Senin, 26 Juli 2010

Rahim Menginspirasi Wanita Indonesia

interview with woman.kapanlagi.com

KapanLagi.com - Fahd Pahdepie, sosok pria kelahiran Cianjur, 22 Agustus 1986 yang ramah ini, bagi sebagian orang tentu sudah tidak asing, apalagi bila Anda adalah sosok yang gemar membaca buku. Ya, benar, pria yang lebih populer dengan nama Fahd Djibran ini sempat menelurkan beberapa novel, di antaranya KUCING, BEING A SUPERSTAR,REVOLUSI SEKOLAH, INSOMNIA-AMNESIA: CATATAN MAHASISWA INSOMNIA BAGI BANGSA YANG AMNESIA, dan masih banyak lagi. Baru-baru ini, Fahd menelurkan sebuah buku dongeng berjudul RAHIM: SEBUAH DONGENG KEHIDUPAN, dan tak mau ketinggalan, Woman sempat mencuri waktu Fahd untuk menceritakan sebagian kecil inspirasi dari buku yang wajib dibaca ini. Yuk, ikuti cerita Fahd di balik buku RAHIM.

Fahd dan inspirasi tulisan

Woman: "Sejak kapan sih kamu suka menulis?"
Fahd: "Suka menulis sebenarnya sejak kecil, puisi pertamaku dimuat di PeeR Kecil (suplemen anak koran Pikiran Rakyat di Bandung) waktu aku masih kelas 3 SD. Sejak itu jadi suka menulis, sesekali ikut lomba-lomba. Sering kalah, beberapa kali menang. (tertawa). Tapi mulai serius menulis mungkin sejak SMA; sejak punya hobi menulis surat (cinta). Dulu sms dan internet belum merajalela, surat menjadi medium paling asyik untuk mengekspresikan perasaan dan gagasan."

Woman: "Ada nggak yang pernah protes tentang hobby menulis kamu?"
Fahd: "Rasanya nggak ada. Orang tua dan orang-orang terdekatku mendukung. Cuma, waktu SMA karena sering nulis hal-hal yang berbau kritik pada sekolah, aku pernah dipanggil kepala sekolah, diprotes dan diancam agar tak menulis lagi. Tapi orang yang suka baca tulisanku lebih banyak daripada kepala sekolah (kepala sekolah cuma 1). Cerita lengkap tentang ini aku tulis jadi buku, judulnya Revolusi Sekolah dan diterbitkan penerbit DAR!Mizan. Buku itu ditulis waktu masih kelas 3 SMA."

Woman: "Di usia kamu yang masih muda, kamu cukup produktif menghasilkan tulisan. Memangnya, dari mana sih inspirasi tulisan kamu?"
Fahd: "Dari mana saja. Hasil ngobrol atau diskusi dengan orang, cerita orang, menonton film, jalan-jalan, pergi ke mal, ke gunung, ke pasar, ke mesjid, ke mana saja, tapi terutama dari membaca buku-buku."

Woman: "Lantas, apa yang bikin kamu semangat menulis?"
Fahd: "Aku sering bilang gini, menulis adalah 'kesadaran sejarah'. Tulisan membuat pikiran dan perasaan jadi abadi, melintasi ruang dan waktu. Mungkin Einstein atau Newton sudah meninggal puluhan tahun lalu, tetapi kita masih bisa menengok gagasan dan pikirannya hingga saat ini. Pablo Neruda atau Chairil Anwar mungkin sudah tiada, tapi kita bisa mengetahui perasaan mereka tentang sesuatu dari apa yang mereka tuliskan. Scripta manent verba volant, kata pepatah Latin, apa yang terucap akan pergi bersama angin sedangkan apa yang tertulis akan abadi. Waktu sekolah aku suka ke perpustakaan dan membaca buku-buku. Aku membaca buku apa saja. Aku jadi tahu apa yang dipikirkan Soekarno muda saat ia berusia 30 tahun, aku tahu apa yang dipikirkan Natsir muda, lewat buku-buku mereka. Tapi sialnya, aku tak tahu apa yang dipikirkan kakekku ketika ia masih muda. Kita hanya bertemu sebentar dan beliau keburu meninggal. Apa masalahnya? Usut punya usut, ternyata masalahnya satu: Soekarno dan Natsir menulis, sementara kakekku tidak. Kakek tak sempat meninggalkan selembar pun tulisan buat penerusnya. Akhirnya, aku lebih mengenal siapa Soekarno, siapa Natsir, siapa Hatta, siapa Marx, siapa Borges, daripada kakekku sendiri. Lalu, apa yang bikin aku semangat menulis? Kelak, kalau sudah tua dan meninggal, aku nggak mau cucuku lebih mengenal orang lain daripada kakeknya sendiri. Cucuku, paling tidak, harus tahu apa yang dipikirkan kakeknya ketika dia masih muda. Itulah kesadaran sejarah."


