Minggu, 26 September 2010
Rabu, 22 September 2010
Lagu Malam (6)
: untuk anakku, saat berusia tujuh bulan di rahim istriku
anakku, segeralah datang dalam dekapan,
sejujurnya aku sudah tak sabar
membiarkan telunjukku digenggam jemari kecilmu
tenggelam dalam laut matamu yang lugu
merasakan getar tangan dalam tangan
getar mata dalam mata, senyuman
anakku, aku tak sabar menantikan tangis pertamamu
membentangkan cakrawala, menggetarkan keluasan dunia
lalu menerbitkan matahari di rumah kami berkali-kali
aku dan ibumu, berjanji memberimu nama
bagai doa yang tak putus-putus selamanya
dan kamu, berjanjilah tak akan mengkhianatinya
kalau malam datang, aku berjanji menutup buku-bukuku
mematikan komputer dan merapikan meja kerjaku
aku akan berusaha bertarung melawan insomniaku,
lalu meninggalkannya demi mengantarmu mengarungi
negeri dongeng, atau menemukan kancil nakal di kebun paman petani
akan kukenalkan kau pada Syahrazad, Nasrudin, sampai Muhammad
nama-nama yang dari mereka kudapati semesta hikmah dalam kisah
maka mari kita tidur bersama;
aku, ibumu, dan kamu yang kami dekap
dengan dzikir dan doa, cinta
anakku, kalau kau terbangun di malam sunyi
dan ingin pipis, lakukanlah sesuka yang kau mau
aku tak akan memarahimu, sugguh dengan bahagia
aku akan mencuci helai-helai popokmu
seperti doa yang membasuh benih-benih duka
dan sebab-sebab air mata dari hidupmu
: itulah tahajudku
suatu hari aku akan mengajarimu berwudhu
membersihkan kebencian dan kesombongan dari dirimu
membasuh tanganmu dengan tanganku
mengusap rambutmu membasuh kakimu
lalu akan kuajarkan kepadamu kata-kata, kalimat, bahasa
yang kumulai dengan nama Tuhan dan kuakhiri dengan salam perdamaian
itulah shalatmu, membentangkan helai-helai
sajadah waktu dalam hidupmu
anakku, segeralah datang dalam dekapan,
tumbuhlah menjadi dirimu sendiri
aku tak akan berusaha menjadi busur bagi dirimu
sebab kau bukan anak panah yang mesti kubidikkan ke mana-mana
kaulah lesat bagi gerakmu sendiri, tuan bagi dirimu sendiri,
maka lupakanlah Gibran yang bermimpi jadi Nabi
anakku, inilah sajakku untukmu
jika suatu hari saat kau sudah dewasa dan membacanya
lalu menganggapku berlebihan dalam mencintaimu
maafkan, aku sesungguhnya hanyalah seorang ayah
yang terlalu cemas dan khawatir menerka-nerka waktu
: akankah sampai, ciumku pada keningmu?
