A Testimony by Weeko
Saat membuka lembar demi lembar halaman pertama Novel Rahim, saya sempat menduga-duga, ini hanya novel drama biasa tentang istri yang merindukan anak, suami yang tidak menginginkan anak, atau orang dengan harta berlimpah yang tak memiliki anak. Namun, ketika diperkenalkan kepada sosok Dakka, saya langsung tak bisa melepaskan Novel ini.
Saya seperti dibawa oleh Dakka memasuki dunia yang benar-benar tak saya kenal —padahal selama 9 bulan saya tinggal di “Dunia” itu. dunia ketika pertama kali saya dan mungkin kalian semua mulai diwujudkan dari setetes mani. Perjalanan mengenal dan menelusuri dunia Rahim benar-benar membuat saya seperti ingin dilahirkan kembali.
Fahd Djibran yang memiliki nama Asli Fahd Pahdepie, bukan hanya penulis novel yang baik, tapi juga peneliti yang suka mendongeng. Ia mampu menyandingkan ilmu pengetahuan dan dongeng dengan sangat bagus.
…Rahim mengajarkan saya bagaimana menghargai seorang wanita, ibu, dan kehidupan…
***** (bintang lima) untuk buku ini!
Jumat, 09 Juli 2010
A Review of Fahd Djibran's Rahim
Review by Gita Rustifar
Testimoni ini saya buat karena sekali lagi saya 'terhanyut' oleh cerita bang Fahd Djibran dalam karyanya (Rahim) yang baru-baru ini diterbitkan. Topik orang tua entah kenapa selalu menyentil hati saya, saya akan mudah sekali berkaca-kaca (bahkan menangis) tiap kali topik ini dibahas. Ayah dan Ibu, atau biasanya saya memanggil mereka Papah dan Mamah. Tak ada yang khusus tentang mereka, tetapi tentu saja itu tak mengurangi nilai mereka sebagai orang tua. Nilai sempurna selalu ditujukan untuk mereka. Orang tua terbaik untuk saya.
Membaca novel berjudul Rahim ini membuat saya seolah ikut serta berpetualang menjadi seorang fetus. Tumbuh dan berkembang di suatu rumah bernama Alam Rahim. Merasakan apa yang mungkin orang tua saya rasakan ketika menunggu saya lahir ke dunia.
Saya seorang perempuan dan belum menikah, membaca novel ini mengingatkan banyak hal tentang betapa hebatnya menjadi orang tua. Pada saatnya nanti (insya Allah) saya akan memiliki anak-anak yang bersemayam dalam rahim saya. Saya, seorang anak dari ayah dan ibu saya, juga akan menjadi seorang ibu. Inilah suatu siklus kehidupan, dimana setiap detiknya harus kita syukuri.
Dua bab dari novel ini menguras air mata saya, bab berjudul Ibu dan satunya lagi Ayah. Saya menangis mengingat betapa saya tak cukup pantas menjadi anak dari mereka. Hal ini sempat membuat saya bertanya-tanya apakah pernah terlintas di pikiran mereka penyesalan terhadap kelahiran saya, seorang anak yang begitu sering melawan, acuh tak acuh, dan menyusahkan. Sungguh saya sangat bersyukur mereka masih ada untuk saya, masih dengan begitu tulus melakukan apapun yang terbaik bagi saya.
Izinkan saya mengutip sebagian kalimat dari novel tersebut :
Untuk Mamah, Papah...terima kasih atas segala bentuk cinta yang tiada henti kalian curahkan dan maaf mengingat anakmu ini masih terus menyusahkanmu. Peluk dan cium untuk orang tuaku, semoga Allah senantiasa melimpahkan berkahnya kepada kalian...
P.S. Terima kasih kepada bang Fahd Djibran yang dengan begitu uniknya mengemas suatu dongeng kehidupan menjadi 'sentilan' manis bagi tiap-tiap kita, seorang anak yang pada saatnya nanti akan menjadi orang tua. MATIKAN MATAMU, NYALAKAN HATIMU.
Membaca novel berjudul Rahim ini membuat saya seolah ikut serta berpetualang menjadi seorang fetus. Tumbuh dan berkembang di suatu rumah bernama Alam Rahim. Merasakan apa yang mungkin orang tua saya rasakan ketika menunggu saya lahir ke dunia.
Saya seorang perempuan dan belum menikah, membaca novel ini mengingatkan banyak hal tentang betapa hebatnya menjadi orang tua. Pada saatnya nanti (insya Allah) saya akan memiliki anak-anak yang bersemayam dalam rahim saya. Saya, seorang anak dari ayah dan ibu saya, juga akan menjadi seorang ibu. Inilah suatu siklus kehidupan, dimana setiap detiknya harus kita syukuri.
Dua bab dari novel ini menguras air mata saya, bab berjudul Ibu dan satunya lagi Ayah. Saya menangis mengingat betapa saya tak cukup pantas menjadi anak dari mereka. Hal ini sempat membuat saya bertanya-tanya apakah pernah terlintas di pikiran mereka penyesalan terhadap kelahiran saya, seorang anak yang begitu sering melawan, acuh tak acuh, dan menyusahkan. Sungguh saya sangat bersyukur mereka masih ada untuk saya, masih dengan begitu tulus melakukan apapun yang terbaik bagi saya.
Izinkan saya mengutip sebagian kalimat dari novel tersebut :
Ibuku, tentang sikapku, tentang salahku, tentang sifatku, dan segala hal dalam hidupku yang bersinggungan denganmu, terima kasih dan maaf. Kaulah kecintaanku, perempuan yang akan kusayangi sampai aku mati.
Untuk Mamah, Papah...terima kasih atas segala bentuk cinta yang tiada henti kalian curahkan dan maaf mengingat anakmu ini masih terus menyusahkanmu. Peluk dan cium untuk orang tuaku, semoga Allah senantiasa melimpahkan berkahnya kepada kalian...
P.S. Terima kasih kepada bang Fahd Djibran yang dengan begitu uniknya mengemas suatu dongeng kehidupan menjadi 'sentilan' manis bagi tiap-tiap kita, seorang anak yang pada saatnya nanti akan menjadi orang tua. MATIKAN MATAMU, NYALAKAN HATIMU.
Rahim, Sang Raja Semesta
Resensi oleh Sussy Listiarsasih
Itulah kutipan paragraf dari buku Rahim ini, menunjukan betapa pentingnya buku ini untuk dibaca. Membaca Rahim membuatku serasa masuk ke dunia dengan dimensi lain. Novel yang dilahirkan oleh Fahd Djibran ini tak layaknya novel-novel lain. Mungkin beberapa orang akan menyebutnya sastra, tapi Fahd lebih suka menyebut karyanya kali ini dengan ”dongeng”. Sebuah dongeng kehidupan.
