang Pengabar Alam Rahim

Wita Lestari, Jurnal Nasional

INGATKAH Anda ketika berada dalam Alam Rahim? Menurut sebuah keyakinan, sebelum beralih ke Alam Dunia (Alam Fana), setiap manusia berada di Alam Ruh dulu, lalu pindah ke Alam Rahim. Sekeluar dari Alam Rahim, manusia hidup di Alam Dunia sampai tiba waktunya pindah ke Alam Kubur, dan akhirnya ke Alam Akhirat. Tidak seperti ketika manusia berada dalam Alam Dunia dan mungkin alam-alam setelahnya, alam sebelum Alam Dunia tidak kita ingat lagi. Meski saat di Alam Rahim sekitar sembilan bulan kita pernah hidup di dalamnya. Nah, buku ini berisi cerita--atau sang penulis menyebutnya dengan dongeng--tentang apa yang dialami seseorang selama dia hidup di Alam Rahim.


Intinya, buku ini mengisahkan tentang proses kejadian manusia. Mulai dari bertemunya sel benih ibu (sel telur) dengan sel benih ayah (sperma), lalu terjadi pembuahan yang membentuk embrio. Embrio pun mempunyai tahap perkembangan. Mulai dari penyatuan sel benih ayah-ibu menjadi satu sel, lalu satu sel ini membelah menjadi dua, dari dua lalu menjadi empat, empat menjadi delapan, delapan menjadi 16, dari 16 sel menjadi 32 sel, dan seterusnya melipatgandakan diri menjadi multisel tak terhingga yang merupakan bahan pembentukan seorang individu. Orang sering menyebut tahapan tersebut di atas dengan tahap gumpalan.


Dalam istilah ilmiahnya, tahapan gumpalan tersebut dimulai dengan tahap morula (sel-sel berbentuk seperti anggur), lalu berbentuk bola yang disebut blastosis. Dari bentuk bola ini ia akan memipih membentuk lempengan. Dari lempengan ini kemudian dengan suatu mekanisme ia akan melengkung membentuk bulatan panjang (tabung). Setelah tahap ini di sepanjang tabung ini akan terbentuk segala bakal (tunas) yang berupa tonjolan. Ada bakal kepala, bakal tangan, bakal tungkai, bakal alat kelamin, dan sebagainya.


Segala bakal organ tersebut kemudian terus berkembang dan mengalami pematangan menjadi organ-organ permanen sebagaimana yang lazim kita lihat pada manusia sempurna, yakni kepala, mata, mulut, tangan, kaki, alat kelamin, dan seterusnya. Bila masa pematangan organ-organ telah tercapai, maka terbentuklah calon bayi yang pada waktunya akan dilahirkan dari Alam Rahim seorang ibu. Kapan ruh dimasukkan pada calon bayi? Apa saja pengalaman-pengalaman yang dialami oleh seorang individu selama dalam Alam Rahim?


Segala proses yang sudah tidak kita ingat lagi itu setelah kita hadir di Alam Dunia, diceritakan dalam buku ini dengan cara mendongeng. Penulisnya sengaja memakai teknik penceritaan tersebut. Sebuah pendekatan yang cerdik, mengingat penjelasan proses kejadian seorang individu secara ilmiah sangatlah rumit. Belum lagi istilah-istilah medis dan biologis yang bagi kaum awam sangat alot untuk dicerna. Pendekatan seperti ini sebelumnya saya temukan pada novel filsafat Dunia Sophie yang ditulis oleh Jostein Gaarder (diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Mizan tahun 1996 dan tahun 2010 kini dicetak ulang). Materi filsafat yang berat dan rumit menjadi cair hingga mudah diserap dan dicerna dalam Dunia Sophie. Hal yang sama terasakan dari membaca buku Rahim ini. Terutama saat kita membaca bagian-bagian yang bersifat filosofis seperti untuk apa seorang bayi dilahirkan (pertemuan calon bayi dengan Mahavatara, utusan Raja Semesta, hlm. 215), apa tujuan hidup kita di Alam Dunia (pertemuan calon bayi dengan Nenek Olav, hlm. 268) peran ibu (hlm. 179-202) dan ayah (hlm. 245-258), mengapa aborsi mesti ditolak (hlm. 227-242), apa tugas manusia setelah dilahirkan (hlm. 277-287).


Dengan teknik mendongeng, pembaca bisa mengikuti rangkaian proses alam kejadian manusia yang rumit itu dengan mudah. Tengok saja kala penulis ingin mengisahkan tentang proses ngidam pada seorang ibu hamil. ... apa yang terjadi padamu saat kau baru berusia enam minggu dalam kandungan Ibumu. Setelah blastocyst (blastosis-Red) tertanam di lapisan rahim Ibumu, embrio mulai menghasilkan zat-zat kimia yang memiliki dua fungsi. Pertama, memberi sinyal pada tubuh Ibumu bahwa embrio tersebut telah hadir dan ini memicu perubahan-perubahan dalam tubuh ibu: siklus ovulasi Ibumu berhenti (ini saat Ibumu tak lagi mengalami menstruasi. Kau mengerti, kan?), lendir pada mulut rahim Ibumu menebal (ini biasanya ditandai dengan rasa mual di pagi atau sore hari), dinding rahim melunak dan payudara Ibumu membesar. Kedua, sistem kekebalan tubuh Ibumu ditekan sehingga embriomu tidak diperlakukan sebagai benda asing dan ditolak.


Inilah fase saat kau memberi tahu Ibumu, "Ibu, aku ada di sini!" Lalu ibumu mulai merasa mual dan bergegas menuju kloset.... Ya, ya sudahlah, kau mendengar sendiri bagaimana suara Ibumu berusaha memuntahkan sesuatu, bukan? Agak menjijikkan membahasnya di sini (hlm. 30)


Kalau setiap orang tak ingat apa saja yang terjadi di Alam Rahim, lantas bagaimana si penulis bisa mendongengi pembaca tentang hal ini? Aha! Rupanya di sini ia juga berperan sebagai seorang Pengabar Berita dari Alam Rahim. Asal kau tahu, ada kehidupan unik di dalam rahim seorang ibu yang mengandung. Kehidupan yang bahkan lebih nyaman dan lebih menyenangkan daripada kehidupan di dunia. Kau memang tak mungkin mengingatnya. Sebab sebelum bayi-bayi dilahirkan ke dunia, mereka harus melewati terowongan Vaghana yang dipenuhi cairan kental yang membuat seluruh ingatanmu terhapus. Kau tak akan ingat lagi apa yang terjadi di Alam Rahim--apa pun yang pernah kau alami dan lewati di sana (hlm. 28).


Realitas yang Didongengkan


Pembaca akan mencerna proses demi proses selama individu dalam rahim tanpa kening berkerut. Malah justru agak terhibur karena si pencerita ternyata seorang humoris, meski kejenakaannya tidak selalu tersurat dalam tulisan. Di Alam Rahim, ada sebuah makanan rahasia yang kalau diracik oleh Menteri Khusus Urusan Mimpi Kerajaan Alam Rahim dan kau memakannya akan (a) menyebabkan tidur, dan juga (b) membawa bayi yang tidur ke mana pun dia mau. Semacam teleportasi tradisional yang diperkenalkan secara turun-temurun di kerajaan Alam Rahim. Dan dengan keterampilan tertentu, seseorang bisa memilih agar terbangun di suatu tempat (hlm 149).


Untuk siapakah buku ini? Inilah masalahnya. Penulisnya sendiri tidak menyebutkan sasaran pembacanya yang spesifik. Apakah untuk anak-anak, remaja, atau dewasa. Namun, bila menilik substansi yang diceritakan, saya kira anak-anak yang berusia di atas 10 tahunlah yang bisa mencernanya, meski kalimat-kalimat sederhananya sebenarnya sudah bisa diserap anak usia 7 atau 8 tahun. Bila untuk dewasa, saya kira bagus juga terutama untuk mereka yang agak mumet bila membaca istilah-istilah ilmiah untuk memahami substansi yang satu ini. Hanya saja, pada setiap bagian penceritaan terkait realitas lazim ayah atau ibu yang terselip dalam cerita ini, menurut saya, adalah bagian yang agak membosankan bagi individu dewasa yang membacanya.


Alhasil, agaknya buku ini pas dibaca oleh kaum remaja yang memang membutuhkan pemahaman tentang proses pembentukan seorang individu dari tahap sel hingga menjadi individu utuh. Lebih-lebih bacaan tentang topik ini buat mereka memang masih jarang dalam literatur kita. Padahal, cerita seputar janin yang tumbuh dalam rahim seorang perempuan adalah sebuah misteri besar. Merupakan dunia tersendiri yang jarang tersentuh. Dalam hal ini buku ini bisa menjadi bacaan pelengkap pendidikan seks.


Seperti yang disiratkan penulisnya, tujuan penulisan buku ini agar pembacanya lebih menghargai hidup. Menghargai setiap tarikan napas. Menghargai apa pun yang dianugerahkan Raja Semesta (Rahim adalah nama lain dari Raja Semesta) bagi kita. Kita beruntung bila memiliki orang tua yang baik. Kita beruntung memiliki hidup.


Nampaknya buku ini lebih ditujukan si penulis pada remaja perempuan dengan menuliskan: Dan pada saatnya nanti mungkin kau akan memiliki seorang anak yang bersemayam di rahim suci perempuanmu. Bila saat itu datang, apa pun alasanmu, kumohon jangan biarkan para penghuni Kerajaan Alam Semesta bersedih dan terluka lagi. Jangan sekalipun kau berpikir untuk menggugurkan kandungan atau malah melakukannya. Jangan menodai kesucian rahim perempuanmu. Jangan lakukan itu kumohon (halaman sampul belakang).


Terlepas untuk siapa pun buku ini ditujukan, ia telah menyumbangkan pemahaman tentang proses pembentukan manusia yang mudah dicerna oleh siapa saja. Tidak njelimet. Perwajahan yang unik dan menawan menambah nilai positif buku ini. Ilustrasinya pun cukup membantu pemahaman isi, meski masih kurang beberapa ilustrasi untuk beberapa proses detailnya.


Buku ini bukan sekadar dongeng. Dongeng yang satu ini jelas-jelas sangat lekat dengan alam nyata kita. Tepatnya adalah realitas yang didongengkan.


***

Data Buku

Judul: Rahim, Sebuah Dongeng Kehidupan

Penulis: Fahd Djibran

Penyunting: Nita Taufik

Kategori: Novel

Genre: Pendidikan Seks

Penerbit: Goodfaith Production

Cetakan: Pertama, Juni 2010

Tebal: ix + 316 halaman

ISBN: 978-602-96000-2-5

Jumat, 17 September 2010

Ketika Laki-laki Mengisahkan Tentang Rahim

Resensi Nunung Nurnaningsih

Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan. Sebuah novel yang mampu membuatku terpaku membacanya hingga beberapa lama. Mungkin terdengar klise atau terlalu berlebihan. Tapi ya... katakanlah setiap karya akan memiliki nilai "lebih" ketika nilai-nilai yang coba disampaikan penulis melalui karyanya itu dapat diterima oleh pembacanya. Atau ketika sang pembaca merasa memiliki ikatan dengan karya tersebut mungkin karena karya tersebut laksana cermin bagi kehidupannya.