Fahd Djibran, penulis novel Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan
PS: Rahim adalah sebuah novel yang dikemas dalam format dongeng, saya menuliskannya khusus untuk menyambut kelahiran anak saya Desember mendatang (mohon doanya dari teman-teman semua :D). Bacalah, lalu mari bersama-sama, kau dan aku, mengarungi samudera cinta dan semesta kasih sayang—orang tua pada anaknya. Dapatkan bukunya di Gramedia atau toko buku lainnya, bisa juga dipesan melalui: kurniaesa.order@gmail.com
anakku, segeralah datang dalam dekapan,
sejujurnya aku sudah tak sabar
membiarkan telunjukku digenggam jemari kecilmu
tenggelam dalam laut matamu yang lugu
merasakan getar tangan dalam tangan
getar mata dalam mata, senyuman
anakku, aku tak sabar menantikan tangis pertamamu
membentangkan cakrawala, menggetarkan keluasan dunia
lalu menerbitkan matahari di rumah kami berkali-kali
aku dan ibumu, berjanji memberimu nama
bagai doa yang tak putus-putus selamanya
dan kamu, berjanjilah tak akan mengkhianatinya
kalau malam datang, aku berjanji menutup buku-bukuku
mematikan komputer dan merapikan meja kerjaku
aku akan berusaha bertarung melawan insomniaku,
lalu meninggalkannya demi mengantarmu mengarungi
negeri dongeng, atau menemukan kancil nakal di kebun paman petani
akan kukenalkan kau pada Syahrazad, Nasrudin, sampai Muhammad
nama-nama yang dari mereka kudapati semesta hikmah dalam kisah
maka mari kita tidur bersama;
aku, ibumu, dan kamu yang kami dekap
dengan dzikir dan doa, cinta
anakku, kalau kau terbangun di malam sunyi
dan ingin pipis, lakukanlah sesuka yang kau mau
aku tak akan memarahimu, sugguh dengan bahagia
aku akan mencuci helai-helai popokmu
seperti doa yang membasuh benih-benih duka
dan sebab-sebab air mata dari hidupmu
: itulah tahajudku
suatu hari aku akan mengajarimu berwudhu
membersihkan kebencian dan kesombongan dari dirimu
membasuh tanganmu dengan tanganku
mengusap rambutmu membasuh kakimu
lalu akan kuajarkan kepadamu kata-kata, kalimat, bahasa
yang kumulai dengan nama Tuhan dan kuakhiri dengan salam perdamaian
itulah shalatmu, membentangkan helai-helai
sajadah waktu dalam hidupmu
anakku, segeralah datang dalam dekapan,
tumbuhlah menjadi dirimu sendiri
aku tak akan berusaha menjadi busur bagi dirimu
sebab kau bukan anak panah yang mesti kubidikkan ke mana-mana
kaulah lesat bagi gerakmu sendiri, tuan bagi dirimu sendiri,
maka lupakanlah Gibran yang bermimpi jadi Nabi
anakku, inilah sajakku untukmu
jika suatu hari saat kau sudah dewasa dan membacanya
lalu menganggapku berlebihan dalam mencintaimu
maafkan, aku sesungguhnya hanyalah seorang ayah
yang terlalu cemas dan khawatir menerka-nerka waktu
: akankah sampai, ciumku pada keningmu?
Fahd Djibran, penulis novel Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan
PS: Rahim adalah sebuah novel yang dikemas dalam format dongeng, saya menuliskannya khusus untuk menyambut kelahiran anak saya Desember mendatang (mohon doanya dari teman-teman semua :D). Bacalah, lalu mari bersama-sama, kau dan aku, mengarungi samudera cinta dan semesta kasih sayang—orang tua pada anaknya. Dapatkan bukunya di Gramedia atau toko buku lainnya, bisa juga dipesan melalui: kurniaesa.order@gmail.com
Jumat, 17 September 2010
Ketika Laki-laki Mengisahkan Tentang Rahim
Resensi Nunung Nurnaningsih
Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan. Sebuah novel yang mampu membuatku terpaku membacanya hingga beberapa lama. Mungkin terdengar klise atau terlalu berlebihan. Tapi ya... katakanlah setiap karya akan memiliki nilai "lebih" ketika nilai-nilai yang coba disampaikan penulis melalui karyanya itu dapat diterima oleh pembacanya. Atau ketika sang pembaca merasa memiliki ikatan dengan karya tersebut mungkin karena karya tersebut laksana cermin bagi kehidupannya.
Dari sekian banyak karya yang kubaca, Rahim karya Fahd Djibran mampu mengaduk-aduk emosiku bahkan sejak melihat sampulnya saja. Meskipun sejak sebelum memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini pun aku sudah berasumsi bahwa aku akan mudah takluk dengan kisah-kisah seputar kelahiran, kehamilan, kehidupan baru, rahim, bayi, aborsi, dan sebagainya. Dan asumsiku pun benar (semoga aku tak pernah salah menafsirkan apa yang kurasakan).