Rahim, sebuah inspirasi dari 'makhluk Mars' Woman: "Dari mana sih bisa menulis RAHIM ini?"
Fahd: Sebenarnya sudah sejak lama aku pengin nulis novel, tapi belum kesampaian. Riset-riset dan berbagai bahan sudah dikumpulkan sejak lama, tapi bingung mau menulis apa untuk novel. Lagi pula aku pengin novel yang berbeda, novel yang nggak biasa dan jarang ditulis penulis lainnya di Indonesia—tema maupun gayanya. Kenapa akhirnya RAHIM? Empat bulan setelah pernikahanku, istriku dinyatakan positif hamil. Aku senang bukan main. Lalu aku membayangkan ingin berkomunikasi dengan janin anakku di dalam rahim istriku dengan apa yang aku pikirkan sekarang. Tapi kan nggak bisa. Makanya aku menuliskannya, dongeng untuk anakku sendiri yang kelak bisa ia baca kalau sudah besar. Nak, seolah-olah aku ingin bilang begitu, inilah yang dipikirkan ayahmu tentang apa yang terjadi di alam rahim saat kau dinyatakan ada di rahim ibumu. Awalnya begitu. Tapi rupanya idenya berkembang, akhirnya aku tuliskan menjadi sebuah novel yang bisa dibaca siapa saja. Anak-anak maupun orang dewasa. Aku lebih senang menyebutnya dongeng ketimbang novel. Tujuan yang lain: istriku nggak suka baca, ia hanya mau baca tulisanku, entah kenapa (tertawa). Nah, aku pikir istriku harus tahu tahap-tahap apa saja yang terjadi di setiap fase pertumbuhan janin di rahimnya (secara ilmiah-kedokteran)… agar dia mau baca itu, aku buatkan dongeng ini untuknya..."

Woman: "Kamu adalah seorang pria, tetapi mengapa justru memilih topik soal RAHIM yang notabene dunia wanita, bukan dunia pria?"
Fahd: "Aku nggak setuju ya kalo rahim itu hanya soal dunia wanita, rahim adalah dunia siapa saja. Perempuan atau laki-laki. Oh ya, aku lebih suka dengan kata 'perempuan' ketimbang kata 'wanita'. Jadi aku akan sebut 'perempuan'. Setiap orang pernah ada di sana selama kurang lebih 9 bulan sebelum terlahir di dunia. Jadi, itulah yang ingin aku ceritakan, ingatkan, dan maknai. Ada yang kita lupakan dari semua itu. Sesuatu yang penting, tonggak pertama perjalanan hidup kita. Bagiku, 'rahim' bukan sekadar 'organ' di tubuh perempuan—lebih dari itu, rahim adalah rumah suci pertama tempat Tuhan menitipkan kasih sayangnya berupa hidup pada kita semua."

Woman: "Selama penyelesaian buku RAHIM ini adakah kejadian lucu dan unik yang terjadi?"
Fahd: "Kejadian lucu mungkin nggak ada ya, mungkin lupa, tapi kejadian unik ada. Setelah naskah RAHIM jadi draft pertama, ceritanya aku bagikan pada beberapa pembaca pertama (dibantu sama manajemenku juga, KEA). Nah, respon para pembaca pertama ini unik-unik. Ada yang mengaku tersiksa semaleman karena harus repot nyari tissu tengah malem gara-gara nangis terus baca RAHIM. Ada pembaca pertama perempuan yang perokok, setelah baca RAHIM, dia memutuskan untuk berhenti merokok karena takut merusak Alam Rahim di rahimnya. Ada pembaca yang bertahun-tahun tidak pulang menemui orang tuanya, langsung memutuskan untuk pulang menemui orang tuanya. Ada pembaca yang nggak mau menikah karena berbagai alasan, tiba-tiba mengutarakan keinginannya untuk menikah. Ada yang sudah lama marahan sama ayahnya, ingin mengakhiri hubungan buruk mereka dan saling memaafkan.

Woman: "Apa pendapat bang Fahd tentang para Ibu yang tidak memperlakukan buah hatinya dengan baik, sejak dalam kandungan hingga lahir?"
Fahd: "Nah, ini yang membuatku miris. Para ibu seperti ini harus diberi pengertian. Mungkin mereka nggak tahu bahwa 'perlakuan', 'sikap', 'perkataan';, dan segala hal yang ia lakukan semasa hamil sangat mempengaruhi perkembangan bayinya. Ini juga jadi salah satu alasanku menulis RAHIM, harus lebih banyak orang yang diberitahu bahwa kehamilan bukan sekadar konsekuensi reproduktif dari sebuah relasi seksual, tetapi 'seluruh kehidupan' yang dititipkan Tuhan di rahim suci seorang perempuan. Kehidupan itu adalah kasih sayang tuhan. Ya, kasih sayang, dalam bahasa Arab itu disebut rahim. Itulah mengapa nama lain Tuhan juga Ar-Rahim, Sang Maha Penyayang. Di sini, aku berkesimpulan, mereka yang menyia-nyiakan kehamilan adalah mereka yang menyia-nyiakan hidup, menyia-nyiakan Tuhan. Tapi itu hanya pendapat, boleh setuju boleh juga enggak."

Woman: "Pesan apa sih yang sebenarnya ingin kamu sampaikan lewat buku RAHIM ini?"
Fahd: "Itu tadi, aku sudah sebutkan di atas. Rahim adalah nama lain dari Hidup, dari Tuhan. Kita harus benar-benar menjaga kesakralannya. Caranya, jangan main-main dengan rahim suci perempuanmu! Sekarang banyak anak muda melakukan seks bebas dan dengan mudah melakukan aborsi, aku ingin katakan di buku ini: jangan lakukan itu. Sekarang 115 ribu bayi terbunuh setiap hari, artinya ada 42 juta bayi korban aborsi setiap tahun. Andai kita bisa lebih menghargai hidup, memahami kesucian rahim, itu semua tak akan terjadi. Kita akan bisa menjaga sikap dan perilaku. Ada sebagian orang menganggap cita-citaku ini naif. Aku bilang, biar saja. Aku tetap menganggap pesan ini penting untuk di sampaikan. Sebenarnya ada satu lagi. Aku curiga saja, jangan-jangan relasi buruk orang-tua anak atau sebaliknya, adalah muasal dari banyak petaka yang ada; kebobrokan moral, eskaliasi kekerasan, eskalasi kejahatan, dan seterusnya. Seperti dikatakan Rasulullah dalam sebuah hadits. Aku membayangkan sebuah situasi di mana setiap anggota keluarga memiliki hubungan yang baik satu sama lain (ayah dengan ibu, orang tua dengan anak, kakak dengan adik, dan seterusnya), aku yakin keburukan akan bisa kita tolak, setidaknya kita minimalisir."


Bagian menarik dari RAHIM Woman: "Dari mana inspirasi tokoh-tokoh seperti Tuan Kucing yang Bisa Berbicara, Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki, Amadeus, Aynu Si Gadis Buta Penunjuk Jalan, Profesor Waktu, Nenek Olav, dan Mahavatara. Mengapa harus mereka? Adakah cerita di balik pemilihan tokoh tersebut?"
Fahd: "Wah, dari mana ya? Yang jelas, karena ini dongeng aku merasa perlu menghadirkan tokoh yang unik dan imajinatif. Ada beberapa pengaruh dari cerita-cerita dongeng yang aku baca juga. Tetapi setiap karakter aku buat seimajinatif mungkin dan sebenarnya memiliki makna tersendiri. Misalnya Aynu si Gadis Buta. Aynu dalam bahasa arab artinya mata. Aku sebenarnya ingin menunjuk pada situasi mata yang buta. Punya mata tetapi tak bisa melihat. Kita semua sering seperti itu. Mata kita nggak berfungsi dengan baik saat harus melihat kebenaran. Misalnya, mengapa kita menilai seseorang hanya sebatas dari yang kita lihat di permukaannya; pakaiannya, penampilannya, dan lainnya. Yang nggak jarang membuat kita tertipu. Kita seperti orang buta. Nah, setiap tokoh punya maknanya sendiri. Coba cari tahu artinya dalam bahasa lain atau asosiasikan dengan tokoh lain, karakter binatang, dan seterusnya. Pasti ketemu. Aku sengaja membuatnya begitu. Kalau aku tafsirkan di sini jadi nggak seru lagi. Silakan temukan maknanya sendiri."

Woman: "Apa yang ingin kamu sampaikan khususnya pada ibu kamu saat ini?"
Fahd: "Ibuku, tentang sikapku, tentang salahku, tentang sifatku, dan segala hal dalam hidupku yang bersinggungan denganmu, terima kasih dan maaf. Kaulah kecintaanku, perempuan yang akan kusayangi sampai aku mati." Sebagaimana yang aku tulis di RAHIM.