Dari sekian banyak karya yang kubaca, Rahim karya Fahd Djibran mampu mengaduk-aduk emosiku bahkan sejak melihat sampulnya saja. Meskipun sejak sebelum memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini pun aku sudah berasumsi bahwa aku akan mudah takluk dengan kisah-kisah seputar kelahiran, kehamilan, kehidupan baru, rahim, bayi, aborsi, dan sebagainya. Dan asumsiku pun benar (semoga aku tak pernah salah menafsirkan apa yang kurasakan).

Mungkin kalian bertanya, apa istimewanya novel Rahim ini? Beberapa tahun silam aku pernah membaca karya serupa dengan Rahim, kalau tidak salah berjudul Fetussaga karya Jamal. Mengapa aku bilang serupa, hal ini karena kedua novel ini sama-sama berkisah tentang kehidupan di dalam rahim Ibu. Lantas apa istimewanya novel Rahim? Ada beberapa hal yang mungkin menurut saya Rahim karya Fahd Djibran ini memiliki "rasa" yang berbeda.

Yang pertama karena Fahd meramu semua informasi yang ia ketahui tentang kehamilan dan dunia rahim menjadi sebuah novel dengan gaya penceritaan yang "berbeda". Ia menjejali pembaca dengan berbagai informasi "medis", nilai-nilai moral, pesan cinta, dll dengan cara mendongeng dan mengajak pembaca berdialog. Hal ini secara tidak sadar mampu mengikat emosi pembaca untuk terus larut dalam dongeng yang ia sampaikan.

Kedua, berkaitan dengan poin sebelumnya, banyaknya informasi yang diberikan dalam novel ini serta dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang ada di dalamnya membuat pembaca secara mudah memvisualisasikan imajinasi mereka. Bagiku, kekuatan Fahd dalam novel ini adalah ia mampu mendeskripsikan secara detail apa saja yang mungkin terjadi di dalam rahim.

Yang selanjutnya ini mungkin terdengar begitu subjektif. Seperti yang sempat kusampaikan di awal catatan ini, sebuah karya akan mempunyai nilai lebih ketika sang pembaca merasa memiliki ikatan terhadap karya tersebut. Aku menangis, sejak awal membaca novel ini. Untuk kali ini, aku tak dapat menafsirkan arti tangisan itu. Kisah di awal novel yang menggambarkan beragamnya reaksi laki-laki tentang sebuah kehamilan. Ada yang berbinar bahagia, ada pula yang dingin menolak. Atau kisah lain tentang banyaknya pasangan yang melakukan aborsi karena tidak siap menjadi orang tua atau kisah pasangan yang puluhan tahun tak mendapat keturunan. Dari situ saja perasaan saya sudah diaduk-aduk.

Semakin banyak lembar-lembar yang kubaca. Yang kurasakan adalah ngilu, entah bagian mana dari tubuhku yang begitu sakit serasa tercabik-cabik.

Novel ini, semakin membuatku percaya bahwa setiap anak yang dititipkan pada rahim kita, entah apakah ia buah dari ritual suci yang diiringi doa ataupun buah dari apa yang dianggap sebuah kesalahan, adalah sebuah anugerah yang layak untuk diperjuangkan dan dipertahankan.

Aku kagum pada Fahd, seorang laki-laki, suami, dan calon ayah, yang berusaha memaknai setiap detik hadirnya calon buah hatinya di rahim istrinya dan menuangkannya pada sebuah karya yang indah. Andai semua laki-laki mampu menyadari betapa berartinya menjadi seorang ayah dan orang tua. Andai semua laki-laki menghargai setiap kehidupan yang hadir di rahim perempuannya. Andai semua orang, laki-laki dan perempuan, tidak berbuat bodoh dengan menghilangkan kesempatan sebuah kehidupan untuk terlahir di dunia. Andai semua orang, laki-laki dan perempuan, menyadari bahwa apapun kesalahan mereka, seorang anak yang baru terlahir adalah manusia suci tanpa dosa. Andai saja... mereka membaca novel ini, jauh sebelum mereka memutuskan untuk mengaborsi janin, membunuh anak-anak mereka yang baru terlahir, meninggalkan perempuannya yang tengah hamil dalam kekalutannya seorang diri, menyia-nyiakan kehidupan yang dititipkan Tuhan pada mereka... Andai saja....

Andai semua itu terjadi, maka tidak akan ada kisah-kisah menyakitkan lagi tentang anak-anak yang ditolak, anak-anak yang dibunuh, janin-janin yang berguguran. Tidak akan ada lagi keputus asaan...

Ketika laki-laki mengisahkan tentang rahim, maka seharusnya kisah itu tak hanya habis dalam lembar-lembar yang mungkin akan usang seiring dengan waktu. Tapi kisah ini harus terus dikabarkan dari satu orang ke orang lain, dari perempuan satu ke perempuan lain, laki-laki satu ke laki-laki lain, anak satu ke anak lain. Dan ketika kisah ini terus terus terkabarkan, Rahim bukan lagi menjadi sebuah dongeng tentang kehidupan. Tapi akan berubah menjadi sebuah kesadaran massal atas pentingnya sebuah kehidupan bahkan sejak berada di dalam rahim.

--
*Sumber tulisan diambil dari sini.

Senin, 26 Juli 2010

Rahim Menginspirasi Wanita Indonesia

interview with woman.kapanlagi.com

KapanLagi.com - Fahd Pahdepie, sosok pria kelahiran Cianjur, 22 Agustus 1986 yang ramah ini, bagi sebagian orang tentu sudah tidak asing, apalagi bila Anda adalah sosok yang gemar membaca buku. Ya, benar, pria yang lebih populer dengan nama Fahd Djibran ini sempat menelurkan beberapa novel, di antaranya KUCING, BEING A SUPERSTAR,REVOLUSI SEKOLAH, INSOMNIA-AMNESIA: CATATAN MAHASISWA INSOMNIA BAGI BANGSA YANG AMNESIA, dan masih banyak lagi. Baru-baru ini, Fahd menelurkan sebuah buku dongeng berjudul RAHIM: SEBUAH DONGENG KEHIDUPAN, dan tak mau ketinggalan, Woman sempat mencuri waktu Fahd untuk menceritakan sebagian kecil inspirasi dari buku yang wajib dibaca ini. Yuk, ikuti cerita Fahd di balik buku RAHIM.

Fahd dan inspirasi tulisan

Woman: "Sejak kapan sih kamu suka menulis?"
Fahd: "Suka menulis sebenarnya sejak kecil, puisi pertamaku dimuat di PeeR Kecil (suplemen anak koran Pikiran Rakyat di Bandung) waktu aku masih kelas 3 SD. Sejak itu jadi suka menulis, sesekali ikut lomba-lomba. Sering kalah, beberapa kali menang. (tertawa). Tapi mulai serius menulis mungkin sejak SMA; sejak punya hobi menulis surat (cinta). Dulu sms dan internet belum merajalela, surat menjadi medium paling asyik untuk mengekspresikan perasaan dan gagasan."

Woman: "Ada nggak yang pernah protes tentang hobby menulis kamu?"
Fahd: "Rasanya nggak ada. Orang tua dan orang-orang terdekatku mendukung. Cuma, waktu SMA karena sering nulis hal-hal yang berbau kritik pada sekolah, aku pernah dipanggil kepala sekolah, diprotes dan diancam agar tak menulis lagi. Tapi orang yang suka baca tulisanku lebih banyak daripada kepala sekolah (kepala sekolah cuma 1). Cerita lengkap tentang ini aku tulis jadi buku, judulnya Revolusi Sekolah dan diterbitkan penerbit DAR!Mizan. Buku itu ditulis waktu masih kelas 3 SMA."

Woman: "Di usia kamu yang masih muda, kamu cukup produktif menghasilkan tulisan. Memangnya, dari mana sih inspirasi tulisan kamu?"
Fahd: "Dari mana saja. Hasil ngobrol atau diskusi dengan orang, cerita orang, menonton film, jalan-jalan, pergi ke mal, ke gunung, ke pasar, ke mesjid, ke mana saja, tapi terutama dari membaca buku-buku."

Woman: "Lantas, apa yang bikin kamu semangat menulis?"
Fahd: "Aku sering bilang gini, menulis adalah 'kesadaran sejarah'. Tulisan membuat pikiran dan perasaan jadi abadi, melintasi ruang dan waktu. Mungkin Einstein atau Newton sudah meninggal puluhan tahun lalu, tetapi kita masih bisa menengok gagasan dan pikirannya hingga saat ini. Pablo Neruda atau Chairil Anwar mungkin sudah tiada, tapi kita bisa mengetahui perasaan mereka tentang sesuatu dari apa yang mereka tuliskan. Scripta manent verba volant, kata pepatah Latin, apa yang terucap akan pergi bersama angin sedangkan apa yang tertulis akan abadi. Waktu sekolah aku suka ke perpustakaan dan membaca buku-buku. Aku membaca buku apa saja. Aku jadi tahu apa yang dipikirkan Soekarno muda saat ia berusia 30 tahun, aku tahu apa yang dipikirkan Natsir muda, lewat buku-buku mereka. Tapi sialnya, aku tak tahu apa yang dipikirkan kakekku ketika ia masih muda. Kita hanya bertemu sebentar dan beliau keburu meninggal. Apa masalahnya? Usut punya usut, ternyata masalahnya satu: Soekarno dan Natsir menulis, sementara kakekku tidak. Kakek tak sempat meninggalkan selembar pun tulisan buat penerusnya. Akhirnya, aku lebih mengenal siapa Soekarno, siapa Natsir, siapa Hatta, siapa Marx, siapa Borges, daripada kakekku sendiri. Lalu, apa yang bikin aku semangat menulis? Kelak, kalau sudah tua dan meninggal, aku nggak mau cucuku lebih mengenal orang lain daripada kakeknya sendiri. Cucuku, paling tidak, harus tahu apa yang dipikirkan kakeknya ketika dia masih muda. Itulah kesadaran sejarah."


Rahim, sebuah inspirasi dari 'makhluk Mars' Woman: "Dari mana sih bisa menulis RAHIM ini?"
Fahd: Sebenarnya sudah sejak lama aku pengin nulis novel, tapi belum kesampaian. Riset-riset dan berbagai bahan sudah dikumpulkan sejak lama, tapi bingung mau menulis apa untuk novel. Lagi pula aku pengin novel yang berbeda, novel yang nggak biasa dan jarang ditulis penulis lainnya di Indonesia—tema maupun gayanya. Kenapa akhirnya RAHIM? Empat bulan setelah pernikahanku, istriku dinyatakan positif hamil. Aku senang bukan main. Lalu aku membayangkan ingin berkomunikasi dengan janin anakku di dalam rahim istriku dengan apa yang aku pikirkan sekarang. Tapi kan nggak bisa. Makanya aku menuliskannya, dongeng untuk anakku sendiri yang kelak bisa ia baca kalau sudah besar. Nak, seolah-olah aku ingin bilang begitu, inilah yang dipikirkan ayahmu tentang apa yang terjadi di alam rahim saat kau dinyatakan ada di rahim ibumu. Awalnya begitu. Tapi rupanya idenya berkembang, akhirnya aku tuliskan menjadi sebuah novel yang bisa dibaca siapa saja. Anak-anak maupun orang dewasa. Aku lebih senang menyebutnya dongeng ketimbang novel. Tujuan yang lain: istriku nggak suka baca, ia hanya mau baca tulisanku, entah kenapa (tertawa). Nah, aku pikir istriku harus tahu tahap-tahap apa saja yang terjadi di setiap fase pertumbuhan janin di rahimnya (secara ilmiah-kedokteran)… agar dia mau baca itu, aku buatkan dongeng ini untuknya..."

Woman: "Kamu adalah seorang pria, tetapi mengapa justru memilih topik soal RAHIM yang notabene dunia wanita, bukan dunia pria?"
Fahd: "Aku nggak setuju ya kalo rahim itu hanya soal dunia wanita, rahim adalah dunia siapa saja. Perempuan atau laki-laki. Oh ya, aku lebih suka dengan kata 'perempuan' ketimbang kata 'wanita'. Jadi aku akan sebut 'perempuan'. Setiap orang pernah ada di sana selama kurang lebih 9 bulan sebelum terlahir di dunia. Jadi, itulah yang ingin aku ceritakan, ingatkan, dan maknai. Ada yang kita lupakan dari semua itu. Sesuatu yang penting, tonggak pertama perjalanan hidup kita. Bagiku, 'rahim' bukan sekadar 'organ' di tubuh perempuan—lebih dari itu, rahim adalah rumah suci pertama tempat Tuhan menitipkan kasih sayangnya berupa hidup pada kita semua."

Woman: "Selama penyelesaian buku RAHIM ini adakah kejadian lucu dan unik yang terjadi?"
Fahd: "Kejadian lucu mungkin nggak ada ya, mungkin lupa, tapi kejadian unik ada. Setelah naskah RAHIM jadi draft pertama, ceritanya aku bagikan pada beberapa pembaca pertama (dibantu sama manajemenku juga, KEA). Nah, respon para pembaca pertama ini unik-unik. Ada yang mengaku tersiksa semaleman karena harus repot nyari tissu tengah malem gara-gara nangis terus baca RAHIM. Ada pembaca pertama perempuan yang perokok, setelah baca RAHIM, dia memutuskan untuk berhenti merokok karena takut merusak Alam Rahim di rahimnya. Ada pembaca yang bertahun-tahun tidak pulang menemui orang tuanya, langsung memutuskan untuk pulang menemui orang tuanya. Ada pembaca yang nggak mau menikah karena berbagai alasan, tiba-tiba mengutarakan keinginannya untuk menikah. Ada yang sudah lama marahan sama ayahnya, ingin mengakhiri hubungan buruk mereka dan saling memaafkan.

Woman: "Apa pendapat bang Fahd tentang para Ibu yang tidak memperlakukan buah hatinya dengan baik, sejak dalam kandungan hingga lahir?"
Fahd: "Nah, ini yang membuatku miris. Para ibu seperti ini harus diberi pengertian. Mungkin mereka nggak tahu bahwa 'perlakuan', 'sikap', 'perkataan';, dan segala hal yang ia lakukan semasa hamil sangat mempengaruhi perkembangan bayinya. Ini juga jadi salah satu alasanku menulis RAHIM, harus lebih banyak orang yang diberitahu bahwa kehamilan bukan sekadar konsekuensi reproduktif dari sebuah relasi seksual, tetapi 'seluruh kehidupan' yang dititipkan Tuhan di rahim suci seorang perempuan. Kehidupan itu adalah kasih sayang tuhan. Ya, kasih sayang, dalam bahasa Arab itu disebut rahim. Itulah mengapa nama lain Tuhan juga Ar-Rahim, Sang Maha Penyayang. Di sini, aku berkesimpulan, mereka yang menyia-nyiakan kehamilan adalah mereka yang menyia-nyiakan hidup, menyia-nyiakan Tuhan. Tapi itu hanya pendapat, boleh setuju boleh juga enggak."

Woman: "Pesan apa sih yang sebenarnya ingin kamu sampaikan lewat buku RAHIM ini?"
Fahd: "Itu tadi, aku sudah sebutkan di atas. Rahim adalah nama lain dari Hidup, dari Tuhan. Kita harus benar-benar menjaga kesakralannya. Caranya, jangan main-main dengan rahim suci perempuanmu! Sekarang banyak anak muda melakukan seks bebas dan dengan mudah melakukan aborsi, aku ingin katakan di buku ini: jangan lakukan itu. Sekarang 115 ribu bayi terbunuh setiap hari, artinya ada 42 juta bayi korban aborsi setiap tahun. Andai kita bisa lebih menghargai hidup, memahami kesucian rahim, itu semua tak akan terjadi. Kita akan bisa menjaga sikap dan perilaku. Ada sebagian orang menganggap cita-citaku ini naif. Aku bilang, biar saja. Aku tetap menganggap pesan ini penting untuk di sampaikan. Sebenarnya ada satu lagi. Aku curiga saja, jangan-jangan relasi buruk orang-tua anak atau sebaliknya, adalah muasal dari banyak petaka yang ada; kebobrokan moral, eskaliasi kekerasan, eskalasi kejahatan, dan seterusnya. Seperti dikatakan Rasulullah dalam sebuah hadits. Aku membayangkan sebuah situasi di mana setiap anggota keluarga memiliki hubungan yang baik satu sama lain (ayah dengan ibu, orang tua dengan anak, kakak dengan adik, dan seterusnya), aku yakin keburukan akan bisa kita tolak, setidaknya kita minimalisir."


Bagian menarik dari RAHIM Woman: "Dari mana inspirasi tokoh-tokoh seperti Tuan Kucing yang Bisa Berbicara, Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki, Amadeus, Aynu Si Gadis Buta Penunjuk Jalan, Profesor Waktu, Nenek Olav, dan Mahavatara. Mengapa harus mereka? Adakah cerita di balik pemilihan tokoh tersebut?"
Fahd: "Wah, dari mana ya? Yang jelas, karena ini dongeng aku merasa perlu menghadirkan tokoh yang unik dan imajinatif. Ada beberapa pengaruh dari cerita-cerita dongeng yang aku baca juga. Tetapi setiap karakter aku buat seimajinatif mungkin dan sebenarnya memiliki makna tersendiri. Misalnya Aynu si Gadis Buta. Aynu dalam bahasa arab artinya mata. Aku sebenarnya ingin menunjuk pada situasi mata yang buta. Punya mata tetapi tak bisa melihat. Kita semua sering seperti itu. Mata kita nggak berfungsi dengan baik saat harus melihat kebenaran. Misalnya, mengapa kita menilai seseorang hanya sebatas dari yang kita lihat di permukaannya; pakaiannya, penampilannya, dan lainnya. Yang nggak jarang membuat kita tertipu. Kita seperti orang buta. Nah, setiap tokoh punya maknanya sendiri. Coba cari tahu artinya dalam bahasa lain atau asosiasikan dengan tokoh lain, karakter binatang, dan seterusnya. Pasti ketemu. Aku sengaja membuatnya begitu. Kalau aku tafsirkan di sini jadi nggak seru lagi. Silakan temukan maknanya sendiri."

Woman: "Apa yang ingin kamu sampaikan khususnya pada ibu kamu saat ini?"
Fahd: "Ibuku, tentang sikapku, tentang salahku, tentang sifatku, dan segala hal dalam hidupku yang bersinggungan denganmu, terima kasih dan maaf. Kaulah kecintaanku, perempuan yang akan kusayangi sampai aku mati." Sebagaimana yang aku tulis di RAHIM.

Woman: "Bagian mana dari buku RAHIM yang paling kamu suka?"
Fahd: "Aku menangis saat menuliskan bab Ibu dan Ayah. Ketika menuliskannya, aku sangat emosional. Konon, para pembaca juga menangis saat membaca dua bab ini. Aku hanya ingin bilang, aku pun menangis saat menuliskannya. Aku percaya sebuah teori; apa yang datang dari hati akan sampai ke hati. Tapi, kalau ditanya bab mana yang paling aku sukai? Aku suka bab yang menceritakan pertemuan si bayi dengan Mahavatara, bab berjudul Persiapan. Kenapa? Temukan sendiri jawabannya. Bacalah RAHIM. Temukan maknanya." (wo/bee)

sumber:
http://woman.kapanlagi.com/inspiring/people-we-love/5157-rahim-bang-fahd-menginspirasi-wanita-indonesia.html

Minggu, 18 Juli 2010

Menikmati Tour Alam Rahim

Review by Ratu Fenny

Membuka halaman demi halaman dari buku Rahim yang ditulis dengan begitu memukau oleh penulis muda Fahd Djibran, seperti membawaku dalam perjalanan waktu, mengingat setiap saat-saat pertama kali dinyatakan positif hamil sampai melahirkan, mengingat masa-masa kecil ku, bagaimana kedua orang tua ku membuat aku menjadi seperti sekarang, dan seperti disadarkan seperti apa dulu kehidupanku di alam rahim mamaku.

Sungguh Fahd adalah pendongeng yang handal, mampu menyajikan kata demi kata yang mengantarkan kita pada suatu pemahaman hakiki untuk apa kita sebagai manusia dilahirkan, bahwa setiap manusia dari sejak alam rahim telah dibekali dengan ilmu-ilmu kebajikan dengan tujuan jika nanti terlahir ke alam dunia manusia dapat lebih banyak menyebarkan kebaikan. Betapa maha besar Raja Semesta menciptakan kita manusia dengan tugas yang begitu mulia.

Setiap bagian dari buku Rahim ini, Fahd selalu menyisipkan kata-kata bijak, sederhana tetapi begitu menghentak kesadaran ku sebagai manusia. Seperti "Matikan Matamu Nyalakan Hatimu" , karena seringkali sebagai manusia kita dibutakan dengan hal-hal yang tampak berkilau atau menyenangkan di mata, walaupun sebenarnya kita tidak pernah tau apa yang tersirat lebih dalam dari hanya yang tampak oleh mata. Dan masih banyak lagi pesan-pesan sederhana namun kaya makna yang disajikan oleh Fahd di buku ini.