Mungkin kalian bertanya, apa istimewanya novel Rahim ini? Beberapa tahun silam aku pernah membaca karya serupa dengan Rahim, kalau tidak salah berjudul Fetussaga karya Jamal. Mengapa aku bilang serupa, hal ini karena kedua novel ini sama-sama berkisah tentang kehidupan di dalam rahim Ibu. Lantas apa istimewanya novel Rahim? Ada beberapa hal yang mungkin menurut saya Rahim karya Fahd Djibran ini memiliki "rasa" yang berbeda.
Yang pertama karena Fahd meramu semua informasi yang ia ketahui tentang kehamilan dan dunia rahim menjadi sebuah novel dengan gaya penceritaan yang "berbeda". Ia menjejali pembaca dengan berbagai informasi "medis", nilai-nilai moral, pesan cinta, dll dengan cara mendongeng dan mengajak pembaca berdialog. Hal ini secara tidak sadar mampu mengikat emosi pembaca untuk terus larut dalam dongeng yang ia sampaikan.
Kedua, berkaitan dengan poin sebelumnya, banyaknya informasi yang diberikan dalam novel ini serta dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang ada di dalamnya membuat pembaca secara mudah memvisualisasikan imajinasi mereka. Bagiku, kekuatan Fahd dalam novel ini adalah ia mampu mendeskripsikan secara detail apa saja yang mungkin terjadi di dalam rahim.
Yang selanjutnya ini mungkin terdengar begitu subjektif. Seperti yang sempat kusampaikan di awal catatan ini, sebuah karya akan mempunyai nilai lebih ketika sang pembaca merasa memiliki ikatan terhadap karya tersebut. Aku menangis, sejak awal membaca novel ini. Untuk kali ini, aku tak dapat menafsirkan arti tangisan itu. Kisah di awal novel yang menggambarkan beragamnya reaksi laki-laki tentang sebuah kehamilan. Ada yang berbinar bahagia, ada pula yang dingin menolak. Atau kisah lain tentang banyaknya pasangan yang melakukan aborsi karena tidak siap menjadi orang tua atau kisah pasangan yang puluhan tahun tak mendapat keturunan. Dari situ saja perasaan saya sudah diaduk-aduk.
Semakin banyak lembar-lembar yang kubaca. Yang kurasakan adalah ngilu, entah bagian mana dari tubuhku yang begitu sakit serasa tercabik-cabik.
Novel ini, semakin membuatku percaya bahwa setiap anak yang dititipkan pada rahim kita, entah apakah ia buah dari ritual suci yang diiringi doa ataupun buah dari apa yang dianggap sebuah kesalahan, adalah sebuah anugerah yang layak untuk diperjuangkan dan dipertahankan.
Aku kagum pada Fahd, seorang laki-laki, suami, dan calon ayah, yang berusaha memaknai setiap detik hadirnya calon buah hatinya di rahim istrinya dan menuangkannya pada sebuah karya yang indah. Andai semua laki-laki mampu menyadari betapa berartinya menjadi seorang ayah dan orang tua. Andai semua laki-laki menghargai setiap kehidupan yang hadir di rahim perempuannya. Andai semua orang, laki-laki dan perempuan, tidak berbuat bodoh dengan menghilangkan kesempatan sebuah kehidupan untuk terlahir di dunia. Andai semua orang, laki-laki dan perempuan, menyadari bahwa apapun kesalahan mereka, seorang anak yang baru terlahir adalah manusia suci tanpa dosa. Andai saja... mereka membaca novel ini, jauh sebelum mereka memutuskan untuk mengaborsi janin, membunuh anak-anak mereka yang baru terlahir, meninggalkan perempuannya yang tengah hamil dalam kekalutannya seorang diri, menyia-nyiakan kehidupan yang dititipkan Tuhan pada mereka... Andai saja....
