Kamis, 08 Juli 2010

Zunaira, Jagalah --[Rahim]-- Ini Baik-Baik, Demi Masa Depan Kita

Review by Indra J. Santoso

Bogor| 8 Juli 2010


Untuk Zunaira,
Wanita yang memiliki telaga cinta,
Membilas dahaga dari kejauhan.

Sayangku,
Sahabatku yang satu ini selalu penuh dengan kejutan. Melakukan penalaran diluar keterbiasaan budaya kita semua. Namun kita semua tidak akan menolak pesan baik ini seperti apa-apa yang biasa terjadi di negara tropis ini. Pro-kontra, anarkisme dan segala tingkah laku yang memancing emosi dengan gaya yang menggelak tawa, para tubuh besar berusia dewasa dengan kelakuan anak TK.

Cintaku,
Sahabatku ini menitipkan pesan kebaikan untuk semuanya. Semua umat manusia di dunia. Tidak sepihak pada gender tertentu. Tidak serta merta pada manusia saja. Semuanya. Tanpa pandang bulu. Ia menitipkan pesan luar biasa. Pesan kebaikan.

Siang tadi, tepatnya pukul 2 siang pada hari ini 8 Juli 2010, Fahd "datang" ke tempatku berteduh. Ia tiba seraya mengucapkan salam. Salam kebaikan untuk semesta alam. Kusapa ia. Kami berpelukan seolah lama sekali tak berjumpa. Kupersilahkan ia masuk. Lalu kujamu sebaik-baiknya jamuan kepada para tamu. Itulah yang diajarkan sang pembawa pesan kepadaku. Kami berbincang cukup lama. Kurang lebih selama 316 menit aku menjadi seorang ‘pendengar’.

Pendengar?
Ya, p-e-n-d-e-n-g-a-r. Karena ia mendongeng. Ia bercerita tentang sebuah kebaikan. Ia bercerita tentang keluarga kecil yang baru saja dibentuknya. Formasi awal sebuah tim. Bersama istrinya ia merancang sebuah kehidupan masa depan yang bahagia. Bahu membahu merancang sang arsitek di dunia yang berbeda. Namun, ternyata dalam prosesnya ia menemukan hal besar. Jauh lebih besar daripada sebuah impian di masa depan. Ia menemukan sebuah semesta kecil dan semesta raksasa. Ya. Aku bergetar ketika mendengarnya bercerita. Semesta kecil yang seolah menjadi hal biasa. Dan semesta raksasa yang kita membutakannya.

Kekasih Hatiku,
Fahd mendongeng panjang lebar, tanpa henti kecuali sesekali waktu untuk menegak segelas air minum yang telah kusajikan. Maklum, ia pun manusia yang mampu haus. Aku mendengarkannya dengan seksama, memasang kedua daun telinga ini lekat-lekat. Sesekali aku memicingkan mata, menaikkan alis mata kananku, kaget, tersenyum, sedih, prihatin dan malu. Ia mengekspresikannya begitu mendalam, begitu syahdu. Sehingga yang ada di bayanganku terlintas dua generasi: Orang Tua kita dan masa depan kita.

Fahd meledek kita, sayang... Ia menantang kapan kita saling bertukar cincin. Kapan aku berbicara sungguh-sungguh kepada orang tuamu. Ia menantang kapan aku menjadi seorang laki-laki yang benar-benar laki-laki. Ia meledek kita.

Muara Hatiku,
Fahd, menitipkan pesan baik ini padaku. Dan aku menyampaikan ini kepadamu salah satunya. Karena kamu telah merantai hatiku. Mau tak mau kau harus kuberitahu. Pesan ini adalah pesan sederhana. Tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Tiap jam, menit dan detik hal itu selalu ada bersama. Apalagi dirimu yang diberi kuasa untuk menyimpannya. Kau bahkan tidak pernah terlepas dari itu. Kau selalu membawanya kemana-mana. Layaknya mushaf yang selalu siap segera untuk dilantunkan ayat-ayatnya. Tidak jauh dari tasbih-tasbihmu padanya yang mengalir dari kerongkongan. Jauh, jauh lebih dalam daripada itu. Memang itu dunia kecil kasat mata. Namun itu menyimpan jutaan hingga milyar dan bilyunan arti di dalamnya.