Dari manakah dimulainya kehidupan? Dari saat sperma bertemu dengan ovum dan membuahinya sehingga berkembang menjadi ’gumpalan sel’. Nah, ’gumpalan sel’ ini akan terus berkembang menjadi embrio, fetus, dan akhirnya menjadi janin, calon bayi dalam rahim. Tak pernah terpikirkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam Alam Rahim tersebut, mungkin sang Ibu yang mengandung dan sang Ayah yang mengikuti perkembangan kandungan sang Ibu pun hanya dapat menerka-nerka apa yang terjadi pada bakal bayi dalam perutnya.
Dari desain covernya yang unik, kita sudah dapat membayangkan apa yang ada di dalam rahim, terdapat semesta luas yang patut digali, dilingdungi, dan dihargai. Dengan cover depan yang membentuk seorang perempuan hamil, dan paduan warna yang apik, Rahim ini akan mengajak kita masuk ke alam di mana kita tumbuh sebelum hadir di Alam Dunia.
Kisah ini diawali oleh munculnya seorang Pengabar Berita dari Alam Rahim bermana Dakka Madakka yang mempunyai misi untuk mengabarkan keadaan yang ada di Alam Rahim, yang bertujuan agar manusia lebih menghargai kesucian rahim kaum perempuan. Tidak hanya menganggapnya sebagai sebuah organ biologis semata yang berfungsi sebagai alat reproduksi, tapi juga mempercayai bahwa di sana ada kehidupan unik yang diciptakan oleh Raja Semesta.
Dakka menceritakan tahap apa yang terjadi di setiap perkembangan janin dan apa yang dilakukan janin di dalam sana. Hey, apa yang dia lakukan? Adakah yang bisa dia lakukan di dalam rahim yang sempit itu? Itulah uniknya imajinasi dalam pikiran Fahd, dia menciptakan tokoh Dakka sebagai perantaranya dalam menyampaikan apa yang ada dalam ruang imajinasinya di Alam Rahim.
Ternyata Si Bayi bermimpi di Alam Rahim, bermimpi bertemu orang-orang yang membekali dirinya berbagai ilmu dan budi pekerti sebagai bekalnya nanti di Alam Dunia. Si Bayi mendapatkan berbagai nasihat bijak yang membuatnya mengerti arti kehidupan. Ia bertemu Tuan Kucing yang Bisa Berbicara, Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki, Amadeus, Aynu Si Gadis Buta Penunjuk Jalan, Profesor Waktu, Nenek Olav, dan Mahavatara.
Tak hanya Si Bayi yang dapat memetik hikmah dari pertemuannya dengan mereka. Saat membaca buku ini pun kita dapat mereguk berbagai pelajaran yang diterima Si Bayi untuk diaplikasikan di Alam Nyata, tak hanya dapat dinikmati Si Bayi di Alam Rahim.
Membaca alur karya Fahd kali ini benar-benar berbeda dengan alur karya-karya Fahd sebelumnya. Sebutlah A Cat In My Eyes dan Curhat Setan yang merupakan dua karya yang terbit sebelum Rahim. Dua buku tersebut tidak disajikan seperti novel layaknya Rahim, dua buku tersebut berisi tulisan-tulisan cerdas yang membuatmu terus berpikir dan bertanya.
Sedangkan karya lainya, seperti Revolusi Sekolah dan Being A Superstar adalah buku yang berisi tips dan motivasi untuk bergerak lebih maju lagi. Dan Rahim ini menjadi salah satu masterpiece dari Fahd Djibran menurut Nita Taufik, penyunting Rahim. Terlebih Fahd membuat Rahim ini ketika istrinya sedang mengandung sehingga membuat karyanya ini begitu hidup.
Tapi tetap, gaya tulisan Fahd ini begitu khas. Sejak saya mengenalnya saat masih nyantri, sebagai kakak kelas yang baik, ia bisa meledakkan semangat adik-adik kelasnya dengan tulisan-tulisannya di dinding, atau di majalah PesanTrend. Dalam pandangan mata awam saya, tulisannya ini selalu ringan dan enak dibaca. Sering tulisannya mengenai peristiwa sehari-hari yang sepele, tapi mengandung kedalaman yang selalu diikutsertaan di dalamnya.
Dari semua kebaikan dari buku ini, ada hal yang membuat saya geregetan. Waktu terbit yang di agendakan bulan Mei, terus mundur sehingga baru bisa saya dapatkan di Bulan Juli. Dan ketika akhirnya bisa saya nikmati karya Fahd yang satu ini, saya dapat lebih merasakan kebesaran dari kasih sayang Raja Semesta penjaga Rahim. IBU...
Jadi, mengapa kisah ini penting untuk kuceritakan padamu? Agar kau lebih menghargai hidup. Menghargai setiap tarikan napas. Menghargai apa pun yang dianugerahkan Raja Semesta padamu. Kau beruntung memiliki orang tua yang baik dan mengasihimu, hingga saatnya kini kau bisa hadir di dunia dan menikmati segalanya—kau beruntung memiliki hidup.
Dan pada saatnya nanti, mungkin kau akan memiliki seorang anak yang bersemayam di rahim suci perempuanmu… Bila saat itu datang, apa pun alasanmu, kumohon jangan biarkan para penghuni Kerajaan Alam Rahim bersedih dan terluka lagi: jangan sekalipun kau berpikir untuk menggugurkan kandungannya atau malah melakukannya. Jangan menodai kesucian rahim perempuanmu. Jangan lakukan itu. Kumohon.
…asal kau tahu, Rahim adalah nama lain dari Raja Semesta.
Itulah kutipan paragraf dari buku Rahim ini, menunjukan betapa pentingnya buku ini untuk dibaca. Membaca Rahim membuatku serasa masuk ke dunia dengan dimensi lain. Novel yang dilahirkan oleh Fahd Djibran ini tak layaknya novel-novel lain. Mungkin beberapa orang akan menyebutnya sastra, tapi Fahd lebih suka menyebut karyanya kali ini dengan ”dongeng”. Sebuah dongeng kehidupan.Dari manakah dimulainya kehidupan? Dari saat sperma bertemu dengan ovum dan membuahinya sehingga berkembang menjadi ’gumpalan sel’. Nah, ’gumpalan sel’ ini akan terus berkembang menjadi embrio, fetus, dan akhirnya menjadi janin, calon bayi dalam rahim. Tak pernah terpikirkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam Alam Rahim tersebut, mungkin sang Ibu yang mengandung dan sang Ayah yang mengikuti perkembangan kandungan sang Ibu pun hanya dapat menerka-nerka apa yang terjadi pada bakal bayi dalam perutnya.