Empat bagian favorite-ku dari buku Rahim ini adalah bagian Ibu, Persiapan, Aborsi dan Ayah. Saat membaca bagian Ibu, karena aku sendiri adalah seorang Ibu, bisa merasakan bagaimana mama ku berkorban dan merelakan setengah nyawanya untuk melahirkan diri ku ke alam dunia, aku pun kembali teringat jam demi jam yang kulalui saat aku berjuang melahirkan anak ku, perjuangan yang sampai detik ini pun masih mengagumkan diri ku sebagai wanita dan membuatku bangga terlahir sebagai wanita.

Sementara itu pada bagian Persiapan, dengan membaca bagian ini aku baru menyadari kenapa bayi pada saat akan dilahirkan kepala nya berada di bawah karena pada posisi itulah bayi melakukan penghormatan kepada Raja Semesta, keimanan dari bayi yang didasarkan dari keimanan Ibu yang mengandungnya. Kesyahduan penghormatan yang benar-benar pasrah, dan terus terang hal ini juga aku alami dalam proses kehamilan ku yang pada saat usia 8 bulan bayiku masih sungsang, lalu kupasrahkan kehendak ku pada Raja Semesta dengan banyak bersujud dan melafalzkan kebesaran nama-Nya, bersyukur menjelang proses kelahiran bayiku berputar posisi dengan kepala dibawah.

Lalu pada bagian Aborsi, aku seperti dilihatkan bagaimana dan kenapa proses aborsi dilakukan, benar-benar menyedihkan membaca nasib bayi-bayi mungil tak berdosa itu. Aku menangis sejadi-jadinya saat membaca surat dari bayi yang telah di aborsi, semoga praktek aborsi jangan pernah ada lagi di muka bumi ini karena itu sungguh mengerikan dan merupakan pembunuhan.

Pada bagian Ayah, di sana diperlihatkan bagaimana karakter seorang laki-laki aslinya, bahwa saat mereka sebagai Ayah, meskipun mereka khawatir, mereka sedih, mereka tidak berdaya, tapi sebagai kepala rumah tangga, sebagai suami dan sebagai Ayah mereka harus terlihat tegar, terlihat kuat serta sebagai panutan yang bisa mendidik dan melindungi keluarganya.

Last but not least, buku ini wajib dibaca siapa saja yang merasa dirinya manusia, karena buku ini tentang hidup semua manusia di alam rahim. Seperti yang diungkapkan Fahd di bagian akhir bukunya bahwa, "kelahiran hanyalah nama bagi peralihanmu dari Alam Rahim ke Alam Dunia. Kau tidak dilahirkan dalam pengertian yang sebenarnya, kau hanya mengalami peralihan, dari rahim Ibumu menuju rahim yang lebih besar lagi, yaitu Rahim Semesta".

Selamat mengikuti & menikmati Tour Alam Rahim!

Fe

Senin, 12 Juli 2010

Kakang Kawah, Adi Ari-ari

Review by Truly Ruidono

Judul : Rahim
Pengarang : Fahd Djibran
Editor : Nita Taufik
Ilustrasi : Adriane Yunita
Penerbit : Goodfaith
Tahun : Juni 2010
Ketebalan : 316
ISBN : 978-602-9600-2-5


Kakang kawah, Adi Ari-ari…..

Sejak kecil, sudah sering kudengar orang-orang disekitar mengucapkan kalimat itu sambil mengelus-elus perutnya dimana sang jabang bayi berada. Baru belakangan aku mengerti maknanya. Dan buku ini, memberikan nuansa makna yang berbeda mengenai tempat dimana sebuah kehidupan dimulai.

Buku ini mengisahkan tentang perjalanan seorang bayi di Alam Rahim. Rahim adalah nama lain Alam Semesta. Dongeng ini ditulis berdasarkan kisah yang disampaikan oleh Pengabar Berita dari Alam Rahim, Dakka Madakka kepada sang bayi. Dakka Madakka berpawakan agak pendek, berkulit hitam, menggunakan pakaian yang agak aneh dengan manik-manik menyala di dadanya dan bertuliskan AR (alam Rahim), serta berjalan etrgesa-gesa dan kondisi kaki kanan agak pincang. Dakka berasal dari suatu tempat dimana matahari terbit agak terlambat tiga puluh lima detik dan terbenam lebih cepat tiga ratus lima puluh detik.

Di Alam Rahim, ukuran tubuh sang jabang bayi berkembang dengan sangat cepat menjadi empat kali lipat lebih besar dari bentuk semulanya. Disana juga ada Menteri Khusus Urusan Mimpi Kerajaan Alam Rahim yang bertugas meracik makanan rahasia. Jika dimakan maka akan menyebabkan tidur juga membawa bayi yang tidur kemanapun ia mau.

Profesor Waktu yang bertugas di Alam Rahim menyebutkan angka 24.471.165 detik. keseluruhan waktu setara dengan 9 bulan, 13 hari, 5 jam,32 menit dan 45 detik. Semuanya terlihat cepat! Mengingat 1 detik di Alam Rahim sama dengan 1 menit di Alam Dunia . Bayangkan selama ibu seorang ibu harus membawa beban sekian kilo di tubuhnya. Beban yang dibawa dengan rasa syukur dan kasih sayang.

Saya jadi teringat sebuah pengalaman pribadi beberapa tahu lampau. Sebagai anak tunggal, jagoan neonku sering tanpa sengaja mendapat perhatian dan perlakuan ekstra hingga membuatnya sedikit egois. Saat keinginannya tidak terpenuhi maka bisa timbul aksi unjuk rasa. Untuk membuatnya mengerti sesuatu hal tidak bisa dengan kata-kata namun harus dengan penjelasan sebab-akibat dan contoh kongkrit.

Suatu saat badanku sedang letih tak tertahan, dan ia memaksaku untuk menemaninya ke mall. Segala rayuan tidak mempan, memberikan pengertian lelah juga tidak bisa. Akhir sebuah kompromi disepakati. Anggap saja lelahku ini seperti ibu hamil, maka cobalah mengikat bantal kecil ke badan selama sekian jam tanpa dilepas. Jika ia mampu maka aku berjanji akan menemaninya ke mall dan membelikan makanan kesukaannya.

Untuk sekian menit bertama, wajahnya masih menunjukkan keceriaan, ada permainan baru baginya. Satu jam pertama, tawar menawar mulai dilakukan. Ia merayuku agar boleh melepas bantal kecil itu sebentar dengan alasan mau ke kamar kecil, tentunya ku tolak. Ku terangkan bahwa selama 9 bulan aku selalu membawanya kemanapun, dari ke kentor hingga mandi, Dalam kondisi sehat maupun sakit Akhirnya baru 2 jam ia menyerah dan mau memahami bagaimana pengorbanan seorang ibu membawa bayi dalam rahimnya selama 9 bulan! Tapi namanya juga anak-anak , sikap manisnya itu, maksudnya sangat manis hanya bertahan seminggu! Walau kembali ke sifat asal, namun terus terang ia sedikit berubah.

Setiap bab dalam buku ini diakhiri dengan sebuah paragraph yang berisi kalimat yang patut direnungi maknanya. Selain itu terdapat juga karikatur yang sangat sesuai dengan isi yang terkandung dalam bab itu. Namun yang sama, disetiap akhir bab ada gambar perjalanan sang jabang bayi.

Buku ini sarat akan makna kehidupan. Setiap individu diharapkan setelah membaca buku ini akan mensyukuri keberadaannya serta mensyukuri kehidupan yang dititipkan dalam wujud anak kepada mereka. Bacaan yang sangat cocok dibaca untuk para wanita serta para calon ayah bahkan yang sudah menjadi ayah.

Cocok juga untuk diberikan kepada buah hati . Belakangan banyak sekali anak-anak yang tak menghargai ibunya. Anak-anak yang tak menyayangi ibunya, yang sama sekali lupa bahwa mereka pernah meminjam setengah nyawa ibunya ketika hidup selama sembilan bulan di dalam kandungan ibunya.

Kembali saya teringat cerita seorang sahabat. Ia dengan bangganya bercerita, saat melahirkan anak pertama, sang suami ikut menemani ke dalam kamar bersalin. Sang suami membantunya mengatasi rasa sakit dengan merelakan tanganya dipegang sedemikian kuatnya hingga lecet-lecet kena kuku. Sang suami juga melihat bagaimana bayi merah itu dibersihkan sebelum diberikan untuk di Adzan-kan. Sejak saat itu kasih sayang sang suami kian melimpah.

Namun…, beberapa tahun kemudian kami mendapat khabar jika rumah tangga mereka sudah berakhir. Saat bertemu sang sahabat hanya tertawa ketika ditanya kepastian berita itu. Hal ini tentunya aneh mengingat baru beberapa waktu yang lalu sang suami selalu memuji perjuangan sang istri saat melahirkan.

Seandainya ada sebuah buku atau semacam kenangan yang bisa mengingatkan bagaimana perjuangan seorang ibu saat mengandung dan melahirkan anak, tentunya ia tidak akan pernah lupa dan berbuat yang aneh-aneh” Kata sahabatku sambil berkaca-kaca. “ Sudah melihatku berjuang saja ia masih macam-macam bagaimana jika tidak” Sambungnya lagi. Kami hanya bisa terdiam tidak tahu harus berkata apa.

Satu-satunya kekurangan dari buku ini buat saya adalah pengurangan cerita mengenai betapa cepatnya waktu berjalan di Dunai Rahim. Entah untuk penegasan atau dilakukan tanpa sengaja, namun sepertinya cukup jika diuraikan satu kali saja, sehingga kesan dramatisnya lebih terasa.

Dari keseluruhan buku, kalimat yang saya paling suka adalah : “ Memberi adalah mendapatkan lebih” Serta “Para ibu memberikan setengah nyawanya untuk sang jabang bayi selama berada di Alam Rahim”

Bintang 5 untuk buku ini
Jika anda para Ibu/calon ibu, buku ini sangat perlu dibaca!
Eh lupa................, di rekomendasikan oleh Kick Andy lho....!

Review Novel Rahim ( Sebuah Dongeng Kehidupan)

Review by Nastiti Rahayu a.k.a Hujan

Pengarang : Fahd Djibran
Harga : Rp. 60.000
Tebal : 316 Halaman
Penerbit : Goodfaith

Rahim adalah sebuah novel tentang sebuah dongeng kehidupan yang ditulis oleh Fahd Djibran, nama pena dari Fahd pahdepie. Dalam novel pertamanya ini, kita akan menemui tokoh-tokoh seperti Dakka Madakka, seorang Pengabar Berita dari Alam Rahim yang berasal dari kota Ura. Dia akan menceritakan apa yang kita alami di alam Rahim mulai dari embrio sampai berusia 9 bulan. Selain Dakka madakka,kita juga akan menemui tokoh-tokoh seperti ikan mas yang jadi koki, nenek olav dan juga Mahavatara. Semua dari mereka akan memberi kita pesan dan pelajaran yang sangat penting untuk bekal kita di Alam dunia, tapi sekarang ini banyak yang melupakan nasihat-nasihat mereka.
Apa kau tahu bahwa kini ada 42 juta kasus aborsi terjadi setiap tahun, itu sekitar 115.000 peristiwa aborsi setiap harinya di seluruh dunia. Tak tahukah para calon orang tua itu, kalau bayi mereka itu sangat berharga. Tidak semua orang bisa memiliki kesempatan untuk memilikinya bukan?? Bayi yang tidak tahu apa-apa, tidak punya pilihan untuk berada di rahim siapa, itu sudah di catat dalam Buku Besar Bukan??