Rinduku,
Kita semua merindukan masa-masa itu. Masa-masa dimana kita merasa hangat, tanpa penat. Dunia kecil itu bermula dari sebuah kenyamanan. Kita tidak perlu repot-repot mengemis dan meminta. Karena kita akan diberi secara cuma-cuma. Kita tertidur pulas. Kalaupun ada yang mengganggu, dua orang yang sangat mencintai kita langsung menghadang dan memberi perlindungan. Mereka menjaga kita baik-baik, tak hanya si pemilik tempat dimana kita bernaung, melainkan mereka berdua. Orang-orang biasa yang berjuang luar biasa. Mereka rela melepas nyawa demi keberadaan kita. Tanpa pernah diminta, mereka adalah pahlawan sesungguhnya. Bukan tokoh-tokoh buatan yang beredar di layar datar dengan efek yang dahsyat luar biasa. Karena pada akhirnya tokoh-tokoh pujaan kita pun akan meminta pamrih, minimal berupa pujian. Sedangkan mereka berdua tidak. Tidak pernah. Bahkan mereka selalu kita sakiti. Kita khianati. Kita beri duri. Mereka rindu. Rindu ketika dulu kita memohon perlindungan pada mereka. Rindu akan masa-masa dimana kita masih ada di dalam sana. Di tempat mungil berjuta makna. Tempat atas segala ridho Illahi. Rahim.

Penatku,
Mungkin selama sembilan bulan sepuluh hari membuat kita penat. Kita hanya mampu tertidur dan sedikit bergerak di ruang yang sempit itu. Kita ingin segera bebas. Ingin menikmati hak-hak kita yang –katanya—indah bila kita mampu memanfaatkannya. Dan kita merasa hak kita adalah berada diluar ruangan itu. Kita merasa itu adalah pilihan paling baik. Dan bila itu terjadi, “MATIKAN MATAMU, NYALAKAN HATIMU”. Kalimat itu Fahd tekankan pada pertengahan penghabisan dari total dongengnya, menit 156!

...
Tak semua jalan yang terlihat akan membawamu pada jalan yang benar. Kadang jalan yang benar adalah jalan yang tak terlihat oleh matamu. Jangan biarkan matamu yang memutuskan kemana kau akan pergi, biarkanlah hatimu yang memutuskan kemana kau ingin pergi. Penampakan adalah kilasan dari yang tidak jelas.
....


Calon Ibu dari anak-anakku,
Aku teringat lagu Sherina Munaf ketika ia masih menikmati masa kanak-kanaknya. Judulnya “Andai Aku Besar Nanti”.

Andai aku tlah dewasa apa yang akan kukatakan untukmu idolaku tersayang, ayah
Andai usiaku berubah kubalas cintamu bunda, pelitaku, penerang jiwaku dalam setiap waktu

Oho Kutau kau berharap,
dalam doamu...

kutau kau berjaga,
dalam langkahku...

kutau kau slalu cinta,
dalam senyummu...

oh tuhan kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku.

Andai aku tlah dewasa ingin aku persembahkan semurni cintamu setulus kasih sayangmu kau slalu kucinta.


Apakah anak-anak kita nanti akan berkata sedemikian indahnya pada kita? Bersenandung lagu Sherina di kamarnya dalam perutmu. Salto, sirkus, meninju dan lain sebagainya. Akankah kita masih berharga dimata mereka? Kita yang menua. Kita yang beruban. Kita yang membuncit. Kita yang peyot. Kita yang bungkuk. Kita yang amat renta. Atau mungkin mereka akan melakukan seperti apa yang pernah kita lakukan kepada kedua orang tua kita masing-masing. Mungkin itupun yang pernah dipikirkan oleh kedua orang tua kita. Mempertanyakan dan mengharapkan yang indah-indah atas apa yang akan kita beri selaku bentuk pengabdian dan balas jasa padanya. Padahal, dulu –sebelum kita benar-benar tahu diri kita—mereka sering memperdebatkan siapa kita (saking pedulinya!!!)
Kalau tidak salah dimenit yang ke-52. Ia bercerita seperti ini:

....
“Mas, kira-kira nanti anak kita laki-laki atau perempuan, ya?” Ibumu mulai menebak-nebak jenis kelaminmu kelak.
“Hmmm, laki-laki atau perempuan, ya? Feeling-ku sih laki-laki, deh!” kata Ayahmu sambil tersenyum.
“Kira-kira mau dikasih nama siapa ya kalau anak kita laki-laki?”
“Hehe... Siapa, ya, Sayang?” Kalau laki-laki aku pengin ada nama’Mikail’-nya.”
“Hihi... Bagus juga, Mas. Terus, kalau anaknya perempuan namanya siapa?”
“Belum kepikiran sih...Aha! Gimana kalau Mikaila?” kata Ayahmu sambil nyengir.
“Eh, lucu juga Mikaila.” Ibumu balas nyengir.
Mereka berdua tertawa lepas.
....

Fahd menceritakan dialog wajib yang tidak akan pernah dilewatkan oleh pasangan manapun di dunia ini. Bahkan –aku sangat yakin—bila Alien itu benar-benar ada, mereka pun pasti berbincang berdiskusi jenis kelamin apa yang ada di alam rahim kecil itu.

Zunaira, bila nanti kamu hamil. Kita usahakan untuk tidak meniru manusia, mempertanyakan jenis kelamin. Biar Sang Raja Semesta yang mengurusnya, melalui buku besar-Nya :p

Mantan Pacarku,
Nanti kita harus kompak! Bergantian untuk terjaga. Berbagi tugas yang kita bebankan sama rata. Waktu itu kau berkata bahwa setiap subuh ia harus diperdengarkan murottal. Baiklah. Apapun itu, kau lebih tahu apa yang terbaik untuk tabungan masa depan kita itu. Karena kamu tahu, dunia kita berbeda. Sangat jauh berbeda. Sama halnya seperti kedua orang tua kita. Ayahmu keturunan bangsawan. Sedangkan ayahku hanyalah seorang pengumpul kayu bakar sebelum berangkat sekolah di pedalaman gunung di daerah Jawa Timur. Kamu adalah keturunan pembawa Islam. Sedangkan aku keturunan Kejawen tulen, perpaduan Islam-Hindu-Budha.

Teman Hidupku,
Banyak hal yang Fahd dongengkan dalam per-tamu-annya pada hari itu. Ia berbagi ilmu dan cinta. Ia menebar fakta yang mencengangkan!!

...
Terlalu banyak kematian yang kami dengar di Alam Rahim, terlalu banyak kesedihan. Bahkan bila kau berkilah bahwa aborsi bisa saja terjadi karena kecelakaan atau kau terpaksa dilakukan karena pertimbangan kesehatan, kau tetap menciptakan kematian, menciptakan kesedihan—setidaknya bagi penduduk Kerajaan Alam Rahim.

Dan pada saatnya nanti, mungkin kau akan memiliki seorang anak yang bersemayam di rahim suci perempuanmu... Bila saat itu datang, apa pun alasanmu, kumohon jangan biarkan para penghuni Kerajaan Alam Rahim bersedih dan terluka lagi; jangan sekalipun kau berpikir untuk menggugurkan kandungannya atau malah melakukannya. Jangan menodai kesucian rahim perempuanmu. Jangan lakukan itu. Kumohon.

Asal kau tahu, Rahim adalah nama lain dari Raja Semesta.
(menit 241-242)
...


Zunaira,
Ini adalah paragraf terakhir yang kutuliskan untuk surat ini. Surat pengabar berita kebaikan. Sebaiknya kamu baca sendiri selanjutnya di lampiran ini. Dongeng Si Juru Dongeng yang tlah dimampatkan dalam kemasan yang bagus dan berwarna penuh dengan gambar-gambar. Dan aku akan mendongengkan dongeng Si Juru Dongeng kepada yang lainnya.

Jagalah rahimmu baik-baik hingga aku menitipkan kehidupan disana, hingga kita membangun kerajaan kecil disana

--Kau tahu, sebenarnya kelahiran hanyalah nama bagi peralihanmu dari Alam Rahim ke Alam Dunia. Kau tidak dilahirkan dalam pengertian yang sebenarnya. Kau hanya mengalami peralihan, dari rahim Ibumu menuju rahim yang lebih besar lagi; Rahim Semesta— (309)


Kekasihmu yang setia menanti,

Al

Tidak ada komentar:

Posting Komentar