Dari desain covernya yang unik, kita sudah dapat membayangkan apa yang ada di dalam rahim, terdapat semesta luas yang patut digali, dilingdungi, dan dihargai. Dengan cover depan yang membentuk seorang perempuan hamil, dan paduan warna yang apik, Rahim ini akan mengajak kita masuk ke alam di mana kita tumbuh sebelum hadir di Alam Dunia.
Kisah ini diawali oleh munculnya seorang Pengabar Berita dari Alam Rahim bermana Dakka Madakka yang mempunyai misi untuk mengabarkan keadaan yang ada di Alam Rahim, yang bertujuan agar manusia lebih menghargai kesucian rahim kaum perempuan. Tidak hanya menganggapnya sebagai sebuah organ biologis semata yang berfungsi sebagai alat reproduksi, tapi juga mempercayai bahwa di sana ada kehidupan unik yang diciptakan oleh Raja Semesta.
Dakka menceritakan tahap apa yang terjadi di setiap perkembangan janin dan apa yang dilakukan janin di dalam sana. Hey, apa yang dia lakukan? Adakah yang bisa dia lakukan di dalam rahim yang sempit itu? Itulah uniknya imajinasi dalam pikiran Fahd, dia menciptakan tokoh Dakka sebagai perantaranya dalam menyampaikan apa yang ada dalam ruang imajinasinya di Alam Rahim.
Ternyata Si Bayi bermimpi di Alam Rahim, bermimpi bertemu orang-orang yang membekali dirinya berbagai ilmu dan budi pekerti sebagai bekalnya nanti di Alam Dunia. Si Bayi mendapatkan berbagai nasihat bijak yang membuatnya mengerti arti kehidupan. Ia bertemu Tuan Kucing yang Bisa Berbicara, Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki, Amadeus, Aynu Si Gadis Buta Penunjuk Jalan, Profesor Waktu, Nenek Olav, dan Mahavatara.
Tak hanya Si Bayi yang dapat memetik hikmah dari pertemuannya dengan mereka. Saat membaca buku ini pun kita dapat mereguk berbagai pelajaran yang diterima Si Bayi untuk diaplikasikan di Alam Nyata, tak hanya dapat dinikmati Si Bayi di Alam Rahim.
Membaca alur karya Fahd kali ini benar-benar berbeda dengan alur karya-karya Fahd sebelumnya. Sebutlah A Cat In My Eyes dan Curhat Setan yang merupakan dua karya yang terbit sebelum Rahim. Dua buku tersebut tidak disajikan seperti novel layaknya Rahim, dua buku tersebut berisi tulisan-tulisan cerdas yang membuatmu terus berpikir dan bertanya.
Sedangkan karya lainya, seperti Revolusi Sekolah dan Being A Superstar adalah buku yang berisi tips dan motivasi untuk bergerak lebih maju lagi. Dan Rahim ini menjadi salah satu masterpiece dari Fahd Djibran menurut Nita Taufik, penyunting Rahim. Terlebih Fahd membuat Rahim ini ketika istrinya sedang mengandung sehingga membuat karyanya ini begitu hidup.
Tapi tetap, gaya tulisan Fahd ini begitu khas. Sejak saya mengenalnya saat masih nyantri, sebagai kakak kelas yang baik, ia bisa meledakkan semangat adik-adik kelasnya dengan tulisan-tulisannya di dinding, atau di majalah PesanTrend. Dalam pandangan mata awam saya, tulisannya ini selalu ringan dan enak dibaca. Sering tulisannya mengenai peristiwa sehari-hari yang sepele, tapi mengandung kedalaman yang selalu diikutsertaan di dalamnya.
Dari semua kebaikan dari buku ini, ada hal yang membuat saya geregetan. Waktu terbit yang di agendakan bulan Mei, terus mundur sehingga baru bisa saya dapatkan di Bulan Juli. Dan ketika akhirnya bisa saya nikmati karya Fahd yang satu ini, saya dapat lebih merasakan kebesaran dari kasih sayang Raja Semesta penjaga Rahim. IBU...
Kamis, 08 Juli 2010
Zunaira, Jagalah --[Rahim]-- Ini Baik-Baik, Demi Masa Depan Kita
Review by Indra J. Santoso
Bogor| 8 Juli 2010
Untuk Zunaira,
Wanita yang memiliki telaga cinta,
Membilas dahaga dari kejauhan.
Sayangku,
Sahabatku yang satu ini selalu penuh dengan kejutan. Melakukan penalaran diluar keterbiasaan budaya kita semua. Namun kita semua tidak akan menolak pesan baik ini seperti apa-apa yang biasa terjadi di negara tropis ini. Pro-kontra, anarkisme dan segala tingkah laku yang memancing emosi dengan gaya yang menggelak tawa, para tubuh besar berusia dewasa dengan kelakuan anak TK.
Cintaku,
Sahabatku ini menitipkan pesan kebaikan untuk semuanya. Semua umat manusia di dunia. Tidak sepihak pada gender tertentu. Tidak serta merta pada manusia saja. Semuanya. Tanpa pandang bulu. Ia menitipkan pesan luar biasa. Pesan kebaikan.
Siang tadi, tepatnya pukul 2 siang pada hari ini 8 Juli 2010, Fahd "datang" ke tempatku berteduh. Ia tiba seraya mengucapkan salam. Salam kebaikan untuk semesta alam. Kusapa ia. Kami berpelukan seolah lama sekali tak berjumpa. Kupersilahkan ia masuk. Lalu kujamu sebaik-baiknya jamuan kepada para tamu. Itulah yang diajarkan sang pembawa pesan kepadaku. Kami berbincang cukup lama. Kurang lebih selama 316 menit aku menjadi seorang ‘pendengar’.
Pendengar?
Ya, p-e-n-d-e-n-g-a-r. Karena ia mendongeng. Ia bercerita tentang sebuah kebaikan. Ia bercerita tentang keluarga kecil yang baru saja dibentuknya. Formasi awal sebuah tim. Bersama istrinya ia merancang sebuah kehidupan masa depan yang bahagia. Bahu membahu merancang sang arsitek di dunia yang berbeda. Namun, ternyata dalam prosesnya ia menemukan hal besar. Jauh lebih besar daripada sebuah impian di masa depan. Ia menemukan sebuah semesta kecil dan semesta raksasa. Ya. Aku bergetar ketika mendengarnya bercerita. Semesta kecil yang seolah menjadi hal biasa. Dan semesta raksasa yang kita membutakannya.
Kekasih Hatiku,
Fahd mendongeng panjang lebar, tanpa henti kecuali sesekali waktu untuk menegak segelas air minum yang telah kusajikan. Maklum, ia pun manusia yang mampu haus. Aku mendengarkannya dengan seksama, memasang kedua daun telinga ini lekat-lekat. Sesekali aku memicingkan mata, menaikkan alis mata kananku, kaget, tersenyum, sedih, prihatin dan malu. Ia mengekspresikannya begitu mendalam, begitu syahdu. Sehingga yang ada di bayanganku terlintas dua generasi: Orang Tua kita dan masa depan kita.
Fahd meledek kita, sayang... Ia menantang kapan kita saling bertukar cincin. Kapan aku berbicara sungguh-sungguh kepada orang tuamu. Ia menantang kapan aku menjadi seorang laki-laki yang benar-benar laki-laki. Ia meledek kita.
Muara Hatiku,
Fahd, menitipkan pesan baik ini padaku. Dan aku menyampaikan ini kepadamu salah satunya. Karena kamu telah merantai hatiku. Mau tak mau kau harus kuberitahu. Pesan ini adalah pesan sederhana. Tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Tiap jam, menit dan detik hal itu selalu ada bersama. Apalagi dirimu yang diberi kuasa untuk menyimpannya. Kau bahkan tidak pernah terlepas dari itu. Kau selalu membawanya kemana-mana. Layaknya mushaf yang selalu siap segera untuk dilantunkan ayat-ayatnya. Tidak jauh dari tasbih-tasbihmu padanya yang mengalir dari kerongkongan. Jauh, jauh lebih dalam daripada itu. Memang itu dunia kecil kasat mata. Namun itu menyimpan jutaan hingga milyar dan bilyunan arti di dalamnya.
Rinduku,
Kita semua merindukan masa-masa itu. Masa-masa dimana kita merasa hangat, tanpa penat. Dunia kecil itu bermula dari sebuah kenyamanan. Kita tidak perlu repot-repot mengemis dan meminta. Karena kita akan diberi secara cuma-cuma. Kita tertidur pulas. Kalaupun ada yang mengganggu, dua orang yang sangat mencintai kita langsung menghadang dan memberi perlindungan. Mereka menjaga kita baik-baik, tak hanya si pemilik tempat dimana kita bernaung, melainkan mereka berdua. Orang-orang biasa yang berjuang luar biasa. Mereka rela melepas nyawa demi keberadaan kita. Tanpa pernah diminta, mereka adalah pahlawan sesungguhnya. Bukan tokoh-tokoh buatan yang beredar di layar datar dengan efek yang dahsyat luar biasa. Karena pada akhirnya tokoh-tokoh pujaan kita pun akan meminta pamrih, minimal berupa pujian. Sedangkan mereka berdua tidak. Tidak pernah. Bahkan mereka selalu kita sakiti. Kita khianati. Kita beri duri. Mereka rindu. Rindu ketika dulu kita memohon perlindungan pada mereka. Rindu akan masa-masa dimana kita masih ada di dalam sana. Di tempat mungil berjuta makna. Tempat atas segala ridho Illahi. Rahim.
Penatku,
Mungkin selama sembilan bulan sepuluh hari membuat kita penat. Kita hanya mampu tertidur dan sedikit bergerak di ruang yang sempit itu. Kita ingin segera bebas. Ingin menikmati hak-hak kita yang –katanya—indah bila kita mampu memanfaatkannya. Dan kita merasa hak kita adalah berada diluar ruangan itu. Kita merasa itu adalah pilihan paling baik. Dan bila itu terjadi, “MATIKAN MATAMU, NYALAKAN HATIMU”. Kalimat itu Fahd tekankan pada pertengahan penghabisan dari total dongengnya, menit 156!
Calon Ibu dari anak-anakku,
Aku teringat lagu Sherina Munaf ketika ia masih menikmati masa kanak-kanaknya. Judulnya “Andai Aku Besar Nanti”.
Andai aku tlah dewasa apa yang akan kukatakan untukmu idolaku tersayang, ayah
Andai usiaku berubah kubalas cintamu bunda, pelitaku, penerang jiwaku dalam setiap waktu
Oho Kutau kau berharap,
dalam doamu...
kutau kau berjaga,
dalam langkahku...
kutau kau slalu cinta,
dalam senyummu...
oh tuhan kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku.
Andai aku tlah dewasa ingin aku persembahkan semurni cintamu setulus kasih sayangmu kau slalu kucinta.
Apakah anak-anak kita nanti akan berkata sedemikian indahnya pada kita? Bersenandung lagu Sherina di kamarnya dalam perutmu. Salto, sirkus, meninju dan lain sebagainya. Akankah kita masih berharga dimata mereka? Kita yang menua. Kita yang beruban. Kita yang membuncit. Kita yang peyot. Kita yang bungkuk. Kita yang amat renta. Atau mungkin mereka akan melakukan seperti apa yang pernah kita lakukan kepada kedua orang tua kita masing-masing. Mungkin itupun yang pernah dipikirkan oleh kedua orang tua kita. Mempertanyakan dan mengharapkan yang indah-indah atas apa yang akan kita beri selaku bentuk pengabdian dan balas jasa padanya. Padahal, dulu –sebelum kita benar-benar tahu diri kita—mereka sering memperdebatkan siapa kita (saking pedulinya!!!)
Kalau tidak salah dimenit yang ke-52. Ia bercerita seperti ini:
Zunaira, bila nanti kamu hamil. Kita usahakan untuk tidak meniru manusia, mempertanyakan jenis kelamin. Biar Sang Raja Semesta yang mengurusnya, melalui buku besar-Nya :p
Mantan Pacarku,
Nanti kita harus kompak! Bergantian untuk terjaga. Berbagi tugas yang kita bebankan sama rata. Waktu itu kau berkata bahwa setiap subuh ia harus diperdengarkan murottal. Baiklah. Apapun itu, kau lebih tahu apa yang terbaik untuk tabungan masa depan kita itu. Karena kamu tahu, dunia kita berbeda. Sangat jauh berbeda. Sama halnya seperti kedua orang tua kita. Ayahmu keturunan bangsawan. Sedangkan ayahku hanyalah seorang pengumpul kayu bakar sebelum berangkat sekolah di pedalaman gunung di daerah Jawa Timur. Kamu adalah keturunan pembawa Islam. Sedangkan aku keturunan Kejawen tulen, perpaduan Islam-Hindu-Budha.
Teman Hidupku,
Banyak hal yang Fahd dongengkan dalam per-tamu-annya pada hari itu. Ia berbagi ilmu dan cinta. Ia menebar fakta yang mencengangkan!!
Zunaira,
Ini adalah paragraf terakhir yang kutuliskan untuk surat ini. Surat pengabar berita kebaikan. Sebaiknya kamu baca sendiri selanjutnya di lampiran ini. Dongeng Si Juru Dongeng yang tlah dimampatkan dalam kemasan yang bagus dan berwarna penuh dengan gambar-gambar. Dan aku akan mendongengkan dongeng Si Juru Dongeng kepada yang lainnya.
Jagalah rahimmu baik-baik hingga aku menitipkan kehidupan disana, hingga kita membangun kerajaan kecil disana
Kekasihmu yang setia menanti,
Al
Bogor| 8 Juli 2010
Untuk Zunaira,Wanita yang memiliki telaga cinta,
Membilas dahaga dari kejauhan.