Andai semua itu terjadi, maka tidak akan ada kisah-kisah menyakitkan lagi tentang anak-anak yang ditolak, anak-anak yang dibunuh, janin-janin yang berguguran. Tidak akan ada lagi keputus asaan...
Ketika laki-laki mengisahkan tentang rahim, maka seharusnya kisah itu tak hanya habis dalam lembar-lembar yang mungkin akan usang seiring dengan waktu. Tapi kisah ini harus terus dikabarkan dari satu orang ke orang lain, dari perempuan satu ke perempuan lain, laki-laki satu ke laki-laki lain, anak satu ke anak lain. Dan ketika kisah ini terus terus terkabarkan, Rahim bukan lagi menjadi sebuah dongeng tentang kehidupan. Tapi akan berubah menjadi sebuah kesadaran massal atas pentingnya sebuah kehidupan bahkan sejak berada di dalam rahim.
--
*Sumber tulisan diambil dari sini.
Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan. Sebuah novel yang mampu membuatku terpaku membacanya hingga beberapa lama. Mungkin terdengar klise atau terlalu berlebihan. Tapi ya... katakanlah setiap karya akan memiliki nilai "lebih" ketika nilai-nilai yang coba disampaikan penulis melalui karyanya itu dapat diterima oleh pembacanya. Atau ketika sang pembaca merasa memiliki ikatan dengan karya tersebut mungkin karena karya tersebut laksana cermin bagi kehidupannya.
Dari sekian banyak karya yang kubaca, Rahim karya Fahd Djibran mampu mengaduk-aduk emosiku bahkan sejak melihat sampulnya saja. Meskipun sejak sebelum memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini pun aku sudah berasumsi bahwa aku akan mudah takluk dengan kisah-kisah seputar kelahiran, kehamilan, kehidupan baru, rahim, bayi, aborsi, dan sebagainya. Dan asumsiku pun benar (semoga aku tak pernah salah menafsirkan apa yang kurasakan).
Mungkin kalian bertanya, apa istimewanya novel Rahim ini? Beberapa tahun silam aku pernah membaca karya serupa dengan Rahim, kalau tidak salah berjudul Fetussaga karya Jamal. Mengapa aku bilang serupa, hal ini karena kedua novel ini sama-sama berkisah tentang kehidupan di dalam rahim Ibu. Lantas apa istimewanya novel Rahim? Ada beberapa hal yang mungkin menurut saya Rahim karya Fahd Djibran ini memiliki "rasa" yang berbeda.
Yang pertama karena Fahd meramu semua informasi yang ia ketahui tentang kehamilan dan dunia rahim menjadi sebuah novel dengan gaya penceritaan yang "berbeda". Ia menjejali pembaca dengan berbagai informasi "medis", nilai-nilai moral, pesan cinta, dll dengan cara mendongeng dan mengajak pembaca berdialog. Hal ini secara tidak sadar mampu mengikat emosi pembaca untuk terus larut dalam dongeng yang ia sampaikan.
Kedua, berkaitan dengan poin sebelumnya, banyaknya informasi yang diberikan dalam novel ini serta dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang ada di dalamnya membuat pembaca secara mudah memvisualisasikan imajinasi mereka. Bagiku, kekuatan Fahd dalam novel ini adalah ia mampu mendeskripsikan secara detail apa saja yang mungkin terjadi di dalam rahim.
Yang selanjutnya ini mungkin terdengar begitu subjektif. Seperti yang sempat kusampaikan di awal catatan ini, sebuah karya akan mempunyai nilai lebih ketika sang pembaca merasa memiliki ikatan terhadap karya tersebut. Aku menangis, sejak awal membaca novel ini. Untuk kali ini, aku tak dapat menafsirkan arti tangisan itu. Kisah di awal novel yang menggambarkan beragamnya reaksi laki-laki tentang sebuah kehamilan. Ada yang berbinar bahagia, ada pula yang dingin menolak. Atau kisah lain tentang banyaknya pasangan yang melakukan aborsi karena tidak siap menjadi orang tua atau kisah pasangan yang puluhan tahun tak mendapat keturunan. Dari situ saja perasaan saya sudah diaduk-aduk.
Semakin banyak lembar-lembar yang kubaca. Yang kurasakan adalah ngilu, entah bagian mana dari tubuhku yang begitu sakit serasa tercabik-cabik.
Novel ini, semakin membuatku percaya bahwa setiap anak yang dititipkan pada rahim kita, entah apakah ia buah dari ritual suci yang diiringi doa ataupun buah dari apa yang dianggap sebuah kesalahan, adalah sebuah anugerah yang layak untuk diperjuangkan dan dipertahankan.
Aku kagum pada Fahd, seorang laki-laki, suami, dan calon ayah, yang berusaha memaknai setiap detik hadirnya calon buah hatinya di rahim istrinya dan menuangkannya pada sebuah karya yang indah. Andai semua laki-laki mampu menyadari betapa berartinya menjadi seorang ayah dan orang tua. Andai semua laki-laki menghargai setiap kehidupan yang hadir di rahim perempuannya. Andai semua orang, laki-laki dan perempuan, tidak berbuat bodoh dengan menghilangkan kesempatan sebuah kehidupan untuk terlahir di dunia. Andai semua orang, laki-laki dan perempuan, menyadari bahwa apapun kesalahan mereka, seorang anak yang baru terlahir adalah manusia suci tanpa dosa. Andai saja... mereka membaca novel ini, jauh sebelum mereka memutuskan untuk mengaborsi janin, membunuh anak-anak mereka yang baru terlahir, meninggalkan perempuannya yang tengah hamil dalam kekalutannya seorang diri, menyia-nyiakan kehidupan yang dititipkan Tuhan pada mereka... Andai saja....
Andai semua itu terjadi, maka tidak akan ada kisah-kisah menyakitkan lagi tentang anak-anak yang ditolak, anak-anak yang dibunuh, janin-janin yang berguguran. Tidak akan ada lagi keputus asaan...
Ketika laki-laki mengisahkan tentang rahim, maka seharusnya kisah itu tak hanya habis dalam lembar-lembar yang mungkin akan usang seiring dengan waktu. Tapi kisah ini harus terus dikabarkan dari satu orang ke orang lain, dari perempuan satu ke perempuan lain, laki-laki satu ke laki-laki lain, anak satu ke anak lain. Dan ketika kisah ini terus terus terkabarkan, Rahim bukan lagi menjadi sebuah dongeng tentang kehidupan. Tapi akan berubah menjadi sebuah kesadaran massal atas pentingnya sebuah kehidupan bahkan sejak berada di dalam rahim.
--
*Sumber tulisan diambil dari sini.
Senin, 16 Agustus 2010
Novel Baru Fahd Djibran
Oleh Fahd Djibran
Menatap Punggung Muhammad
“Di balik tragedi dan keluh kesah hidup yang tak pernah berkesudahan, impian, cita-cita dan dambaan manusia tentang kebaikan, keindahan, cinta dan kedamaian selalu memberikan energi positif-optimis manusia dalam menelusuri lorong-lorong sejarah. Kehadiran sosok agung seperti para Nabi dan orang-orang yang tercerahkan senantiasa memancarkan pelita di saat kita berada dalam keremangan dan kegelapan. Novel ini mengajak kita merenung, menyibak tirai pikiran dan emosi negatif yang menutupi sumber cahaya ilahi, baik yang ada dalam diri maupun di alam semesta.”