Apa kau tahu, alam dunia juga merupakan rahim semesta, kita berproses disini dan di tuntut untuk matang dan nantinya akan mengalami peralihan ke alam lain, ingatlah semua pelajaran yang kau dapat di alam rahim kawan??

Novel ini akan membuat kita berpikir ulang dan lebih menghargai hidup. Ada saat-saat dimana kita akan terenyuh dengan cerita tentang ayah dan tentang ibu, kita akan teringat segala kesalahan-kesalahan kita pada dua orang yang paling mencintai kita.

Buku jenis ini memang masih sangat jarang di tulis oleh penulis indonesia, sehingga novel ini sangat terasa keunikannya. Buku ini akan membuat kita larut di dalamnya. Bahasa yang digunakan untuk menggambarkan setiap kejadian sangat pas,terkadang kalimat-kalimatnya akan membuat kening kita berkerut dan membuat kita tertawa. Selamat membaca,dan apabila kalian menemukan kebaikan dalam buku ini, dan merasa cukup terkesan, Teruskan kebaikan ini... (begitu pesan fahd)

3.8 dari 5 bintang

Salam hangat,
Hujan

Jumat, 09 Juli 2010

Rahim (Fahd Djibran)

A Testimony by Weeko

Saat membuka lembar demi lembar halaman pertama Novel Rahim, saya sempat menduga-duga, ini hanya novel drama biasa tentang istri yang merindukan anak, suami yang tidak menginginkan anak, atau orang dengan harta berlimpah yang tak memiliki anak. Namun, ketika diperkenalkan kepada sosok Dakka, saya langsung tak bisa melepaskan Novel ini.

Saya seperti dibawa oleh Dakka memasuki dunia yang benar-benar tak saya kenal —padahal selama 9 bulan saya tinggal di “Dunia” itu. dunia ketika pertama kali saya dan mungkin kalian semua mulai diwujudkan dari setetes mani. Perjalanan mengenal dan menelusuri dunia Rahim benar-benar membuat saya seperti ingin dilahirkan kembali.

Fahd Djibran yang memiliki nama Asli Fahd Pahdepie, bukan hanya penulis novel yang baik, tapi juga peneliti yang suka mendongeng. Ia mampu menyandingkan ilmu pengetahuan dan dongeng dengan sangat bagus.

…Rahim mengajarkan saya bagaimana menghargai seorang wanita, ibu, dan kehidupan…

***** (bintang lima) untuk buku ini!

A Review of Fahd Djibran's Rahim

Review by Gita Rustifar

Testimoni ini saya buat karena sekali lagi saya 'terhanyut' oleh cerita bang Fahd Djibran dalam karyanya (Rahim) yang baru-baru ini diterbitkan. Topik orang tua entah kenapa selalu menyentil hati saya, saya akan mudah sekali berkaca-kaca (bahkan menangis) tiap kali topik ini dibahas. Ayah dan Ibu, atau biasanya saya memanggil mereka Papah dan Mamah. Tak ada yang khusus tentang mereka, tetapi tentu saja itu tak mengurangi nilai mereka sebagai orang tua. Nilai sempurna selalu ditujukan untuk mereka. Orang tua terbaik untuk saya.

Membaca novel berjudul Rahim ini membuat saya seolah ikut serta berpetualang menjadi seorang fetus. Tumbuh dan berkembang di suatu rumah bernama Alam Rahim. Merasakan apa yang mungkin orang tua saya rasakan ketika menunggu saya lahir ke dunia.
Saya seorang perempuan dan belum menikah, membaca novel ini mengingatkan banyak hal tentang betapa hebatnya menjadi orang tua. Pada saatnya nanti (insya Allah) saya akan memiliki anak-anak yang bersemayam dalam rahim saya. Saya, seorang anak dari ayah dan ibu saya, juga akan menjadi seorang ibu. Inilah suatu siklus kehidupan, dimana setiap detiknya harus kita syukuri.

Dua bab dari novel ini menguras air mata saya, bab berjudul Ibu dan satunya lagi Ayah. Saya menangis mengingat betapa saya tak cukup pantas menjadi anak dari mereka. Hal ini sempat membuat saya bertanya-tanya apakah pernah terlintas di pikiran mereka penyesalan terhadap kelahiran saya, seorang anak yang begitu sering melawan, acuh tak acuh, dan menyusahkan. Sungguh saya sangat bersyukur mereka masih ada untuk saya, masih dengan begitu tulus melakukan apapun yang terbaik bagi saya.

Izinkan saya mengutip sebagian kalimat dari novel tersebut :

Ibuku, tentang sikapku, tentang salahku, tentang sifatku, dan segala hal dalam hidupku yang bersinggungan denganmu, terima kasih dan maaf. Kaulah kecintaanku, perempuan yang akan kusayangi sampai aku mati.


Untuk Mamah, Papah...terima kasih atas segala bentuk cinta yang tiada henti kalian curahkan dan maaf mengingat anakmu ini masih terus menyusahkanmu. Peluk dan cium untuk orang tuaku, semoga Allah senantiasa melimpahkan berkahnya kepada kalian...

P.S. Terima kasih kepada bang Fahd Djibran yang dengan begitu uniknya mengemas suatu dongeng kehidupan menjadi 'sentilan' manis bagi tiap-tiap kita, seorang anak yang pada saatnya nanti akan menjadi orang tua. MATIKAN MATAMU, NYALAKAN HATIMU.

Rahim, Sang Raja Semesta

Resensi oleh Sussy Listiarsasih

Jadi, mengapa kisah ini penting untuk kuceritakan padamu? Agar kau lebih menghargai hidup. Menghargai setiap tarikan napas. Menghargai apa pun yang dianugerahkan Raja Semesta padamu. Kau beruntung memiliki orang tua yang baik dan mengasihimu, hingga saatnya kini kau bisa hadir di dunia dan menikmati segalanya—kau beruntung memiliki hidup.

Dan pada saatnya nanti, mungkin kau akan memiliki seorang anak yang bersemayam di rahim suci perempuanmu… Bila saat itu datang, apa pun alasanmu, kumohon jangan biarkan para penghuni Kerajaan Alam Rahim bersedih dan terluka lagi: jangan sekalipun kau berpikir untuk menggugurkan kandungannya atau malah melakukannya. Jangan menodai kesucian rahim perempuanmu. Jangan lakukan itu. Kumohon.

…asal kau tahu, Rahim adalah nama lain dari Raja Semesta.


Itulah kutipan paragraf dari buku Rahim ini, menunjukan betapa pentingnya buku ini untuk dibaca. Membaca Rahim membuatku serasa masuk ke dunia dengan dimensi lain. Novel yang dilahirkan oleh Fahd Djibran ini tak layaknya novel-novel lain. Mungkin beberapa orang akan menyebutnya sastra, tapi Fahd lebih suka menyebut karyanya kali ini dengan ”dongeng”. Sebuah dongeng kehidupan.

Dari manakah dimulainya kehidupan? Dari saat sperma bertemu dengan ovum dan membuahinya sehingga berkembang menjadi ’gumpalan sel’. Nah, ’gumpalan sel’ ini akan terus berkembang menjadi embrio, fetus, dan akhirnya menjadi janin, calon bayi dalam rahim. Tak pernah terpikirkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam Alam Rahim tersebut, mungkin sang Ibu yang mengandung dan sang Ayah yang mengikuti perkembangan kandungan sang Ibu pun hanya dapat menerka-nerka apa yang terjadi pada bakal bayi dalam perutnya.

Dari desain covernya yang unik, kita sudah dapat membayangkan apa yang ada di dalam rahim, terdapat semesta luas yang patut digali, dilingdungi, dan dihargai. Dengan cover depan yang membentuk seorang perempuan hamil, dan paduan warna yang apik, Rahim ini akan mengajak kita masuk ke alam di mana kita tumbuh sebelum hadir di Alam Dunia.

Kisah ini diawali oleh munculnya seorang Pengabar Berita dari Alam Rahim bermana Dakka Madakka yang mempunyai misi untuk mengabarkan keadaan yang ada di Alam Rahim, yang bertujuan agar manusia lebih menghargai kesucian rahim kaum perempuan. Tidak hanya menganggapnya sebagai sebuah organ biologis semata yang berfungsi sebagai alat reproduksi, tapi juga mempercayai bahwa di sana ada kehidupan unik yang diciptakan oleh Raja Semesta.

Dakka menceritakan tahap apa yang terjadi di setiap perkembangan janin dan apa yang dilakukan janin di dalam sana. Hey, apa yang dia lakukan? Adakah yang bisa dia lakukan di dalam rahim yang sempit itu? Itulah uniknya imajinasi dalam pikiran Fahd, dia menciptakan tokoh Dakka sebagai perantaranya dalam menyampaikan apa yang ada dalam ruang imajinasinya di Alam Rahim.

Ternyata Si Bayi bermimpi di Alam Rahim, bermimpi bertemu orang-orang yang membekali dirinya berbagai ilmu dan budi pekerti sebagai bekalnya nanti di Alam Dunia. Si Bayi mendapatkan berbagai nasihat bijak yang membuatnya mengerti arti kehidupan. Ia bertemu Tuan Kucing yang Bisa Berbicara, Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki, Amadeus, Aynu Si Gadis Buta Penunjuk Jalan, Profesor Waktu, Nenek Olav, dan Mahavatara.

Tak hanya Si Bayi yang dapat memetik hikmah dari pertemuannya dengan mereka. Saat membaca buku ini pun kita dapat mereguk berbagai pelajaran yang diterima Si Bayi untuk diaplikasikan di Alam Nyata, tak hanya dapat dinikmati Si Bayi di Alam Rahim.

Membaca alur karya Fahd kali ini benar-benar berbeda dengan alur karya-karya Fahd sebelumnya. Sebutlah A Cat In My Eyes dan Curhat Setan yang merupakan dua karya yang terbit sebelum Rahim. Dua buku tersebut tidak disajikan seperti novel layaknya Rahim, dua buku tersebut berisi tulisan-tulisan cerdas yang membuatmu terus berpikir dan bertanya.

Sedangkan karya lainya, seperti Revolusi Sekolah dan Being A Superstar adalah buku yang berisi tips dan motivasi untuk bergerak lebih maju lagi. Dan Rahim ini menjadi salah satu masterpiece dari Fahd Djibran menurut Nita Taufik, penyunting Rahim. Terlebih Fahd membuat Rahim ini ketika istrinya sedang mengandung sehingga membuat karyanya ini begitu hidup.

Tapi tetap, gaya tulisan Fahd ini begitu khas. Sejak saya mengenalnya saat masih nyantri, sebagai kakak kelas yang baik, ia bisa meledakkan semangat adik-adik kelasnya dengan tulisan-tulisannya di dinding, atau di majalah PesanTrend. Dalam pandangan mata awam saya, tulisannya ini selalu ringan dan enak dibaca. Sering tulisannya mengenai peristiwa sehari-hari yang sepele, tapi mengandung kedalaman yang selalu diikutsertaan di dalamnya.

Dari semua kebaikan dari buku ini, ada hal yang membuat saya geregetan. Waktu terbit yang di agendakan bulan Mei, terus mundur sehingga baru bisa saya dapatkan di Bulan Juli. Dan ketika akhirnya bisa saya nikmati karya Fahd yang satu ini, saya dapat lebih merasakan kebesaran dari kasih sayang Raja Semesta penjaga Rahim. IBU...

Kamis, 08 Juli 2010

Zunaira, Jagalah --[Rahim]-- Ini Baik-Baik, Demi Masa Depan Kita

Review by Indra J. Santoso

Bogor| 8 Juli 2010


Untuk Zunaira,
Wanita yang memiliki telaga cinta,
Membilas dahaga dari kejauhan.

Sayangku,
Sahabatku yang satu ini selalu penuh dengan kejutan. Melakukan penalaran diluar keterbiasaan budaya kita semua. Namun kita semua tidak akan menolak pesan baik ini seperti apa-apa yang biasa terjadi di negara tropis ini. Pro-kontra, anarkisme dan segala tingkah laku yang memancing emosi dengan gaya yang menggelak tawa, para tubuh besar berusia dewasa dengan kelakuan anak TK.

Cintaku,
Sahabatku ini menitipkan pesan kebaikan untuk semuanya. Semua umat manusia di dunia. Tidak sepihak pada gender tertentu. Tidak serta merta pada manusia saja. Semuanya. Tanpa pandang bulu. Ia menitipkan pesan luar biasa. Pesan kebaikan.

Siang tadi, tepatnya pukul 2 siang pada hari ini 8 Juli 2010, Fahd "datang" ke tempatku berteduh. Ia tiba seraya mengucapkan salam. Salam kebaikan untuk semesta alam. Kusapa ia. Kami berpelukan seolah lama sekali tak berjumpa. Kupersilahkan ia masuk. Lalu kujamu sebaik-baiknya jamuan kepada para tamu. Itulah yang diajarkan sang pembawa pesan kepadaku. Kami berbincang cukup lama. Kurang lebih selama 316 menit aku menjadi seorang ‘pendengar’.

Pendengar?
Ya, p-e-n-d-e-n-g-a-r. Karena ia mendongeng. Ia bercerita tentang sebuah kebaikan. Ia bercerita tentang keluarga kecil yang baru saja dibentuknya. Formasi awal sebuah tim. Bersama istrinya ia merancang sebuah kehidupan masa depan yang bahagia. Bahu membahu merancang sang arsitek di dunia yang berbeda. Namun, ternyata dalam prosesnya ia menemukan hal besar. Jauh lebih besar daripada sebuah impian di masa depan. Ia menemukan sebuah semesta kecil dan semesta raksasa. Ya. Aku bergetar ketika mendengarnya bercerita. Semesta kecil yang seolah menjadi hal biasa. Dan semesta raksasa yang kita membutakannya.

Kekasih Hatiku,
Fahd mendongeng panjang lebar, tanpa henti kecuali sesekali waktu untuk menegak segelas air minum yang telah kusajikan. Maklum, ia pun manusia yang mampu haus. Aku mendengarkannya dengan seksama, memasang kedua daun telinga ini lekat-lekat. Sesekali aku memicingkan mata, menaikkan alis mata kananku, kaget, tersenyum, sedih, prihatin dan malu. Ia mengekspresikannya begitu mendalam, begitu syahdu. Sehingga yang ada di bayanganku terlintas dua generasi: Orang Tua kita dan masa depan kita.

Fahd meledek kita, sayang... Ia menantang kapan kita saling bertukar cincin. Kapan aku berbicara sungguh-sungguh kepada orang tuamu. Ia menantang kapan aku menjadi seorang laki-laki yang benar-benar laki-laki. Ia meledek kita.

Muara Hatiku,
Fahd, menitipkan pesan baik ini padaku. Dan aku menyampaikan ini kepadamu salah satunya. Karena kamu telah merantai hatiku. Mau tak mau kau harus kuberitahu. Pesan ini adalah pesan sederhana. Tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Tiap jam, menit dan detik hal itu selalu ada bersama. Apalagi dirimu yang diberi kuasa untuk menyimpannya. Kau bahkan tidak pernah terlepas dari itu. Kau selalu membawanya kemana-mana. Layaknya mushaf yang selalu siap segera untuk dilantunkan ayat-ayatnya. Tidak jauh dari tasbih-tasbihmu padanya yang mengalir dari kerongkongan. Jauh, jauh lebih dalam daripada itu. Memang itu dunia kecil kasat mata. Namun itu menyimpan jutaan hingga milyar dan bilyunan arti di dalamnya.

Rinduku,
Kita semua merindukan masa-masa itu. Masa-masa dimana kita merasa hangat, tanpa penat. Dunia kecil itu bermula dari sebuah kenyamanan. Kita tidak perlu repot-repot mengemis dan meminta. Karena kita akan diberi secara cuma-cuma. Kita tertidur pulas. Kalaupun ada yang mengganggu, dua orang yang sangat mencintai kita langsung menghadang dan memberi perlindungan. Mereka menjaga kita baik-baik, tak hanya si pemilik tempat dimana kita bernaung, melainkan mereka berdua. Orang-orang biasa yang berjuang luar biasa. Mereka rela melepas nyawa demi keberadaan kita. Tanpa pernah diminta, mereka adalah pahlawan sesungguhnya. Bukan tokoh-tokoh buatan yang beredar di layar datar dengan efek yang dahsyat luar biasa. Karena pada akhirnya tokoh-tokoh pujaan kita pun akan meminta pamrih, minimal berupa pujian. Sedangkan mereka berdua tidak. Tidak pernah. Bahkan mereka selalu kita sakiti. Kita khianati. Kita beri duri. Mereka rindu. Rindu ketika dulu kita memohon perlindungan pada mereka. Rindu akan masa-masa dimana kita masih ada di dalam sana. Di tempat mungil berjuta makna. Tempat atas segala ridho Illahi. Rahim.

Penatku,
Mungkin selama sembilan bulan sepuluh hari membuat kita penat. Kita hanya mampu tertidur dan sedikit bergerak di ruang yang sempit itu. Kita ingin segera bebas. Ingin menikmati hak-hak kita yang –katanya—indah bila kita mampu memanfaatkannya. Dan kita merasa hak kita adalah berada diluar ruangan itu. Kita merasa itu adalah pilihan paling baik. Dan bila itu terjadi, “MATIKAN MATAMU, NYALAKAN HATIMU”. Kalimat itu Fahd tekankan pada pertengahan penghabisan dari total dongengnya, menit 156!

...
Tak semua jalan yang terlihat akan membawamu pada jalan yang benar. Kadang jalan yang benar adalah jalan yang tak terlihat oleh matamu. Jangan biarkan matamu yang memutuskan kemana kau akan pergi, biarkanlah hatimu yang memutuskan kemana kau ingin pergi. Penampakan adalah kilasan dari yang tidak jelas.
....


Calon Ibu dari anak-anakku,
Aku teringat lagu Sherina Munaf ketika ia masih menikmati masa kanak-kanaknya. Judulnya “Andai Aku Besar Nanti”.

Andai aku tlah dewasa apa yang akan kukatakan untukmu idolaku tersayang, ayah
Andai usiaku berubah kubalas cintamu bunda, pelitaku, penerang jiwaku dalam setiap waktu

Oho Kutau kau berharap,
dalam doamu...

kutau kau berjaga,
dalam langkahku...

kutau kau slalu cinta,
dalam senyummu...

oh tuhan kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku.

Andai aku tlah dewasa ingin aku persembahkan semurni cintamu setulus kasih sayangmu kau slalu kucinta.


Apakah anak-anak kita nanti akan berkata sedemikian indahnya pada kita? Bersenandung lagu Sherina di kamarnya dalam perutmu. Salto, sirkus, meninju dan lain sebagainya. Akankah kita masih berharga dimata mereka? Kita yang menua. Kita yang beruban. Kita yang membuncit. Kita yang peyot. Kita yang bungkuk. Kita yang amat renta. Atau mungkin mereka akan melakukan seperti apa yang pernah kita lakukan kepada kedua orang tua kita masing-masing. Mungkin itupun yang pernah dipikirkan oleh kedua orang tua kita. Mempertanyakan dan mengharapkan yang indah-indah atas apa yang akan kita beri selaku bentuk pengabdian dan balas jasa padanya. Padahal, dulu –sebelum kita benar-benar tahu diri kita—mereka sering memperdebatkan siapa kita (saking pedulinya!!!)
Kalau tidak salah dimenit yang ke-52. Ia bercerita seperti ini:

....
“Mas, kira-kira nanti anak kita laki-laki atau perempuan, ya?” Ibumu mulai menebak-nebak jenis kelaminmu kelak.
“Hmmm, laki-laki atau perempuan, ya? Feeling-ku sih laki-laki, deh!” kata Ayahmu sambil tersenyum.
“Kira-kira mau dikasih nama siapa ya kalau anak kita laki-laki?”
“Hehe... Siapa, ya, Sayang?” Kalau laki-laki aku pengin ada nama’Mikail’-nya.”
“Hihi... Bagus juga, Mas. Terus, kalau anaknya perempuan namanya siapa?”
“Belum kepikiran sih...Aha! Gimana kalau Mikaila?” kata Ayahmu sambil nyengir.
“Eh, lucu juga Mikaila.” Ibumu balas nyengir.
Mereka berdua tertawa lepas.
....

Fahd menceritakan dialog wajib yang tidak akan pernah dilewatkan oleh pasangan manapun di dunia ini. Bahkan –aku sangat yakin—bila Alien itu benar-benar ada, mereka pun pasti berbincang berdiskusi jenis kelamin apa yang ada di alam rahim kecil itu.