Sayangku,
Sahabatku yang satu ini selalu penuh dengan kejutan. Melakukan penalaran diluar keterbiasaan budaya kita semua. Namun kita semua tidak akan menolak pesan baik ini seperti apa-apa yang biasa terjadi di negara tropis ini. Pro-kontra, anarkisme dan segala tingkah laku yang memancing emosi dengan gaya yang menggelak tawa, para tubuh besar berusia dewasa dengan kelakuan anak TK.
Cintaku,
Sahabatku ini menitipkan pesan kebaikan untuk semuanya. Semua umat manusia di dunia. Tidak sepihak pada gender tertentu. Tidak serta merta pada manusia saja. Semuanya. Tanpa pandang bulu. Ia menitipkan pesan luar biasa. Pesan kebaikan.
Siang tadi, tepatnya pukul 2 siang pada hari ini 8 Juli 2010, Fahd "datang" ke tempatku berteduh. Ia tiba seraya mengucapkan salam. Salam kebaikan untuk semesta alam. Kusapa ia. Kami berpelukan seolah lama sekali tak berjumpa. Kupersilahkan ia masuk. Lalu kujamu sebaik-baiknya jamuan kepada para tamu. Itulah yang diajarkan sang pembawa pesan kepadaku. Kami berbincang cukup lama. Kurang lebih selama 316 menit aku menjadi seorang ‘pendengar’.
Pendengar?
Ya, p-e-n-d-e-n-g-a-r. Karena ia mendongeng. Ia bercerita tentang sebuah kebaikan. Ia bercerita tentang keluarga kecil yang baru saja dibentuknya. Formasi awal sebuah tim. Bersama istrinya ia merancang sebuah kehidupan masa depan yang bahagia. Bahu membahu merancang sang arsitek di dunia yang berbeda. Namun, ternyata dalam prosesnya ia menemukan hal besar. Jauh lebih besar daripada sebuah impian di masa depan. Ia menemukan sebuah semesta kecil dan semesta raksasa. Ya. Aku bergetar ketika mendengarnya bercerita. Semesta kecil yang seolah menjadi hal biasa. Dan semesta raksasa yang kita membutakannya.
Kekasih Hatiku,
Fahd mendongeng panjang lebar, tanpa henti kecuali sesekali waktu untuk menegak segelas air minum yang telah kusajikan. Maklum, ia pun manusia yang mampu haus. Aku mendengarkannya dengan seksama, memasang kedua daun telinga ini lekat-lekat. Sesekali aku memicingkan mata, menaikkan alis mata kananku, kaget, tersenyum, sedih, prihatin dan malu. Ia mengekspresikannya begitu mendalam, begitu syahdu. Sehingga yang ada di bayanganku terlintas dua generasi: Orang Tua kita dan masa depan kita.
Fahd meledek kita, sayang... Ia menantang kapan kita saling bertukar cincin. Kapan aku berbicara sungguh-sungguh kepada orang tuamu. Ia menantang kapan aku menjadi seorang laki-laki yang benar-benar laki-laki. Ia meledek kita.
Muara Hatiku,
Fahd, menitipkan pesan baik ini padaku. Dan aku menyampaikan ini kepadamu salah satunya. Karena kamu telah merantai hatiku. Mau tak mau kau harus kuberitahu. Pesan ini adalah pesan sederhana. Tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Tiap jam, menit dan detik hal itu selalu ada bersama. Apalagi dirimu yang diberi kuasa untuk menyimpannya. Kau bahkan tidak pernah terlepas dari itu. Kau selalu membawanya kemana-mana. Layaknya mushaf yang selalu siap segera untuk dilantunkan ayat-ayatnya. Tidak jauh dari tasbih-tasbihmu padanya yang mengalir dari kerongkongan. Jauh, jauh lebih dalam daripada itu. Memang itu dunia kecil kasat mata. Namun itu menyimpan jutaan hingga milyar dan bilyunan arti di dalamnya.
Rinduku,
Kita semua merindukan masa-masa itu. Masa-masa dimana kita merasa hangat, tanpa penat. Dunia kecil itu bermula dari sebuah kenyamanan. Kita tidak perlu repot-repot mengemis dan meminta. Karena kita akan diberi secara cuma-cuma. Kita tertidur pulas. Kalaupun ada yang mengganggu, dua orang yang sangat mencintai kita langsung menghadang dan memberi perlindungan. Mereka menjaga kita baik-baik, tak hanya si pemilik tempat dimana kita bernaung, melainkan mereka berdua. Orang-orang biasa yang berjuang luar biasa. Mereka rela melepas nyawa demi keberadaan kita. Tanpa pernah diminta, mereka adalah pahlawan sesungguhnya. Bukan tokoh-tokoh buatan yang beredar di layar datar dengan efek yang dahsyat luar biasa. Karena pada akhirnya tokoh-tokoh pujaan kita pun akan meminta pamrih, minimal berupa pujian. Sedangkan mereka berdua tidak. Tidak pernah. Bahkan mereka selalu kita sakiti. Kita khianati. Kita beri duri. Mereka rindu. Rindu ketika dulu kita memohon perlindungan pada mereka. Rindu akan masa-masa dimana kita masih ada di dalam sana. Di tempat mungil berjuta makna. Tempat atas segala ridho Illahi. Rahim.
Penatku,
Mungkin selama sembilan bulan sepuluh hari membuat kita penat. Kita hanya mampu tertidur dan sedikit bergerak di ruang yang sempit itu. Kita ingin segera bebas. Ingin menikmati hak-hak kita yang –katanya—indah bila kita mampu memanfaatkannya. Dan kita merasa hak kita adalah berada diluar ruangan itu. Kita merasa itu adalah pilihan paling baik. Dan bila itu terjadi, “MATIKAN MATAMU, NYALAKAN HATIMU”. Kalimat itu Fahd tekankan pada pertengahan penghabisan dari total dongengnya, menit 156!
...
Tak semua jalan yang terlihat akan membawamu pada jalan yang benar. Kadang jalan yang benar adalah jalan yang tak terlihat oleh matamu. Jangan biarkan matamu yang memutuskan kemana kau akan pergi, biarkanlah hatimu yang memutuskan kemana kau ingin pergi. Penampakan adalah kilasan dari yang tidak jelas.
....
Calon Ibu dari anak-anakku,
Aku teringat lagu Sherina Munaf ketika ia masih menikmati masa kanak-kanaknya. Judulnya “Andai Aku Besar Nanti”.
Andai aku tlah dewasa apa yang akan kukatakan untukmu idolaku tersayang, ayah
Andai usiaku berubah kubalas cintamu bunda, pelitaku, penerang jiwaku dalam setiap waktu
Oho Kutau kau berharap,
dalam doamu...
kutau kau berjaga,
dalam langkahku...
kutau kau slalu cinta,
dalam senyummu...
oh tuhan kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku.
Andai aku tlah dewasa ingin aku persembahkan semurni cintamu setulus kasih sayangmu kau slalu kucinta.
Apakah anak-anak kita nanti akan berkata sedemikian indahnya pada kita? Bersenandung lagu Sherina di kamarnya dalam perutmu. Salto, sirkus, meninju dan lain sebagainya. Akankah kita masih berharga dimata mereka? Kita yang menua. Kita yang beruban. Kita yang membuncit. Kita yang peyot. Kita yang bungkuk. Kita yang amat renta. Atau mungkin mereka akan melakukan seperti apa yang pernah kita lakukan kepada kedua orang tua kita masing-masing. Mungkin itupun yang pernah dipikirkan oleh kedua orang tua kita. Mempertanyakan dan mengharapkan yang indah-indah atas apa yang akan kita beri selaku bentuk pengabdian dan balas jasa padanya. Padahal, dulu –sebelum kita benar-benar tahu diri kita—mereka sering memperdebatkan siapa kita (saking pedulinya!!!)
Kalau tidak salah dimenit yang ke-52. Ia bercerita seperti ini:
....Fahd menceritakan dialog wajib yang tidak akan pernah dilewatkan oleh pasangan manapun di dunia ini. Bahkan –aku sangat yakin—bila Alien itu benar-benar ada, mereka pun pasti berbincang berdiskusi jenis kelamin apa yang ada di alam rahim kecil itu.
“Mas, kira-kira nanti anak kita laki-laki atau perempuan, ya?” Ibumu mulai menebak-nebak jenis kelaminmu kelak.
“Hmmm, laki-laki atau perempuan, ya? Feeling-ku sih laki-laki, deh!” kata Ayahmu sambil tersenyum.
“Kira-kira mau dikasih nama siapa ya kalau anak kita laki-laki?”
“Hehe... Siapa, ya, Sayang?” Kalau laki-laki aku pengin ada nama’Mikail’-nya.”
“Hihi... Bagus juga, Mas. Terus, kalau anaknya perempuan namanya siapa?”
“Belum kepikiran sih...Aha! Gimana kalau Mikaila?” kata Ayahmu sambil nyengir.
“Eh, lucu juga Mikaila.” Ibumu balas nyengir.
Mereka berdua tertawa lepas.
....
Zunaira, bila nanti kamu hamil. Kita usahakan untuk tidak meniru manusia, mempertanyakan jenis kelamin. Biar Sang Raja Semesta yang mengurusnya, melalui buku besar-Nya :p
Mantan Pacarku,
Nanti kita harus kompak! Bergantian untuk terjaga. Berbagi tugas yang kita bebankan sama rata. Waktu itu kau berkata bahwa setiap subuh ia harus diperdengarkan murottal. Baiklah. Apapun itu, kau lebih tahu apa yang terbaik untuk tabungan masa depan kita itu. Karena kamu tahu, dunia kita berbeda. Sangat jauh berbeda. Sama halnya seperti kedua orang tua kita. Ayahmu keturunan bangsawan. Sedangkan ayahku hanyalah seorang pengumpul kayu bakar sebelum berangkat sekolah di pedalaman gunung di daerah Jawa Timur. Kamu adalah keturunan pembawa Islam. Sedangkan aku keturunan Kejawen tulen, perpaduan Islam-Hindu-Budha.
Teman Hidupku,
Banyak hal yang Fahd dongengkan dalam per-tamu-annya pada hari itu. Ia berbagi ilmu dan cinta. Ia menebar fakta yang mencengangkan!!
...
Terlalu banyak kematian yang kami dengar di Alam Rahim, terlalu banyak kesedihan. Bahkan bila kau berkilah bahwa aborsi bisa saja terjadi karena kecelakaan atau kau terpaksa dilakukan karena pertimbangan kesehatan, kau tetap menciptakan kematian, menciptakan kesedihan—setidaknya bagi penduduk Kerajaan Alam Rahim.
Dan pada saatnya nanti, mungkin kau akan memiliki seorang anak yang bersemayam di rahim suci perempuanmu... Bila saat itu datang, apa pun alasanmu, kumohon jangan biarkan para penghuni Kerajaan Alam Rahim bersedih dan terluka lagi; jangan sekalipun kau berpikir untuk menggugurkan kandungannya atau malah melakukannya. Jangan menodai kesucian rahim perempuanmu. Jangan lakukan itu. Kumohon.
Asal kau tahu, Rahim adalah nama lain dari Raja Semesta.
(menit 241-242)
...
Zunaira,
Ini adalah paragraf terakhir yang kutuliskan untuk surat ini. Surat pengabar berita kebaikan. Sebaiknya kamu baca sendiri selanjutnya di lampiran ini. Dongeng Si Juru Dongeng yang tlah dimampatkan dalam kemasan yang bagus dan berwarna penuh dengan gambar-gambar. Dan aku akan mendongengkan dongeng Si Juru Dongeng kepada yang lainnya.
Jagalah rahimmu baik-baik hingga aku menitipkan kehidupan disana, hingga kita membangun kerajaan kecil disana
--Kau tahu, sebenarnya kelahiran hanyalah nama bagi peralihanmu dari Alam Rahim ke Alam Dunia. Kau tidak dilahirkan dalam pengertian yang sebenarnya. Kau hanya mengalami peralihan, dari rahim Ibumu menuju rahim yang lebih besar lagi; Rahim Semesta— (309)
Kekasihmu yang setia menanti,
Al
Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan
Review by Wenny Sri Widowati
Judul: Rahim, Sebuah Dongeng Kehidupan
Penulis: Fahd Djibran
Penerbit: Goodfaith
Harga: Rp. 60.000 (dapat diskon 15% jadi Rp. 51.000)
Ini dia novel yang saya tunggu kehadirannya sejak bulan Mei yang lalu. Sayang sekali kehadirannya harus tertunda beberapa minggu, padahal saya berharap bisa membaca tulisan terbaru mas Fahd Djibran tepat di hari ulang tahun saya. Tapi tidak masalah, kadang menunggu menjadi rutinitas yang mendebarkan. Setiap kali membaca perkembangan novel ini di Ruang Tengah, saya selalu tidak sabar untuk mendapat jawaban dari pertanyaan, "Seperti apa sih novel Rahim? Apakah sebagus dua buku terdahulu yang ditulis mas Fahd Djibran?" inilah jawaban atas pertanyaan saya tersebut.