Woman: "Bagian mana dari buku RAHIM yang paling kamu suka?"
Fahd: "Aku menangis saat menuliskan bab Ibu dan Ayah. Ketika menuliskannya, aku sangat emosional. Konon, para pembaca juga menangis saat membaca dua bab ini. Aku hanya ingin bilang, aku pun menangis saat menuliskannya. Aku percaya sebuah teori; apa yang datang dari hati akan sampai ke hati. Tapi, kalau ditanya bab mana yang paling aku sukai? Aku suka bab yang menceritakan pertemuan si bayi dengan Mahavatara, bab berjudul Persiapan. Kenapa? Temukan sendiri jawabannya. Bacalah RAHIM. Temukan maknanya." (wo/bee)

sumber:
http://woman.kapanlagi.com/inspiring/people-we-love/5157-rahim-bang-fahd-menginspirasi-wanita-indonesia.html

Minggu, 18 Juli 2010

Apakah Rahim Sudah Tersedia di Kotamu

Menurut pihak penerbit dan distributor, ini dia laporan keberadaan Rahim:

  1. Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi – Sudah tersedia di semua toko buku.
  2. Bandung – Sudah tersedia di semua toko buku.
  3. Yogyakarta – Sudah tersedia di Gramedia Malioboro Mall dan Gramedia Sudirman.
  4. Surabaya – Sudah tersedia di Kertoarjo, yang lain menyusul. :)
  5. Surakarta – Sudah tersedia, masul 16 Juli 2010.
  6. Semarang – Sudah tersedia di Pandanaran dan Java Supermall, masuk 16 Juli 2010.
  7. Bandar Lampung – Sudah tersedia, masuk 17 Juli 2010.
  8. Malang – Sudah masuk toko 17 Juli 2010, besok (18 Juli 2010) sudah terdisplay.

Untuk daerah lain segera di-update lagi. Mohon kabarnya juga dari kalian semua ya. Kalo belum tersedia di kotamu, beritahu kami ya. :)

Bagi kalian yang nama kotanya belum tersebut dan ingin segera mendapatkan Rahim, bisa segera beli online di inibuku.com atau kirim e-mail pesanan ke kurniaesa.script@gmail.com

Salam,
KEA

Menikmati Tour Alam Rahim

Review by Ratu Fenny

Membuka halaman demi halaman dari buku Rahim yang ditulis dengan begitu memukau oleh penulis muda Fahd Djibran, seperti membawaku dalam perjalanan waktu, mengingat setiap saat-saat pertama kali dinyatakan positif hamil sampai melahirkan, mengingat masa-masa kecil ku, bagaimana kedua orang tua ku membuat aku menjadi seperti sekarang, dan seperti disadarkan seperti apa dulu kehidupanku di alam rahim mamaku.

Sungguh Fahd adalah pendongeng yang handal, mampu menyajikan kata demi kata yang mengantarkan kita pada suatu pemahaman hakiki untuk apa kita sebagai manusia dilahirkan, bahwa setiap manusia dari sejak alam rahim telah dibekali dengan ilmu-ilmu kebajikan dengan tujuan jika nanti terlahir ke alam dunia manusia dapat lebih banyak menyebarkan kebaikan. Betapa maha besar Raja Semesta menciptakan kita manusia dengan tugas yang begitu mulia.

Setiap bagian dari buku Rahim ini, Fahd selalu menyisipkan kata-kata bijak, sederhana tetapi begitu menghentak kesadaran ku sebagai manusia. Seperti "Matikan Matamu Nyalakan Hatimu" , karena seringkali sebagai manusia kita dibutakan dengan hal-hal yang tampak berkilau atau menyenangkan di mata, walaupun sebenarnya kita tidak pernah tau apa yang tersirat lebih dalam dari hanya yang tampak oleh mata. Dan masih banyak lagi pesan-pesan sederhana namun kaya makna yang disajikan oleh Fahd di buku ini.

Empat bagian favorite-ku dari buku Rahim ini adalah bagian Ibu, Persiapan, Aborsi dan Ayah. Saat membaca bagian Ibu, karena aku sendiri adalah seorang Ibu, bisa merasakan bagaimana mama ku berkorban dan merelakan setengah nyawanya untuk melahirkan diri ku ke alam dunia, aku pun kembali teringat jam demi jam yang kulalui saat aku berjuang melahirkan anak ku, perjuangan yang sampai detik ini pun masih mengagumkan diri ku sebagai wanita dan membuatku bangga terlahir sebagai wanita.

Sementara itu pada bagian Persiapan, dengan membaca bagian ini aku baru menyadari kenapa bayi pada saat akan dilahirkan kepala nya berada di bawah karena pada posisi itulah bayi melakukan penghormatan kepada Raja Semesta, keimanan dari bayi yang didasarkan dari keimanan Ibu yang mengandungnya. Kesyahduan penghormatan yang benar-benar pasrah, dan terus terang hal ini juga aku alami dalam proses kehamilan ku yang pada saat usia 8 bulan bayiku masih sungsang, lalu kupasrahkan kehendak ku pada Raja Semesta dengan banyak bersujud dan melafalzkan kebesaran nama-Nya, bersyukur menjelang proses kelahiran bayiku berputar posisi dengan kepala dibawah.

Lalu pada bagian Aborsi, aku seperti dilihatkan bagaimana dan kenapa proses aborsi dilakukan, benar-benar menyedihkan membaca nasib bayi-bayi mungil tak berdosa itu. Aku menangis sejadi-jadinya saat membaca surat dari bayi yang telah di aborsi, semoga praktek aborsi jangan pernah ada lagi di muka bumi ini karena itu sungguh mengerikan dan merupakan pembunuhan.

Pada bagian Ayah, di sana diperlihatkan bagaimana karakter seorang laki-laki aslinya, bahwa saat mereka sebagai Ayah, meskipun mereka khawatir, mereka sedih, mereka tidak berdaya, tapi sebagai kepala rumah tangga, sebagai suami dan sebagai Ayah mereka harus terlihat tegar, terlihat kuat serta sebagai panutan yang bisa mendidik dan melindungi keluarganya.

Last but not least, buku ini wajib dibaca siapa saja yang merasa dirinya manusia, karena buku ini tentang hidup semua manusia di alam rahim. Seperti yang diungkapkan Fahd di bagian akhir bukunya bahwa, "kelahiran hanyalah nama bagi peralihanmu dari Alam Rahim ke Alam Dunia. Kau tidak dilahirkan dalam pengertian yang sebenarnya, kau hanya mengalami peralihan, dari rahim Ibumu menuju rahim yang lebih besar lagi, yaitu Rahim Semesta".

Selamat mengikuti & menikmati Tour Alam Rahim!

Fe

R A H I M

Review by Harun Harahap (GoodReads)

”Suara, nyanyian, musik, gunung, pantai, langit, padang pasir, laut yang membuat mereka indah sesungguhnya hal yang tidak kelihatan. Matahari juga tak bisa ditatap langsung oleh mata, tetapi yang membuatnya indah bukan hal yang bisa ditatap langsung oleh mata kan? Selalu ada sesuatu. Sesuatu yang misterius tetapi sangat bermakna. Itulah yang harus kau temukan… Keindahan bukanlah yang kau dengar atau lihat. Keindahan adalah yang kau rasakan. Jauh sampai ke dalam hati.” (Hal.143)

Sebuah kutipan menarik dari novel “Rahim” karya Fahd Djibran. Saat pertama kali melihat novel ini, saya langsung memberikan minimal 2 bintang untuk novel ini. Tampilan depan yang sangat menarik, panduan antara gambar yang bagus dan siluet perempuan hamil yang bila dibuka terdapat gambar tahapan pertumbuhan seorang bayi. Di dalam novel ini juga terdapat gambar-gambar yang mendukung visualisasi cerita. Tulisan yang sedikit lebih besar dari biasanya dan kutipan yang disajikan dalam halam sendiri membuat ini makin menarik minat untuk menikmati tiap lembarnya.

Novel ini khas Fahd Djibran. Selalu mengajak kita merenung dan memikirkan kembali sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda. Novel ini mempunyai tokoh utama bernama Dakka, Pengabar Berita dari Alam Rahim. Dia menceritakan kejadian dari tiap tahap pertumbuhan, dari segumpal darah hingga ia pergi meninggalkan Alam Rahim menuju ke Alam Dunia. Menurut saya, Fahd sukses meramu antara pengetahuan ilmiah dengan filsafat kehidupan. Novel ini membuat pikiran kita berbeda dalam memaknai tiap kejadian.

Hal yang menarik dalam buku ini kita bisa merasakan bagaimana perasaan seorang Ibu sangat mengandung anaknya. Fahd membuat tulisan yang sangat bagus mengenai Ibu pada halaman 187:

”Kau tahu, bila kau diberi kesempatan untuk mengikuti seluruh gerak-gerik Ibumu ketika mengandungmu, melihat seluruh sketsa hidup yang ia jalani bersamamu di perutnya, kuyakinkan kepadamu bahwa ia melakukan segala hal yang terbaik yang bisa ia lakukan untuk menjagamu, merawatmu, memberikan segala yang terbaik untukmu.”

Fahd mengingatkan saya sendiri untuk selalu menghargai dan menghormati Ibu. Ibu saya mengandung saya lebih lama dari Ibu lainnya. Dia mengandung saya kurang lebih selama sepuluh bulan dengan berat lahir 4.6 kilogram. Fahd mengingatkan saya betapa sulit ibu saya menjalani aktivitas dengan keberadaan saya dalam perutnya. Semalam saya bertanya khusus kepadanya, ”Ribet ya ma? Berat bawa aku kemana-mana?”. Lalu ia menjawab, ”Berat sih iya, tapi santai aja tuh.” Jawaban sederhana tetapi penuh makna di belakangnya. Bahkan saya tak perlu melanjutkan bagaimana proses persalinan yang dialaminya untuk mengetahui seberapa besar perjuangan yang telah Ibu lakukan.

Perjuangan yang saya pun entah sanggup menjalaninya. Lalu dengan jahatnya kita setelah beranjak besar berani menyakiti hatinya. Fahd menulisnya dengan tepat pada halaman 194:

”Dialah ibumu, ibunda darah dagingmu. Diaalh Ibu kandungmu, Ibunda kehidupanmu. Lalu yang selalu membuatku heran, mengapa setelah kau dewasa dan merasa bisa mengurusi kehidupanmu sendiri kau akan melupakan semuanya? Melupakan segala kebaikan hati dan pengorbanannya? Dan kau berani memarahinya, membuatnya menangis dan bersedih, mengecewakan hatinya dan melukainya? Gerangan virus jahat macam apakah yang merasuki pikiranmu, membutakan hatimu?”

Peran ayah pun tak dilupakan pada novel ini. Ayah yang merelakan perhatian istrinya terbagi untuk anak-anaknya. Ayah yang berusaha untuk mendapatkan yang terbaik untuk anaknya, Ayah yang kesannya jauh dari jangkauan tapi menyayangi anaknya dengan sepenuh hatinya. Ayah yang rela dibenci anaknya karena bersikap tegas dan disiplin demi kehidupan yang lebih baik untuk anaknya di masa depannya kelak. Ada ketidaksetujuan saya dalam tulisan Fahd di halaman 255, ” Ayahmu barangkali bukan ayah yang terbaik di dunia,, tetapi ia selalu berusaha melakukan dan memberikan segala hal yang terbaik untukmu-sejauh yang ia bisa.” Menurut saya jika dia telah berusaha sejauh yang ia bisa, maka dialah Ayah terbaik di Dunia. Ayah saya, ayah anda dan ayah orang lain merupakan Ayah yang terbaik di dunia.

Ada bagian yang menarik dalam novel ini berupa surat bayi perempuan yang diaborsi ibunya. Isinya sangat menyayat hati dan membuat kita menyesali perbuatan aborsi yang banyak para wanita lakukan. Banyak pasangan suami istri yang tak kunjung mendapatkan seorang anak rela memberikan hartanya untuk mendapatkannya. Maka ketika ada kasus aborsi, muncullah pertanyaan di benak mereka apa sebenarnya rencana Tuhan?

Sebuah novel karya Fahd Djibran yang sangat layak untuk dibaca oleh kita semua, Tak peduli tua atau muda, sudah menikah atau belum. Fahd mengajak kita untuk melihat semuanya dari hati bukan dari mata. Seperti kutipan dalam novelnya:

”Tak semua jalan yang terlihat akan membawamu pada jalan yang benar. Kadang jalan yang benar adalah jalan yang tak terlihat oleh matamu. Jangan biarkan matamu yang memutuskan kemana kau akan pergi, biarkanlah hatimu yang memutuskan kemana kau ingin pergi.” (Hal.157)

Senin, 12 Juli 2010

Kakang Kawah, Adi Ari-ari

Review by Truly Ruidono

Judul : Rahim
Pengarang : Fahd Djibran
Editor : Nita Taufik
Ilustrasi : Adriane Yunita
Penerbit : Goodfaith
Tahun : Juni 2010
Ketebalan : 316
ISBN : 978-602-9600-2-5


Kakang kawah, Adi Ari-ari…..

Sejak kecil, sudah sering kudengar orang-orang disekitar mengucapkan kalimat itu sambil mengelus-elus perutnya dimana sang jabang bayi berada. Baru belakangan aku mengerti maknanya. Dan buku ini, memberikan nuansa makna yang berbeda mengenai tempat dimana sebuah kehidupan dimulai.

Buku ini mengisahkan tentang perjalanan seorang bayi di Alam Rahim. Rahim adalah nama lain Alam Semesta. Dongeng ini ditulis berdasarkan kisah yang disampaikan oleh Pengabar Berita dari Alam Rahim, Dakka Madakka kepada sang bayi. Dakka Madakka berpawakan agak pendek, berkulit hitam, menggunakan pakaian yang agak aneh dengan manik-manik menyala di dadanya dan bertuliskan AR (alam Rahim), serta berjalan etrgesa-gesa dan kondisi kaki kanan agak pincang. Dakka berasal dari suatu tempat dimana matahari terbit agak terlambat tiga puluh lima detik dan terbenam lebih cepat tiga ratus lima puluh detik.