Prof. Dr. Komarudin Hidayat
Guru Besar Filsafat Agama, UIN Jakarta
====================
Novel ini akan terbit dan segera beredar di toko buku mulai 17 Ramadhan 1431 H / 28 Agustus 2010. Distribusi akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari toko-toko buku di Jabodetabek. Dilanjutkan pemerataan distribusi ke daerah lainnya pada minggu-minggu berikutnya. Bagi Anda yang ingin segera mendapatkan buku ini bisa memesannya secara langsung ke KurniaEsa melalui e-mail kurniaesa.script@gmail.com. Anda akan menerima buku tersebut sebelum bukunya beredar di toko buku. :)
Menatap Punggung Muhammad
a Novel by Fahd Djibran
“Di balik tragedi dan keluh kesah hidup yang tak pernah berkesudahan, impian, cita-cita dan dambaan manusia tentang kebaikan, keindahan, cinta dan kedamaian selalu memberikan energi positif-optimis manusia dalam menelusuri lorong-lorong sejarah. Kehadiran sosok agung seperti para Nabi dan orang-orang yang tercerahkan senantiasa memancarkan pelita di saat kita berada dalam keremangan dan kegelapan. Novel ini mengajak kita merenung, menyibak tirai pikiran dan emosi negatif yang menutupi sumber cahaya ilahi, baik yang ada dalam diri maupun di alam semesta.”
Prof. Dr. Komarudin Hidayat
Guru Besar Filsafat Agama, UIN Jakarta
====================
Novel ini akan terbit dan segera beredar di toko buku mulai 17 Ramadhan 1431 H / 28 Agustus 2010. Distribusi akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari toko-toko buku di Jabodetabek. Dilanjutkan pemerataan distribusi ke daerah lainnya pada minggu-minggu berikutnya. Bagi Anda yang ingin segera mendapatkan buku ini bisa memesannya secara langsung ke KurniaEsa melalui e-mail kurniaesa.script@gmail.com. Anda akan menerima buku tersebut sebelum bukunya beredar di toko buku. :)
Sabtu, 14 Agustus 2010
MAU DAPET MODEM GRATIS?
Lomba by Admin
Share pengalaman pribadi kamu setelah membaca "RAHIM: Sebuah Dongeng Kehidupan" karya Fahd Djibran. Bisa cerita tentang apa saja; pengalaman menarik, pengalaman menyentuh, pengalaman mengharukan, pengalaman lucu, atau apapun. Tulislah jadi catatan Facebook atau posting blog. Tag kepada sebanyak mungkin orang dan sebarkan "pengalaman kebaikan" kamu kepada sebanyak mungkin orang. Tulisan maksimal 2 halaman, kirimkan ke e-mail rahimsemesta@gmail.com beserta link blog atau catatan FB kamu. Tulisan diposting dan dikirim ke email kami paling lambat tanggal 31 Agustus 2010. Satu tulisan yang paling "personal" berhak mendapatkan modem HUAWEI seharga IDR 500.000 persembahan dari Wellcomm. Pemenang akan diumumkan tanggal 1 September 2010. :)
Ayo, sebarkan kebaikan ini kepada sebanyak mungkin orang. :)
Kepedulian Rahim Semesta
Share pengalaman pribadi kamu setelah membaca "RAHIM: Sebuah Dongeng Kehidupan" karya Fahd Djibran. Bisa cerita tentang apa saja; pengalaman menarik, pengalaman menyentuh, pengalaman mengharukan, pengalaman lucu, atau apapun. Tulislah jadi catatan Facebook atau posting blog. Tag kepada sebanyak mungkin orang dan sebarkan "pengalaman kebaikan" kamu kepada sebanyak mungkin orang. Tulisan maksimal 2 halaman, kirimkan ke e-mail rahimsemesta@gmail.com beserta link blog atau catatan FB kamu. Tulisan diposting dan dikirim ke email kami paling lambat tanggal 31 Agustus 2010. Satu tulisan yang paling "personal" berhak mendapatkan modem HUAWEI seharga IDR 500.000 persembahan dari Wellcomm. Pemenang akan diumumkan tanggal 1 September 2010. :)Ayo, sebarkan kebaikan ini kepada sebanyak mungkin orang. :)
Kepedulian Rahim Semesta
Jumat, 13 Agustus 2010
Setelah Membaca RAHIM
by Ivan Deathlover
Di satu sisi kututup buku ini dngan tersenyum... Novel ini berbicara kebijaksanaan tanpa perlu sok suci... Menjelaskan proses kehamilan tanpa terjebak dalam gaya jurnal ilmiah... Mengajarkan Filsafat kehidupan tanpa membuat kening berkerut
"...Lakukanlah dan buat Raja Semesta bangga." (hal 221) Membaca bagian ini tiba-tiba membuat konsep 'Pahala & Dosa' menjadi seperti 'Permen & Cambuk'... interesting!
Di sisi lain kututup novel ini dengan hati remuk... Aku Ingin Pulang! Mencium tangan ibuku dan memeluk badannya yang takkan pernah menjadi gemuk. Duduk di pusara ayahku...
Sekarang, setelah membaca novel ini, aku hanya bisa duduk... tercenung.
Di satu sisi kututup buku ini dngan tersenyum... Novel ini berbicara kebijaksanaan tanpa perlu sok suci... Menjelaskan proses kehamilan tanpa terjebak dalam gaya jurnal ilmiah... Mengajarkan Filsafat kehidupan tanpa membuat kening berkerut
"...Lakukanlah dan buat Raja Semesta bangga." (hal 221) Membaca bagian ini tiba-tiba membuat konsep 'Pahala & Dosa' menjadi seperti 'Permen & Cambuk'... interesting!
Di sisi lain kututup novel ini dengan hati remuk... Aku Ingin Pulang! Mencium tangan ibuku dan memeluk badannya yang takkan pernah menjadi gemuk. Duduk di pusara ayahku...
Sekarang, setelah membaca novel ini, aku hanya bisa duduk... tercenung.
RAHIM
Resensi
Judul Buku : Rahim
Penulis : Fahd Djibran
Penerbit : Goodfaith Production
Cetakan : Pertama, Juni 2010
Harga : Rp. 60.000,-
Peresensi : Swistien Kustantyana
Jarang sekali kita benar-benar memikirkan apa yang sebetulnya terjadi pada seorang janin di dalam rahim perempuan. Yang kita pedulikan selama ini hanyalah fakta bahwa seorang perempuan yang sedang hamil harus menjaga kesehatannya karena di dalamnya hidup seorang bayi. Kita tak pernah benar-benar berpikir apa yang terjadi di dalam sana.
Namun demikian, seorang Fahd Djibran yang memang sudah terkenal dengan kekritisannya sebagai seorang penulis muda, mampu membukakan mata (hati) kita melalui buku terbarunya yang berjudul RAHIM. RAHIM adalah sebuah buku dongeng yang mengisahkan hidup seorang janin sejak hanya berupa embrio hingga lahir ke dunia. Yang membuat dongeng ini menarik adalah cara penuturannya yang cerdas dengan menyertakan berlapis-lapis cerita melalui beberapa karakter.
Imajinasi penulis patut diacungi jempol dengan munculnya tokoh Dakka Madakka yang berprofesi sebagai Pengabar Berita dari Alam Rahim. Dongeng tentang Dakka sendiri sudah begitu menarik karena dilengkapi dengan pernak-pernik aturan Kerajaan Semesta dan juga kehidupan pribadinya bersama Maria. Kepiawaian penulis dalam berimajinasi terbukti lagi melalui tokoh-tokoh lain seperti Kucing yang Bisa Berbicara, Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki, Amadeus, Aynu si Gadis Buta Penunjuk Jalan, Profesor Waktu, Nenek Olav dan Mahavatara.
Melalui buku ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk lebih menghargai hidup dan memahami kesucian rahim. Dengan bentuk dongeng, diharapkan pembaca akan lebih `nyaman` saat membaca ketimbang disodori khotbah tentang hidup dan rahim. Nantinya, setelah memiliki sebuah pemahaman tentang hidup, janin dan aborsi, diharapkan pembaca akan meneruskan pesan kebaikan yang sudah dimulai oleh sang penulis.