Zunaira, bila nanti kamu hamil. Kita usahakan untuk tidak meniru manusia, mempertanyakan jenis kelamin. Biar Sang Raja Semesta yang mengurusnya, melalui buku besar-Nya :p

Mantan Pacarku,
Nanti kita harus kompak! Bergantian untuk terjaga. Berbagi tugas yang kita bebankan sama rata. Waktu itu kau berkata bahwa setiap subuh ia harus diperdengarkan murottal. Baiklah. Apapun itu, kau lebih tahu apa yang terbaik untuk tabungan masa depan kita itu. Karena kamu tahu, dunia kita berbeda. Sangat jauh berbeda. Sama halnya seperti kedua orang tua kita. Ayahmu keturunan bangsawan. Sedangkan ayahku hanyalah seorang pengumpul kayu bakar sebelum berangkat sekolah di pedalaman gunung di daerah Jawa Timur. Kamu adalah keturunan pembawa Islam. Sedangkan aku keturunan Kejawen tulen, perpaduan Islam-Hindu-Budha.

Teman Hidupku,
Banyak hal yang Fahd dongengkan dalam per-tamu-annya pada hari itu. Ia berbagi ilmu dan cinta. Ia menebar fakta yang mencengangkan!!

...
Terlalu banyak kematian yang kami dengar di Alam Rahim, terlalu banyak kesedihan. Bahkan bila kau berkilah bahwa aborsi bisa saja terjadi karena kecelakaan atau kau terpaksa dilakukan karena pertimbangan kesehatan, kau tetap menciptakan kematian, menciptakan kesedihan—setidaknya bagi penduduk Kerajaan Alam Rahim.

Dan pada saatnya nanti, mungkin kau akan memiliki seorang anak yang bersemayam di rahim suci perempuanmu... Bila saat itu datang, apa pun alasanmu, kumohon jangan biarkan para penghuni Kerajaan Alam Rahim bersedih dan terluka lagi; jangan sekalipun kau berpikir untuk menggugurkan kandungannya atau malah melakukannya. Jangan menodai kesucian rahim perempuanmu. Jangan lakukan itu. Kumohon.

Asal kau tahu, Rahim adalah nama lain dari Raja Semesta.
(menit 241-242)
...


Zunaira,
Ini adalah paragraf terakhir yang kutuliskan untuk surat ini. Surat pengabar berita kebaikan. Sebaiknya kamu baca sendiri selanjutnya di lampiran ini. Dongeng Si Juru Dongeng yang tlah dimampatkan dalam kemasan yang bagus dan berwarna penuh dengan gambar-gambar. Dan aku akan mendongengkan dongeng Si Juru Dongeng kepada yang lainnya.

Jagalah rahimmu baik-baik hingga aku menitipkan kehidupan disana, hingga kita membangun kerajaan kecil disana

--Kau tahu, sebenarnya kelahiran hanyalah nama bagi peralihanmu dari Alam Rahim ke Alam Dunia. Kau tidak dilahirkan dalam pengertian yang sebenarnya. Kau hanya mengalami peralihan, dari rahim Ibumu menuju rahim yang lebih besar lagi; Rahim Semesta— (309)


Kekasihmu yang setia menanti,

Al

Comment from Facebook #1

Mas Fahd, aku ud baca Rahim... Keren...:)Salute for U! Imajinasi Mas Fahd Luar biasa...I'm waiting for ur second Novel... Teruskan kebaikan ini... Hehe :)
--Miftahurrahmi Fitri, Padang.

Minggu, 04 Juli 2010

Comment from Twitter #1

misstashalov:
Baru slse baca "Rahim" dan wow. Rasanya spt stlh mengalami petualangan magis. Trimakasih @fahdisme uda menyalakan kembali mata hati saya :)

Anastaha Lovinna, 04 July 2009, via ÜberTwitter

Rabu, 30 Juni 2010

Sedikit Untuk Ayah

Oleh Dibah

Catatan ini ditulis setelah membaca bab “Ayah” di novel Rahim karya Fahd Djibran

Selama ini, setiap berbicara tentang orang tua, seringnya aku hanya terbayang tentang ibu, yang meminjamkan separuh nyawanya padaku selama sembilan bulan aku menumpang hidup di rahimnya. Yang membawaku di perutnya kemanapun ia pergi tanpa sedikitpun keluhan keluar dari bibirnya. Yang bercucuran darah demi mengantarkanku hadir di dunia. Ibu, selalu ibu. Dan tentu saja ibu pantas mendapat segala penghormatan itu, bahkan lebih dari pantas, tepatnya harus. Betapa rugi, dan teganya mereka yang menyia-nyiakan segala pengorbanan yang dilakukan ibu.

Tapi kemudian aku telat menyadari satu sosok lain, yang tak kalah penting perannya dengan ibu. Sosok yang walaupun tak membawaku di perutnya, tapi selalu menyimpanku di hatinya. Sosok yang paling gelisah ketika ibu menjerit kesakitan di ruang bersalin saat mengantarkan hadirku di dunia. Dia yang berdoa semoga istri, dan anak kesayangan, yang bahkan belum pernah sekalipun dilihatnya, selamat. Dia yang walaupun tak mengorbankan darah, tapi memeras keringatnya demi memberikan putri kesayangannya kehidupan yang layak. Dia, sosok itu, ayah.

Sering luput dari perhatianku betapa kasih sayang ayah tak sedikit pun lebih kecil dari kasih sayang ibu. Sesungguhnya kasih itu sama besarnya, kalau saja aku memperhatikan. Tapi dari beberapa yang luput dari perhatianku, ada beberapa yang kuingat tentang kasih ayah yang jelas nyata kurasa, meski terlambat kusadari.

Aku ingat saat aku berusia sekitar 3 atau 4 tahun, atau ini bahkan mungkin terjadi sejak usiaku lebih kecil, hanya saja ya itu tadi, hal ini begitu saja luput dari perhatianku. Saat itu, setiap selesai menjalankan kewajiban solatnya, ia memintaku duduk di pangkuannya dengan isyarat tangannya. Aku kemudian tanpa bicara mendatangi sejadah, lalu duduk di pangkuannya, sesuai perintahnya. Dan kemudian ia mengambil telapak tanganku meletakkannya di atas telapaknya lalu menengadahkan tangan itu dan mengajakku berdoa. Aku tak tahu pasti apa yang ia rapalkan dalam doanya, yang kuingat adalah pada sela-sela doanya, ia berkali-kali menciumi kepalaku, sambil berselawat. Tangan yang menengadah, ciuman, serta rapalan doa itu tak kumengerti maknanya pada saat itu. Tapi kini, saat aku mengingatnya kembali, tenggorokanku terasa tercekat dan mataku basah oleh air mata. Air mata bahagia karena beruntung telah hidup dengan aliran doa ayah di dalam tubuhku.

Saat aku menginjak usia sekolah,kesempatanku bermain-main dengan ayah berkurang. Ayah bekerja sejak sore, hingga dini hari, dan ini otomatis membuatnya harus menambah waktu tidurnya di pagi hari, sehingga hanya ciuman di pipi kanan kiri dan pesan untuk belajar sungguh-sungguh yang kudapat saat menghampirinya pamit untuk pergi ke sekolah, itu pun hanya dari atas tempat tidurnya. Ia tidak mengantarku sampai ke pintu, tapi aku mengerti, bahkan pada usia itu pun aku mengerti, bahwa ayah butuh istirahat. Di siang hari, saat aku pulang sekolah, ayah sering menyiratkan bahwa sesungguhnya ia ingin bermain-main denganku, tapi aku yang baru kembali dari sekolah terlalu lelah untuk bermain, dan lebih memilih untuk beristirahat tidur. Dan sore hari, saat aku bangun, ayah sudah terlanjur berangkat bekerja.

Tapi aku tidak sedih, karena aku tahu pasti ayah merindukanku. Karena diam-diam setiap dia baru tiba di rumah sepulang ia bekerja, ia menghampiri kamarku, bahkan sebelum dia menghampiri ibu, membenarkan letak selimutku, lalu menciumiku yang lelap dalam tidurku. Dan kadang, jika aku sedang rindu, aku sengaja membiarkan diriku tertidur di ruang tv, semata-mata hanya agar aku punya kesempatan digendong ayah, yang tak pernah tega membagunkanku untuk berjalan sendiri ke kamarku. Dan sesungguhnya aku selalu terbangun tiap kali ayah melakukan itu, tapi aku sengaja pura-pura tidur untuk tetap berada dalam gendongannya.

Betapa sesungguhnya aku punya begitu banyak kenangan tentang ayah, yang seringnya kulupakan saat ia memarahiku saat aku terlalu malam pulang ke rumah, atau saat dia menolak permintaanku untuk membeli sesuatu. Dan saat itu, dengan teganya, aku justru menuduhnya tak memberiku cukup kebebasan, cukup kepercayaan, dan tak hanya itu, aku bahkan menuduhnya tak cukup sayang padaku untuk meluluskan permintaanku. Padahal yang kusebut tak cukup sayang itu bisa jadi justru rasa sayangnya yang kusalahartikan. Seperti ketika aku menolak permintaan adikku yang terus-terusan meminta permen, bukan karena aku tak sayang padanya, tapi justru karena aku peduli dan tak ingin giginya rusak karena terlalu banyak memakan permen. Ya, pasti begitu maksud ayah. Dan yang kusebut tidak memberi cukup kebebasan dan kepercayaan itu sesungguhnya adalah rasa sayang yang begitu besar, hingga membuatnya khawatir bahwa sesuatu akan menimpaku saat aku luput dari penjagaannya

Maka, ayah, atas segala kasih sayang yang luput dari perhatianku, yang menyebabkan aku begitu saja menuduhmu, dan menyebabkanku menyakiti hatimu, aku mohon maaf. Atas segala pengorbananmu yang begitu saja kuabaikan, aku berterima kasih. Dan atas segala doa yang tak henti kau rapalkan, aku sungguh-sungguh mengucap syukur.

Dan, ayah, mungkin aku takkan mampu membalas apa yang telah kau, dan ibu lakukan. Tapi ayah, aku akan berusaha semampuku membahagiakan kalian dengan yang kupunya. Dan sungguh ayah, aku tahu itu pun takkan pernah cukup membalas segala yang kau lakukan untukku. Maka ayah, kali ini biar aku yang menengadahkan tanganku, sambil menciumi pipimu, dan memohonkan segala kebaikan untukmu dan ibu kepada Sang Pemilik Segala. Karena sungguh ayah, atas segala kasih sayang yang kalian curahkan, tak ada yang lebih pantas membalas selain Sang Maha Penyayang. Maka kepada-Nya lah aku berdoa.

Rabbighfirlii Wali wali Dayya Warhamhumaa Kamaa Rabbayani Shaghiraaa.

*Sumber dari sini.

Rahim

Oleh Ocky Fajzar Suryani

Buku ini mengingatkan kita tentang kehidupan kita dulu, sebelum kita berada disini, di dunia. Buku yang lebih banyak tahu tentang kita. Yang lebih banyak mengingat tentang kita. Serta buku yang mengingatkan kita betapa luar biasanya sang Pencipta merencanakan mahluk ciptaannya sedemikian rupa indah dan rapihnya.