Di Alam Rahim, ukuran tubuh sang jabang bayi berkembang dengan sangat cepat menjadi empat kali lipat lebih besar dari bentuk semulanya. Disana juga ada Menteri Khusus Urusan Mimpi Kerajaan Alam Rahim yang bertugas meracik makanan rahasia. Jika dimakan maka akan menyebabkan tidur juga membawa bayi yang tidur kemanapun ia mau.

Profesor Waktu yang bertugas di Alam Rahim menyebutkan angka 24.471.165 detik. keseluruhan waktu setara dengan 9 bulan, 13 hari, 5 jam,32 menit dan 45 detik. Semuanya terlihat cepat! Mengingat 1 detik di Alam Rahim sama dengan 1 menit di Alam Dunia . Bayangkan selama ibu seorang ibu harus membawa beban sekian kilo di tubuhnya. Beban yang dibawa dengan rasa syukur dan kasih sayang.

Saya jadi teringat sebuah pengalaman pribadi beberapa tahu lampau. Sebagai anak tunggal, jagoan neonku sering tanpa sengaja mendapat perhatian dan perlakuan ekstra hingga membuatnya sedikit egois. Saat keinginannya tidak terpenuhi maka bisa timbul aksi unjuk rasa. Untuk membuatnya mengerti sesuatu hal tidak bisa dengan kata-kata namun harus dengan penjelasan sebab-akibat dan contoh kongkrit.

Suatu saat badanku sedang letih tak tertahan, dan ia memaksaku untuk menemaninya ke mall. Segala rayuan tidak mempan, memberikan pengertian lelah juga tidak bisa. Akhir sebuah kompromi disepakati. Anggap saja lelahku ini seperti ibu hamil, maka cobalah mengikat bantal kecil ke badan selama sekian jam tanpa dilepas. Jika ia mampu maka aku berjanji akan menemaninya ke mall dan membelikan makanan kesukaannya.

Untuk sekian menit bertama, wajahnya masih menunjukkan keceriaan, ada permainan baru baginya. Satu jam pertama, tawar menawar mulai dilakukan. Ia merayuku agar boleh melepas bantal kecil itu sebentar dengan alasan mau ke kamar kecil, tentunya ku tolak. Ku terangkan bahwa selama 9 bulan aku selalu membawanya kemanapun, dari ke kentor hingga mandi, Dalam kondisi sehat maupun sakit Akhirnya baru 2 jam ia menyerah dan mau memahami bagaimana pengorbanan seorang ibu membawa bayi dalam rahimnya selama 9 bulan! Tapi namanya juga anak-anak , sikap manisnya itu, maksudnya sangat manis hanya bertahan seminggu! Walau kembali ke sifat asal, namun terus terang ia sedikit berubah.

Setiap bab dalam buku ini diakhiri dengan sebuah paragraph yang berisi kalimat yang patut direnungi maknanya. Selain itu terdapat juga karikatur yang sangat sesuai dengan isi yang terkandung dalam bab itu. Namun yang sama, disetiap akhir bab ada gambar perjalanan sang jabang bayi.

Buku ini sarat akan makna kehidupan. Setiap individu diharapkan setelah membaca buku ini akan mensyukuri keberadaannya serta mensyukuri kehidupan yang dititipkan dalam wujud anak kepada mereka. Bacaan yang sangat cocok dibaca untuk para wanita serta para calon ayah bahkan yang sudah menjadi ayah.

Cocok juga untuk diberikan kepada buah hati . Belakangan banyak sekali anak-anak yang tak menghargai ibunya. Anak-anak yang tak menyayangi ibunya, yang sama sekali lupa bahwa mereka pernah meminjam setengah nyawa ibunya ketika hidup selama sembilan bulan di dalam kandungan ibunya.

Kembali saya teringat cerita seorang sahabat. Ia dengan bangganya bercerita, saat melahirkan anak pertama, sang suami ikut menemani ke dalam kamar bersalin. Sang suami membantunya mengatasi rasa sakit dengan merelakan tanganya dipegang sedemikian kuatnya hingga lecet-lecet kena kuku. Sang suami juga melihat bagaimana bayi merah itu dibersihkan sebelum diberikan untuk di Adzan-kan. Sejak saat itu kasih sayang sang suami kian melimpah.

Namun…, beberapa tahun kemudian kami mendapat khabar jika rumah tangga mereka sudah berakhir. Saat bertemu sang sahabat hanya tertawa ketika ditanya kepastian berita itu. Hal ini tentunya aneh mengingat baru beberapa waktu yang lalu sang suami selalu memuji perjuangan sang istri saat melahirkan.