Terlepas dari isi dan pesan sang penulis yang sudah ditulis dengan apik dalam buku ini, RAHIM terkesan `berat` dengan 319 halaman. Ilustrasi yang terlalu banyak justru mematikan imajinasi pembaca. Font yang terlalu besar dan jarak yang begitu renggang dan juga lebar di setiap halaman membuat ketebalan buku ini terkesan dipaksakan. Padahal sampul RAHIM sudah begitu apik. Jika saja font dan spasi tak dipaksakan, malah dibuat minimalis, buku ini akan lebih handy. Orang awam yang tak begitu suka membaca pun tak akan `takut` dengan tebalnya buku ini dan tak akan kuatir dengan harganya yang pasti bisa lebih murah.
Judul Buku : Rahim
Penulis : Fahd Djibran
Penerbit : Goodfaith Production
Cetakan : Pertama, Juni 2010
Harga : Rp. 60.000,-
Peresensi : Swistien Kustantyana
Jarang sekali kita benar-benar memikirkan apa yang sebetulnya terjadi pada seorang janin di dalam rahim perempuan. Yang kita pedulikan selama ini hanyalah fakta bahwa seorang perempuan yang sedang hamil harus menjaga kesehatannya karena di dalamnya hidup seorang bayi. Kita tak pernah benar-benar berpikir apa yang terjadi di dalam sana. Namun demikian, seorang Fahd Djibran yang memang sudah terkenal dengan kekritisannya sebagai seorang penulis muda, mampu membukakan mata (hati) kita melalui buku terbarunya yang berjudul RAHIM. RAHIM adalah sebuah buku dongeng yang mengisahkan hidup seorang janin sejak hanya berupa embrio hingga lahir ke dunia. Yang membuat dongeng ini menarik adalah cara penuturannya yang cerdas dengan menyertakan berlapis-lapis cerita melalui beberapa karakter.
Imajinasi penulis patut diacungi jempol dengan munculnya tokoh Dakka Madakka yang berprofesi sebagai Pengabar Berita dari Alam Rahim. Dongeng tentang Dakka sendiri sudah begitu menarik karena dilengkapi dengan pernak-pernik aturan Kerajaan Semesta dan juga kehidupan pribadinya bersama Maria. Kepiawaian penulis dalam berimajinasi terbukti lagi melalui tokoh-tokoh lain seperti Kucing yang Bisa Berbicara, Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki, Amadeus, Aynu si Gadis Buta Penunjuk Jalan, Profesor Waktu, Nenek Olav dan Mahavatara.
Melalui buku ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk lebih menghargai hidup dan memahami kesucian rahim. Dengan bentuk dongeng, diharapkan pembaca akan lebih `nyaman` saat membaca ketimbang disodori khotbah tentang hidup dan rahim. Nantinya, setelah memiliki sebuah pemahaman tentang hidup, janin dan aborsi, diharapkan pembaca akan meneruskan pesan kebaikan yang sudah dimulai oleh sang penulis.
Terlepas dari isi dan pesan sang penulis yang sudah ditulis dengan apik dalam buku ini, RAHIM terkesan `berat` dengan 319 halaman. Ilustrasi yang terlalu banyak justru mematikan imajinasi pembaca. Font yang terlalu besar dan jarak yang begitu renggang dan juga lebar di setiap halaman membuat ketebalan buku ini terkesan dipaksakan. Padahal sampul RAHIM sudah begitu apik. Jika saja font dan spasi tak dipaksakan, malah dibuat minimalis, buku ini akan lebih handy. Orang awam yang tak begitu suka membaca pun tak akan `takut` dengan tebalnya buku ini dan tak akan kuatir dengan harganya yang pasti bisa lebih murah.
Langganan:
Postingan (Atom)