Ketika membaca buku ini kesan pertama yang bisa diambil adalah “ia mengajakku bicara” buku yang mengajakku bercengkrama dan berdiskusi.

Namanya Dakka Madakka, seorang Pengabar Berita dari Alam Rahim, sebagai Satgas Pengembalian Kepercayaan dan Sakralitas Alam Rahim. Di zaman modern seperti ini terdapat berbagai penemuan ilmiah tentang rahim menyebabkan Alam Rahim sedang mengalami krisis. Rahim hanya dianggap sekedar organ pelengkap reproduksi perempuan, padahal jauh dari itu di dalam Rahim terdapat sistem kehidupan unik yang luar biasa dan bahkan lebih nyaman dan menyenangkan daripada kehidupanmu di dunia. Dakka mengingatkan kita bahwa betapa istimewanya seorang Ibu yang mengandung dan tidak mengabaikan bahkan mencampakkan anaknya, bayi yang dikandungnya. Dan betapa spesialnya seorang Ayah yang mencintai anaknya, menunggu kelahiran anaknya dengan sabar dan rela mengorbankan dirinya demi anak yang dilahirkan oleh istrinya nanti. Serta betapa celakanya kita sebagai seorang anak jika menyiakan kedua orang kita khususnya Ibu apabila mengingat perjuangan dan kerelaannya untuk kita.

Banyak ilmu yang terkandung dalam setiap tulisan. Tahapan sejak seorang anak manusia “diciptakan” melalui sepasang suami istri yang dipercayakan Raja Semesta hingga ia lahir ke dunia atas kebaikan seorang Ibu yang rela mengorbankan nyawanya demi kelahiran sang buah hati, banyak orang awam yang tidak paham menjadi paham setelah membaca buku ini, ya walaupun tidak se-spesifik mungkin tapi sangat bermanfaat, istilah pasarannya “sambil menyelam minum air”.

Tidak hanya itu, kalimat-kalimat tertentu dengan makna tersembunyi didalamnya mampu membuat kita senyum-senyum sendiri kemudian berkata “oh” atau “ya” dengan penuh keyakinan, menambah keasyikan dalam sesi membaca.

Jadi, tunggu apa lagi? “Rahim” adalah novel yang sangat di rekomendasikan setelah karya lain Fahd Djibran yaitu “Cat In My Eyes” dan “Curhat Setan” :)

Rahim : Sebuah Dongeng Kehidupan

Oleh Arif Musafa

Beberapa minggu lalu saat aku sedang di Wonosobo, di petang hari lik-ku berkunjung ke rumahku. Bukan suatu yang spesial sebenarnya, karena beliau masih 1 kampung dan sering juga berkunjung. Seperti wajarnya dalam setiap kunjungan, kami (bapak, emak, lik, dan aku) mengobrol kesana-kemari.

Lik ku bercerita,“Aku kalo pulang kerja kadang gak enak ama simbah. Beliau suka sekali ngerjain ini-itu, beres-beres rumah, dsb. Padahal aku udah bilang ama simbah, gak usah ngerjain ini-itu, kasihan udah sepuh, ntar capek. Mending simbah istirahat aja. Kan walo aku pulang agak maleman, masih bisa lah ngerjainnya. Tapi, kalo dibilangin gitu, simbah malah “marah” dan bilang ‘kan gak papa simbah ngerjain ini-itu, kalo disuruh istirahat aja, simbah malah bingung, dan bla bla bla’. Kadang ampe agak “geregetan” juga ngasih taunya.

Emak lalu menjawab,“Ya, namanya aja orang tua dik. Simbah gak tega liat kamu kerja dari pagi ampe malam, terus nyampe rumah harus ngerjain pekerjaan rumah. Emang kadang jengkelin juga, kita kan niatnya baik, biar simbah gak capek, tapi kalo dibilangin malah sewot. Tapi namanya orang tua juga lama-lama jadi kaya’ anak kecil, dikasih tau sedikit, bisa ngambek, juga jadi tambah cerewet, hehehe. Mungkin ntar kita kalo sudah tua juga kaya’ gitu ya dik?

Hahahaha”, emak, lik, dan aku yang cuma mendengarkan pun ikut tertawa.

Begitulah lebih kurang percakapan emak dan lik ku di suatu petang. Mereka berdua, sama-sama seorang wanita, seorang ibu, dan seorang anak dari simbahku. Di satu sisi mereka kadang merasa “gemes” juga melihat tingkah orang tuanya yang kadang berlebih dalam berbuat baik pada anak-anaknya. Tapi, di sisi lain mereka juga sadar bahwa mereka pun seorang ibu yang selalu ingin berbuat lebih untuk kebaikan anaknya.

Jumat sore, 25 Juni 2010, pesananku sebuah dongeng karya Fahd Djibran berjudul Rahim sudah aku terima. Awalnya aku tidak berencana untuk pre-order buku tersebut, tapi setelah membaca note di facebook-nya, akhirnya ku putuskan untuk pre-order.

Seperti sudah ku tulis tadi, walaupun ada yang menyebut ini sebagai novel pertama Fahd Djibran setelah sebelumnya menulis beberapa buku (A Cat in My Eyes, Curhat Setan, dll), tapi aku lebih suka menyebutnya sebuah dongeng, atau lebih tepatnya Sebuah Dongeng Kehidupan (itu yang ditulis di cover-nya). Aku memang tidak terlalu tau apa itu novel, tapi menurutku karya terbaru Fahd Djibran tersebut memang lebih cocok disebut dongeng.

Yap, dalam dongeng Rahim ini, kita akan berkenalan dengan seorang bernama Dakka Madakka (begitu membaca namanya, aku langsung menuduh dia sebagai orang Sunda, padahal dia berasal dari Kota Ura. Kau tau Kota Ura?). Dia mempunyai profesi aneh bernama Pengabar Berita dari Alam Rahim. Tak perlu kau mengernyitkan dahi begitu tau profesinya itu karena begitulah adanya. Dia akan menceritakan tentang apa-apa yang pernah kau alami di alam rahim yang kelihatannya sudah kau lupakan.

Kau (saat masih dalam alam rahim rencananya kau akan diberi nama Mikal oleh kedua orang tuamu), seorang yang pernah tinggal di alam rahim dalam rentang waktu sekitar 9 bulan 10 hari akan diajak berkilas balik tentang kisah-kisah yang kau alami saat kau berada disana. Kau masih ingat pertemuanmu dengan Kucing yang Bisa Berbicara? Ikan Mas yang Bekerja sebagai Koki? Amadeus? Aynu si Gadis Buta Penunjuk Jalan? Profesor Waktu? Nenek Olav? Atau Mahavatara? Kalau kau sudah lupa, segeralah temui Dakka.

Juru dongeng akan bercerita dengan rangkai kata yang mudah kau ikuti walau di beberapa tempat dia menggunakan istilah asing yang mungkin tak kau pahami. Tapi tenang saja kawan, dia akan memberikan penjelasan tentang istilah-istilah asing tersebut. Lumayan buat tambahan perbendaharaan ilmu kita. Selain itu, pengetahuanmu tentang alam rahim akan bertambah. Jika sebelumnya kau belum tahu fase yang dialami seorang calon bayi dari saat sperma berhasil membuahi sel telur hingga dia lahir, membaca buku ini kau akan menjadi (lebih) tau.

Untuk bagian yang berjudul Ibu, aku rasa ini bagian yang paling aku suka. Juru dongeng sudah mengingatkan sebelumnya bahwa di bagian inilah akan disampaikan salah satu alasan terpenting mengapa Pengabar Berita dari Alam Rahim ditugaskan ke dunia. Membacanya beberapa lembar, membuatku merinding, hampir-hampir aku meneteskan air mata. Di bagian ini kita memang akan dipertemukan dengan kisah tentang seseorang yang (kebanyakan orang) begitu dekat dengannya, Ibu. Mungkin karena itulah, bagian ini mampu membuatku hampir meneteskan air mata (selain kepiwaian juru dongeng dalam merangkai kata tentunya). Aku tak mau menceritakan detail kisahnya seperti apa karena kau bisa mengintip sebagian isinya disini. Atau bila kau ingin baca lebih lengkap, bacalah di bukunya, hehehe.

Untuk menemukan pesan "sederhana" dalam buku ini, kau tak perlu susah payah untuk mencarinya, karena juru dongeng akan secara gamblang memberitahumu. Tapi, kalau kau ingin mendapatkan pesan yang lebih dari itu, perlu kejelian lebih saat membacanya. Semua tokoh, kejadian, percakapan yang dihadirkan juru dongeng, bukan dihadirkan tanpa suatu sebab.

Aku bukan seorang pembaca buku yang hebat, bahkan tergolong orang yang malas membaca buku. Aku mudah bosan jika harus duduk berlama-lama untuk membaca. Tapi, ternyata dongeng Rahim dapat ku selesaikan dalam waktu kurang darii 2 x 24 jam, dan itu sudah aku selingi dengan berbagai macam kegiatan yang cukup menyita waktu juga. Tak perlu kau kaget kenapa aku bisa menyelesaikannya dalam jangka waktu cukup singkat (untuk ukuranku). Buku 316 halaman ini (untuk buku yang aku dapat, aku dapat “bonus” dobel halaman dari halaman 215 – 230, hahaha) ditulis dengan kata yang mudah dimengerti, mengalir begitu saja, dengan ukuran huruf yang cukup besar dan disisipi gambar-gambar yang kreatif, ditambah dengan cover yang unik. Ada kata-kata yang kurang ketikan barang 1 huruf pada beberapa tempat, tapi itu tidak terlalu banyak, mungkin tidak sampai hitungan 5.

Secara keseluruhan, aku suka dengan novel (dongeng) pertama karya Fahd Djibran ini. Perlu dibaca untukmu yang (nantinya akan) mengandung seorang bayi dalam rahimmu atau untukmu yang (nantinya akan) mengikuti perkembangan bayimu dalam rahim istrimu. Resapilah hingga meresap ke hati agar kau lebih menghargai hidup, karena jika kau tau, dongeng Rahim bukan sekedar dongeng tentang rahim. Pastinya ada beberapa perbedaan selera dalam cara penyampaian, plot, dsb, tapi itu bukan intinya, yang penting Fahd Djibran sudah berani keluar dari arus tipe-tipe cerita yang ada saat ini. Rahim bisa menjadi salah satu alternatif bacaan bila kau ingin membaca kisah tak biasa yang disampaikan dengan sederhana, namun ada makna luar biasa di dalamnya.

Kau tahu, alam dunia ini juga sebuah rahim, Rahim Semesta yang akan membentuk dan mematangkan dirimu dan kesadaranmu hingga suatu saat nanti kau “lahir” ke alam yang lain.

*Sumber dari sini.