Seandainya ada sebuah buku atau semacam kenangan yang bisa mengingatkan bagaimana perjuangan seorang ibu saat mengandung dan melahirkan anak, tentunya ia tidak akan pernah lupa dan berbuat yang aneh-aneh” Kata sahabatku sambil berkaca-kaca. “ Sudah melihatku berjuang saja ia masih macam-macam bagaimana jika tidak” Sambungnya lagi. Kami hanya bisa terdiam tidak tahu harus berkata apa.

Satu-satunya kekurangan dari buku ini buat saya adalah pengurangan cerita mengenai betapa cepatnya waktu berjalan di Dunai Rahim. Entah untuk penegasan atau dilakukan tanpa sengaja, namun sepertinya cukup jika diuraikan satu kali saja, sehingga kesan dramatisnya lebih terasa.

Dari keseluruhan buku, kalimat yang saya paling suka adalah : “ Memberi adalah mendapatkan lebih” Serta “Para ibu memberikan setengah nyawanya untuk sang jabang bayi selama berada di Alam Rahim”

Bintang 5 untuk buku ini
Jika anda para Ibu/calon ibu, buku ini sangat perlu dibaca!
Eh lupa................, di rekomendasikan oleh Kick Andy lho....!

Review Novel Rahim ( Sebuah Dongeng Kehidupan)

Review by Nastiti Rahayu a.k.a Hujan

Pengarang : Fahd Djibran
Harga : Rp. 60.000
Tebal : 316 Halaman
Penerbit : Goodfaith

Rahim adalah sebuah novel tentang sebuah dongeng kehidupan yang ditulis oleh Fahd Djibran, nama pena dari Fahd pahdepie. Dalam novel pertamanya ini, kita akan menemui tokoh-tokoh seperti Dakka Madakka, seorang Pengabar Berita dari Alam Rahim yang berasal dari kota Ura. Dia akan menceritakan apa yang kita alami di alam Rahim mulai dari embrio sampai berusia 9 bulan. Selain Dakka madakka,kita juga akan menemui tokoh-tokoh seperti ikan mas yang jadi koki, nenek olav dan juga Mahavatara. Semua dari mereka akan memberi kita pesan dan pelajaran yang sangat penting untuk bekal kita di Alam dunia, tapi sekarang ini banyak yang melupakan nasihat-nasihat mereka.
Apa kau tahu bahwa kini ada 42 juta kasus aborsi terjadi setiap tahun, itu sekitar 115.000 peristiwa aborsi setiap harinya di seluruh dunia. Tak tahukah para calon orang tua itu, kalau bayi mereka itu sangat berharga. Tidak semua orang bisa memiliki kesempatan untuk memilikinya bukan?? Bayi yang tidak tahu apa-apa, tidak punya pilihan untuk berada di rahim siapa, itu sudah di catat dalam Buku Besar Bukan??

Apa kau tahu, alam dunia juga merupakan rahim semesta, kita berproses disini dan di tuntut untuk matang dan nantinya akan mengalami peralihan ke alam lain, ingatlah semua pelajaran yang kau dapat di alam rahim kawan??

Novel ini akan membuat kita berpikir ulang dan lebih menghargai hidup. Ada saat-saat dimana kita akan terenyuh dengan cerita tentang ayah dan tentang ibu, kita akan teringat segala kesalahan-kesalahan kita pada dua orang yang paling mencintai kita.

Buku jenis ini memang masih sangat jarang di tulis oleh penulis indonesia, sehingga novel ini sangat terasa keunikannya. Buku ini akan membuat kita larut di dalamnya. Bahasa yang digunakan untuk menggambarkan setiap kejadian sangat pas,terkadang kalimat-kalimatnya akan membuat kening kita berkerut dan membuat kita tertawa. Selamat membaca,dan apabila kalian menemukan kebaikan dalam buku ini, dan merasa cukup terkesan, Teruskan kebaikan ini... (begitu pesan fahd)

3.8 dari 5 bintang

Salam hangat,
Hujan

Jumat, 09 Juli 2010

Workshop "Creative Writhink" dan Soft-Lauching "Rahim"

Oleh Admin



Teman-teman, hadirilah workshop CREATIVE WRITHINK dan soft-lauching novel RAHIM bersama Fahd Djibran, Sabtu 31 Juli 2010 pukul 08.00-Selesai bertempat di Gedung Dewan Kesenian Cianjur - Cianjur - Jawa Barat. Don't miss it! :)

Untuk informasi lebih lanjut kalian bisa menghubungi Yusuf Gigan di email giganyusuf@yahoo.co.id Atau telepon 087820656384. Bisa juga ke kurniaesa.script@gmail.com :)