Yap, novel setebal 316 halaman ini berkisah tentang pasangan muda yang sedang menanti kelahiran bayi mereka, tetapi fokus yang diberikan adalah perkembangan bayi di dalam rahim sang calon ibu. Cerita mengalir dari bagaimana sang bayi terbentuk, bagaimana sang bayi menjalani hari-harinya hingga proses kelahiran, bagaimana sang bayi ingin tahu banyak hal, bagaimana sang bayi menyapa calon ayah dan ibunya dengan caranya sendiri, dan hal-hal menarik lainnya yang membuat saya berpikir betapa mengagumkan perkembangan seorang bayi di dalam rahim seorang perempuan. Kehidupan di Alam Rahim yang dulu pernah saya alami (dan semua orang), tetapi tidak ada sedikitpun ingatan tentangnya. Kehidupan yang terlupakan.
Kalau anda berpikir, "Ah, kalau hanya perkembangan bayi di dalam rahim, berarti sama saja dengan isi buku biologi untuk sekolah menengah, semua orang yang pernah sekolah pasti sudah tahu," sebenarnya memang demikian, sedikit mirip buku biologi karena beberapa istilah yang dipakai dalam buku ini adalah istilah kedokteran. Tetapi seperti yang tertulis di cover depan, buku ini adalah buku dongeng, kisah yang diceritakan adalah fakta ilmiah dalam balutan imajinasi yang menawan. Anda tidak perlu takut dengan sedikit istilah kedokteran yang ada di novel ini, karena istilah yang dipakai tidak memberatkan pembaca sama sekali, bahkan untuk saya yang tidak memiliki latar belakang kedokteran.
Jika novel pada umumnya selalu berisi tokoh protagonis, antagonis, klimaks cerita, happy/sad ending, maka saya beranggapan bahwa Rahim tidak seperti novel-novel yang pernah saya baca. Kisah yang diberikan mengalir maju dengan kecepatan pelan, hampir terkesan datar, bahkan saya tidak tahu siapa tokoh antagonis dan protagonis, saya juga tidak tahu apakah kisah ini berakhir senang, netral, duka atau gabungan ketiganya. Terkesan tidak menarik? Saya justru menikmati alur novel ini, selipan imajinasi yang dibangun oleh penulis disepanjang novel berhasil membuat saya terbuai dalam khayalan saya sendiri. Karenanya, alih-alih novel, saya lebih suka jika buku ini disebut buku dongeng.
Rahim, dalam buku ini disebutkan sebagai sesuatu yang sakral, sesuatu yang suci. Dia tidak hanya berfungsi sebagai seonggok daging tempat penitipan bayi yang diberikan Raja Semesta pada setiap perempuan. Lebih dari itu, Alam Rahim memiliki kehidupannya sendiri, sebuah tempat dimana kehidupan bermula, tempat dimana setiap manusia terbentuk sebelum peralihan menuju Alam Dunia. Sayangnya, manusia pada masa kini mulai melupakan sakralitas Alam Rahim. Rahim hanya dianggap sebagai organ reproduksi para perempuan. Bahkan lebih parahnya, banyak manusia tidak bermoral dan tidak bertanggung jawab yang menjadikan rahim sebagai tempat sampah.
Dakka Madakka, seorang utusan khusus dari Kerajaan Alam Rahim bertugas untuk mengembalikan sakralitas tersebut. Dia akan bercerita seperti apa kehidupan di Alam Rahim, mengapa alam itu begitu sakral dan suci. Dakka memulai kisah dengan memilih acak sesosok bayi yang baru memulai kehidupannya di Alam Rahim. Bersama Dakka dan sang bayi, para pembaca dapat berkelana dalam kisah mengagumkan disana. Saya tidak akan membocorkan isi Alam Rahim dalam tulisan ini, yang pasti, anda akan menemui beberapa petualangan, menemui banyak tokoh yang mengagumkan, hingga pada akhirnya anda akan berimajinasi bahwa anda juga pernah menjalani kehidupan disana. Anda akan dibuat seolah percaya bahwa anda, dulunya, pernah mengalami petualangan serupa.
Saya menuntaskan dongeng ini dalam satu malam. Duduk di pojok tempat tidur, sesekali tersenyum, beberapa kali menangis, membayangkan seperti apa rasanya jika ada bayi yang tumbuh di dalam rahim saya suatu hari nanti, termasuk mengingat beberapa kenakalan saya saat masih bocah, tersenyum lagi, menangis lagi. Sebuah perjalanan spiritual ringan yang akan membuat badai pikiran dan badai emosi pada anda. Dongeng yang menawan, ilmu pengetahuan dan imajinasi dalam tata bahasa yang ringan. Alasan ini yang membuat saya selalu jatuh cinta pada tulisan sang penulis, mulai dari A Cat in My Eyes, Curhat Setan, dan tulisan di Ruang Tengah.
Buku dongeng ini akan bagus jika anda hadiahkan pada orang yang anda sayangi, sebagai kado ulang tahun, sebagai mahar pernikahan (jika calon istri anda gemar membaca), atau untuk diri anda sendiri. Sekian, akan panjang jika saya teruskan, mungkin saya akan berceloteh tentang efek Rahim pada tulisan selanjutnya.
Tertarik?
Selamat berpetualang di Alam Rahim dan nikmati perjalanan anda :)
RATING: 8,5/10
===================================
Terima kasih kepada pihak inibuku yang telah memproses pesanan pre-order saya untuk novel Rahim. Paketan ini sampai tanpa cacat ke tangan saya pada tanggal 29 Juni 2010.
Terima kasih juga untuk mas Fahd Djibran atas tanda tangan dan badai pemikiran dalam Rahim, akan saya rawat baik-baik buku ini (walaupun saya bingung gimana nyampulin buku dengan cover berbentuk siluet lekuk tubuh wanita). Good job, dan selamat berdebar menanti kelahiran putra pertama :)
Judul: Rahim, Sebuah Dongeng KehidupanPenulis: Fahd Djibran
Penerbit: Goodfaith
Harga: Rp. 60.000 (dapat diskon 15% jadi Rp. 51.000)
Ini dia novel yang saya tunggu kehadirannya sejak bulan Mei yang lalu. Sayang sekali kehadirannya harus tertunda beberapa minggu, padahal saya berharap bisa membaca tulisan terbaru mas Fahd Djibran tepat di hari ulang tahun saya. Tapi tidak masalah, kadang menunggu menjadi rutinitas yang mendebarkan. Setiap kali membaca perkembangan novel ini di Ruang Tengah, saya selalu tidak sabar untuk mendapat jawaban dari pertanyaan, "Seperti apa sih novel Rahim? Apakah sebagus dua buku terdahulu yang ditulis mas Fahd Djibran?" inilah jawaban atas pertanyaan saya tersebut.
Ini cerita tentang Ayah dan Ibumu. Beberapa bulan setelah pernikahan mereka. Dan kau yang diam-diam menyalakan hidup di rahim suci Ibumu...
Yap, novel setebal 316 halaman ini berkisah tentang pasangan muda yang sedang menanti kelahiran bayi mereka, tetapi fokus yang diberikan adalah perkembangan bayi di dalam rahim sang calon ibu. Cerita mengalir dari bagaimana sang bayi terbentuk, bagaimana sang bayi menjalani hari-harinya hingga proses kelahiran, bagaimana sang bayi ingin tahu banyak hal, bagaimana sang bayi menyapa calon ayah dan ibunya dengan caranya sendiri, dan hal-hal menarik lainnya yang membuat saya berpikir betapa mengagumkan perkembangan seorang bayi di dalam rahim seorang perempuan. Kehidupan di Alam Rahim yang dulu pernah saya alami (dan semua orang), tetapi tidak ada sedikitpun ingatan tentangnya. Kehidupan yang terlupakan.
Kalau anda berpikir, "Ah, kalau hanya perkembangan bayi di dalam rahim, berarti sama saja dengan isi buku biologi untuk sekolah menengah, semua orang yang pernah sekolah pasti sudah tahu," sebenarnya memang demikian, sedikit mirip buku biologi karena beberapa istilah yang dipakai dalam buku ini adalah istilah kedokteran. Tetapi seperti yang tertulis di cover depan, buku ini adalah buku dongeng, kisah yang diceritakan adalah fakta ilmiah dalam balutan imajinasi yang menawan. Anda tidak perlu takut dengan sedikit istilah kedokteran yang ada di novel ini, karena istilah yang dipakai tidak memberatkan pembaca sama sekali, bahkan untuk saya yang tidak memiliki latar belakang kedokteran.
Jika novel pada umumnya selalu berisi tokoh protagonis, antagonis, klimaks cerita, happy/sad ending, maka saya beranggapan bahwa Rahim tidak seperti novel-novel yang pernah saya baca. Kisah yang diberikan mengalir maju dengan kecepatan pelan, hampir terkesan datar, bahkan saya tidak tahu siapa tokoh antagonis dan protagonis, saya juga tidak tahu apakah kisah ini berakhir senang, netral, duka atau gabungan ketiganya. Terkesan tidak menarik? Saya justru menikmati alur novel ini, selipan imajinasi yang dibangun oleh penulis disepanjang novel berhasil membuat saya terbuai dalam khayalan saya sendiri. Karenanya, alih-alih novel, saya lebih suka jika buku ini disebut buku dongeng.
Dan kini, disinilah aku, membawa tugas khusus yang mulia untuk mengembalikan kepercayaan dan sakralitas Alam Rahim di mata manusia.
Rahim, dalam buku ini disebutkan sebagai sesuatu yang sakral, sesuatu yang suci. Dia tidak hanya berfungsi sebagai seonggok daging tempat penitipan bayi yang diberikan Raja Semesta pada setiap perempuan. Lebih dari itu, Alam Rahim memiliki kehidupannya sendiri, sebuah tempat dimana kehidupan bermula, tempat dimana setiap manusia terbentuk sebelum peralihan menuju Alam Dunia. Sayangnya, manusia pada masa kini mulai melupakan sakralitas Alam Rahim. Rahim hanya dianggap sebagai organ reproduksi para perempuan. Bahkan lebih parahnya, banyak manusia tidak bermoral dan tidak bertanggung jawab yang menjadikan rahim sebagai tempat sampah.
Dakka Madakka, seorang utusan khusus dari Kerajaan Alam Rahim bertugas untuk mengembalikan sakralitas tersebut. Dia akan bercerita seperti apa kehidupan di Alam Rahim, mengapa alam itu begitu sakral dan suci. Dakka memulai kisah dengan memilih acak sesosok bayi yang baru memulai kehidupannya di Alam Rahim. Bersama Dakka dan sang bayi, para pembaca dapat berkelana dalam kisah mengagumkan disana. Saya tidak akan membocorkan isi Alam Rahim dalam tulisan ini, yang pasti, anda akan menemui beberapa petualangan, menemui banyak tokoh yang mengagumkan, hingga pada akhirnya anda akan berimajinasi bahwa anda juga pernah menjalani kehidupan disana. Anda akan dibuat seolah percaya bahwa anda, dulunya, pernah mengalami petualangan serupa.
Saya menuntaskan dongeng ini dalam satu malam. Duduk di pojok tempat tidur, sesekali tersenyum, beberapa kali menangis, membayangkan seperti apa rasanya jika ada bayi yang tumbuh di dalam rahim saya suatu hari nanti, termasuk mengingat beberapa kenakalan saya saat masih bocah, tersenyum lagi, menangis lagi. Sebuah perjalanan spiritual ringan yang akan membuat badai pikiran dan badai emosi pada anda. Dongeng yang menawan, ilmu pengetahuan dan imajinasi dalam tata bahasa yang ringan. Alasan ini yang membuat saya selalu jatuh cinta pada tulisan sang penulis, mulai dari A Cat in My Eyes, Curhat Setan, dan tulisan di Ruang Tengah.
Buku dongeng ini akan bagus jika anda hadiahkan pada orang yang anda sayangi, sebagai kado ulang tahun, sebagai mahar pernikahan (jika calon istri anda gemar membaca), atau untuk diri anda sendiri. Sekian, akan panjang jika saya teruskan, mungkin saya akan berceloteh tentang efek Rahim pada tulisan selanjutnya.
Tertarik?
Selamat berpetualang di Alam Rahim dan nikmati perjalanan anda :)
Memangnya kenapa kalau kau sudah besar? Dia tetap ibumu, ibu bagi kehidupanmu.
RATING: 8,5/10
===================================
Terima kasih kepada pihak inibuku yang telah memproses pesanan pre-order saya untuk novel Rahim. Paketan ini sampai tanpa cacat ke tangan saya pada tanggal 29 Juni 2010.Terima kasih juga untuk mas Fahd Djibran atas tanda tangan dan badai pemikiran dalam Rahim, akan saya rawat baik-baik buku ini (walaupun saya bingung gimana nyampulin buku dengan cover berbentuk siluet lekuk tubuh wanita). Good job, dan selamat berdebar menanti kelahiran putra pertama :)
Comment from Facebook #1
Mas Fahd, aku ud baca Rahim... Keren...:)Salute for U! Imajinasi Mas Fahd Luar biasa...I'm waiting for ur second Novel... Teruskan kebaikan ini... Hehe :)
--Miftahurrahmi Fitri, Padang.
Minggu, 04 Juli 2010
Comment from Twitter #1
Anastaha Lovinna, 04 July 2009, via ĆberTwittermisstashalov:
Baru slse baca "Rahim" dan wow. Rasanya spt stlh mengalami petualangan magis. Trimakasih @fahdisme uda menyalakan kembali mata hati saya :)
Langganan:
Postingan (Atom)
