Jumat, 09 Juli 2010

A Review of Fahd Djibran's Rahim

Review by Gita Rustifar

Testimoni ini saya buat karena sekali lagi saya 'terhanyut' oleh cerita bang Fahd Djibran dalam karyanya (Rahim) yang baru-baru ini diterbitkan. Topik orang tua entah kenapa selalu menyentil hati saya, saya akan mudah sekali berkaca-kaca (bahkan menangis) tiap kali topik ini dibahas. Ayah dan Ibu, atau biasanya saya memanggil mereka Papah dan Mamah. Tak ada yang khusus tentang mereka, tetapi tentu saja itu tak mengurangi nilai mereka sebagai orang tua. Nilai sempurna selalu ditujukan untuk mereka. Orang tua terbaik untuk saya.

Membaca novel berjudul Rahim ini membuat saya seolah ikut serta berpetualang menjadi seorang fetus. Tumbuh dan berkembang di suatu rumah bernama Alam Rahim. Merasakan apa yang mungkin orang tua saya rasakan ketika menunggu saya lahir ke dunia.
Saya seorang perempuan dan belum menikah, membaca novel ini mengingatkan banyak hal tentang betapa hebatnya menjadi orang tua. Pada saatnya nanti (insya Allah) saya akan memiliki anak-anak yang bersemayam dalam rahim saya. Saya, seorang anak dari ayah dan ibu saya, juga akan menjadi seorang ibu. Inilah suatu siklus kehidupan, dimana setiap detiknya harus kita syukuri.

Dua bab dari novel ini menguras air mata saya, bab berjudul Ibu dan satunya lagi Ayah. Saya menangis mengingat betapa saya tak cukup pantas menjadi anak dari mereka. Hal ini sempat membuat saya bertanya-tanya apakah pernah terlintas di pikiran mereka penyesalan terhadap kelahiran saya, seorang anak yang begitu sering melawan, acuh tak acuh, dan menyusahkan. Sungguh saya sangat bersyukur mereka masih ada untuk saya, masih dengan begitu tulus melakukan apapun yang terbaik bagi saya.

Izinkan saya mengutip sebagian kalimat dari novel tersebut :

Ibuku, tentang sikapku, tentang salahku, tentang sifatku, dan segala hal dalam hidupku yang bersinggungan denganmu, terima kasih dan maaf. Kaulah kecintaanku, perempuan yang akan kusayangi sampai aku mati.


Untuk Mamah, Papah...terima kasih atas segala bentuk cinta yang tiada henti kalian curahkan dan maaf mengingat anakmu ini masih terus menyusahkanmu. Peluk dan cium untuk orang tuaku, semoga Allah senantiasa melimpahkan berkahnya kepada kalian...

P.S. Terima kasih kepada bang Fahd Djibran yang dengan begitu uniknya mengemas suatu dongeng kehidupan menjadi 'sentilan' manis bagi tiap-tiap kita, seorang anak yang pada saatnya nanti akan menjadi orang tua. MATIKAN MATAMU, NYALAKAN HATIMU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar